Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 25 provinsi di Indonesia yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari dan menjadi salah satu indikasi kekeringan akibat dampak El Nino yang sangat kuat.
“Banyak lokasi pengamatan yang sudah melaporkan hari tanpa hujan berurutan lebih dari 60 hari, yaitu tersebar di 25 provinsi. Hari tanpa hujan terpanjang saat ini di wilayah Bantul yaitu sepanjang 131 hari atau lebih dari empat bulan,”
kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan di Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Dasarian I September 2026, HTH ekstrem lebih dari 60 hari terjadi di wilayah Lampung, sebagian besar wilayah Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.
Wilayah-wilayah tersebut termasuk daerah yang mengalami kondisi atmosfer relatif kering selama musim kemarau. BMKG juga mencatat kekeringan meteorologis terjadi di sejumlah wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sementara itu, HTH terpanjang tercatat di Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, dengan durasi mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Masih Kering
Secara nasional, BMKG mencatat 556 zona musim (ZOM) atau 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau.
Dalam pemantauan BMKG hingga 10 September 2026, terdapat 1.637 titik pengamatan yang mengalami HTH lebih dari 60 hari. Selain itu, 872 titik mengalami HTH selama 31-60 hari. Kemudian, 384 titik lainnya mengalami HTH selama 21-30 hari.
BMKG juga mencatat hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, serta Papua.
Ardhasena menjelaskan El Nino secara historis memang membuat musim kemarau di Indonesia lebih kering dan panjang, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.
Fenomena El Nino 2026 bahkan berdampak pada sejumlah wilayah yang secara klimatologis memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun.
“Secara klimatologis Indonesia memiliki 110 zona musim atau 33 persen dari luas daratan yang karakteristik iklim adalah musim hujan sepanjang tahun. Namun, untuk 2026 ini, 98 zona musim mengalami musim kemarau karena dampak anomali hujan lebih rendah akibat El Nino,”
ujar Ardhasena.
Potensi
BMKG memprediksi El Nino masih bertahan setidaknya hingga akhir kuartal I 2027. Namun, dampaknya terhadap kekeringan di Indonesia akan berkurang ketika memasuki musim hujan.
BMKG memprediksi musim hujan 2026-2027 datang secara bertahap mulai November, Desember, dan Januari 2027.
Jadi sejumlah wilayah yang saat ini masih mengalami kemarau panjang, berpotensi untuk menghadapi kondisi kering sebelum musim hujan datang secara bertahap mulai November.






