Pernah dengar kalimat seperti, “Harus nurut sama orang tua,” “Sekolah yang benar,” atau “Orang tua pasti tahu yang terbaik untuk anak”? Kalau kamu tumbuh di keluarga Asia, kalimat-kalimat seperti ini mungkin sudah nggak asing lagi.
Pola pengasuhan seperti itu kemudian sering dikaitkan dengan istilah Asian parenting. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola asuh yang berkembang dalam sejumlah keluarga Asia, yang biasanya dekat dengan nilai menghormati orang yang lebih tua, kepatuhan, disiplin, hingga tuntutan agar anak punya prestasi yang baik.
Namun, pengasuhan sebenarnya nggak cuma soal memastikan anak makan dengan cukup, sekolah dengan baik, atau mengikuti aturan di rumah. Cara orang tua merespons perasaan anak, memberikan rasa aman, dan berkomunikasi juga punya peran penting dalam membangun hubungan antara orang tua dan anak.
Disiplin dan Kepatuhan
Dalam sejumlah keluarga Asia, dikutip dari laman Psychology Today pada 11 April 2020, hubungan antara orang tua dan anak cenderung memiliki struktur yang hierarkis. Orang yang lebih tua menempati posisi yang dihormati dan memiliki otoritas lebih besar dalam keluarga.
Karena itu, anak bisa dibiasakan untuk mendengarkan dan menaati keputusan orang tua. Nilai seperti sopan santun, menghormati orang tua, serta mengikuti aturan keluarga menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan.
Pola seperti ini tentu nggak selalu berarti buruk. Disiplin dan aturan tetap bisa membantu anak memahami batasan, tanggung jawab, dan konsekuensi dari perilakunya.
Yang menjadi perhatian adalah ketika kepatuhan menjadi satu-satunya hal yang dianggap penting, sementara perasaan anak justru kurang mendapat ruang.
Kebutuhan Anak
Orang tua tentu punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik anak, mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal, hingga pendidikan. Namun, ketika pengasuhan terlalu berfokus pada kebutuhan tersebut, kondisi emosional anak terkadang bisa luput dari perhatian.
Padahal, anak juga perlu merasa didengar ketika sedang sedih, kecewa, takut, atau marah. Memenuhi kebutuhan emosional bukan berarti orang tua harus selalu menuruti keinginan anak.
Yang lebih penting adalah kemampuan orang tua untuk mengenali emosi anak dan meresponsnya dengan tepat.
Takut Menceritakan Perasaannya
Cara orang tua merespons emosi anak dapat memengaruhi apakah anak merasa aman untuk terbuka atau justru memilih memendam semuanya sendiri.
Ketika anak dimarahi, dipermalukan, atau langsung disalahkan saat menunjukkan emosi, ia bisa belajar bahwa mengungkapkan perasaan bukan sesuatu yang aman.
Misalnya, ketika anak terluka setelah jatuh, orang tua mungkin spontan mengatakan, “Kenapa nggak hati-hati?” Padahal, dalam situasi seperti itu, anak mungkin lebih dulu membutuhkan penghiburan dan rasa aman sebelum diberi tahu tentang kesalahannya.
Kalau pola seperti ini terus terjadi, anak bisa memilih menyimpan masalahnya sendiri karena khawatir akan kembali disalahkan, diremehkan, atau dianggap berlebihan.
“Seen, Soothed, Safe, Secure”
Terapis Sam Louie, MA, LMHC, CSAT, menyoroti kebutuhan emosional anak dalam hubungan dengan orang tua atau pengasuh melalui empat hal, yaitu seen, soothed, safe, dan secure.
1. Seen
Anak merasa orang tua mampu melihat dan memahami kondisi emosionalnya. Misalnya, orang tua bisa mengenali ketika anak sedang kecewa, sedih, takut, atau marah.
2. Soothed
Anak tahu bahwa orang tua bisa menjadi tempat untuk mendapatkan ketenangan ketika sedang menghadapi tekanan emosional maupun fisik. Bentuknya bisa berupa kata-kata yang menenangkan, perhatian, atau sentuhan fisik.
3. Safe
Anak merasa aman untuk menunjukkan emosinya. Ia tahu bahwa dirinya bisa bercerita tanpa takut ditertawakan, direndahkan, atau langsung disalahkan.
4. Secure
Anak memiliki hubungan yang konsisten dan penuh kasih dengan orang tua. Dari pengalaman tersebut, anak membentuk gambaran bahwa orang tua merupakan sosok yang bisa diandalkan ketika ia membutuhkan dukungan emosional.
Validasi Bukan Berarti Menuruti
Memberikan ruang untuk emosi anak bukan berarti orang tua harus membiarkan semua perilakunya.
Anak tetap boleh merasa kecewa atau marah ketika orang tua mengatakan “tidak”. Misalnya, orang tua melarang anak bermain karena sudah waktunya belajar. Anak mungkin saja merasa kesal, dan perasaan tersebut tetap bisa diakui tanpa harus membuat aturan dibatalkan.
Orang tua bisa mengatakan bahwa mereka memahami anak sedang kecewa, sambil tetap menjelaskan alasan di balik aturan tersebut.
Dengan begitu, percakapan nggak berhenti pada kalimat “Pokoknya harus nurut”, tetapi memberi kesempatan kepada anak untuk memahami emosinya sekaligus belajar tentang batasan.
Sesuaikan dengan Kondisi
Asian parenting juga nggak bisa disederhanakan sebagai satu pola pengasuhan yang berlaku sama untuk semua keluarga Asia. Setiap keluarga tentu punya nilai, kebiasaan, budaya, dan cara berkomunikasi yang berbeda.
Namun, pembahasan mengenai Asian parenting bisa menjadi pengingat bahwa pengasuhan bukan hanya tentang memastikan anak tumbuh dengan baik secara fisik atau mengikuti aturan. Anak juga perlu merasa didengar, aman, dipahami, dan dicintai.
Sebab, mengajarkan anak untuk menghormati orang tua memang penting. Tapi di saat yang sama, anak juga perlu tahu bahwa ketika sedang sedih, takut, kecewa, atau marah, rumah tetap menjadi tempat yang aman untuk bercerita.







