Kentang menjadi salah satu bahan makanan yang cukup sering ditemukan di dapur. Namun, baru-baru ini muncul kabar mengenai pasangan WNI di Jepang yang diduga meninggal setelah mengonsumsi kentang bertunas.

Kasus tersebut kembali mengingatkan bahwa kentang yang mengalami perubahan tertentu perlu diperhatikan sebelum dikonsumsi.

Kandungan Kentang

Dilansir dari laman Universitas IPB (16 Juni 2025), kentang secara alami mengandung senyawa glikoalkaloid, terutama solanin dan chaconine.

Dalam jumlah tinggi, senyawa tersebut dapat menyebabkan keracunan. Konsentrasinya dapat meningkat ketika kentang terpapar cahaya, mengalami kerusakan, atau mulai bertunas.

Dr. Andi Early Febrinda, dosen supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, menjelaskan bahwa solanin dapat ditemukan pada sejumlah bagian tanaman kentang, terutama bagian tunas.

Solanin dapat ditemukan di daun, kulit, daging umbi, dan terutama tunas,”

ujarnya.

Ciri Kentang Beracun

Seperti apa ciri-ciri kentang yang perlu diwaspadai? Berikut penjelasannya:

  1. Kentang Mulai Bertunas. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah munculnya tunas atau kecambah pada kentang. Tunas terbentuk ketika kentang mulai mengalami proses pertumbuhan kembali dan kandungan glikoalkaloid pada bagian tersebut dapat meningkat. Andi menjelaskan bahwa kandungan solanin dapat meningkat akibat penyimpanan yang tidak tepat, termasuk paparan cahaya matahari dalam waktu lama. Pada kentang yang sudah terlanjur bertunas, proses merebus atau menggoreng tidak dapat membuat kentang menjadi aman dikonsumsi.
  2. Kulit Berubah Menjadi Hijau. Bagian yang berwarna hijau umumnya memiliki konsentrasi glikoalkaloid lebih tinggi dibandingkan bagian lainnya. Karena itu, kentang yang memiliki warna hijau dalam jumlah cukup banyak sebaiknya tidak dikonsumsi.
  3. Rasanya Pahit. Kentang dengan kadar solanin tinggi dapat memiliki rasa pahit. Karena itu, jika kentang yang sudah dimasak terasa sangat pahit atau memiliki rasa yang tidak biasa, sebaiknya jangan diteruskan untuk dikonsumsi.
  4. Mengalami Kerusakan atau Membusuk. Kentang yang sudah lembek, berubah warna secara luas, berjamur, atau mengeluarkan bau menyengat juga sebaiknya tidak dikonsumsi. Kentang yang sudah mengalami kerusakan menunjukkan bahwa kualitasnya telah menurun dan dapat memiliki risiko keamanan pangan lainnya.

Gejala Keracunan Kentang

Mengonsumsi kentang dengan kadar glikoalkaloid tinggi dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, kram perut, diare, dan rasa terbakar di mulut.

Pada kondisi yang lebih berat, keracunan dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf dan kondisi serius lainnya.

Menghilangkan Racun

Kentang bertunas atau berwarna hijau tidak serta-merta menjadi aman hanya karena sudah dimasak. Andi menjelaskan bahwa proses seperti merebus, menggoreng, maupun memanggang tidak efektif untuk menghilangkan kadar solanin yang tinggi.

Bahkan, ia menyebutkan bahwa penelitian menunjukkan proses perebusan hanya mengurangi kandungan solanin dalam jumlah yang sangat kecil.

Karena itu, cara paling aman bukan mengandalkan proses memasak, melainkan memilih kentang yang kondisinya masih baik sejak awal.

Cara Menyimpan

Kentang sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk, kering, dan gelap serta dijauhkan dari paparan cahaya secara langsung. Hindari pula meletakkan kentang di dekat sumber panas. Periksa kondisi kentang secara berkala dan pisahkan kentang yang sudah mulai rusak dari kentang lainnya.

Jika kentang sudah banyak bertunas, berwarna hijau, terasa pahit, atau menunjukkan tanda kerusakan lainnya, lebih baik tidak dikonsumsi daripada mengambil risiko.