Kasus tiga anak dalam satu keluarga di Desa Gandu, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang meninggal dunia secara beruntun menjadi perhatian karena terjadi setelah ketiganya mengalami sejumlah gejala kesehatan. 

Epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan, pola kematian dalam satu rumah tangga tersebut dapat mengarah pada dugaan klaster penyakit infeksi, tetapi penyebab pastinya belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar. 

Pola klaster dalam satu rumah tangga memang mengarah pada kemungkinan sumber penularan bersama atau common source, baik dari makanan, air, maupun paparan tertentu,”

kata Dicky dalam keterangan yang diterima Owrite, Rabu, 23 September 2026.

Bisa juga dari lingkungan, kontak dengan hewan atau vektor, ataupun penularan antarangota keluarga jika penyebabnya merupakan infeksi saluran pernapasan,”

sambungnya.

Ketiga anak tersebut masing-masing berusia 6 tahun, 4 tahun, dan 10 bulan. Sebelum meninggal, mereka dilaporkan mengalami demam tinggi, batuk, pilek, lemas hingga kejang. 

Dua anak sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Cideres, sedangkan anak bungsu menjalani perawatan di ruang ICU sebelum akhirnya meninggal dunia.

Menurut Dicky, keberadaan anggota keluarga lain yang mengalami gejala serupa, seperti demam, batuk, pilek, mual, dan pegal, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam investigasi kasus tersebut.

Namun, Dicky mengingatkan agar kasus tersebut tidak langsung disebut sebagai infeksi virus tertentu. Dinas Kesehatan Majalengka bersama Puskesmas Balida telah mengambil sampel swab dari anggota keluarga pada Selasa, 22 September 2026, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil laboratorium masih diperlukan untuk memastikan penyebab kondisi kesehatan tersebut.

Judul yang mengatakan diduga terinfeksi virus itu sendiri masih merupakan hipotesis, bukan diagnosis. Sampai ada konfirmasi patogen, sebaiknya kita tidak menyebut kasus ini sebagai Influenza A atau virus tertentu,”

ujarnya.

Dicky menjelaskan, gejala demam tinggi yang disertai kejang pada anak memiliki sejumlah kemungkinan diagnosis. 

Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan influenza, tetapi juga dapat disebabkan oleh meningitis atau ensefalitis akibat virus maupun bakteri, hingga sepsis atau infeksi bakteri yang menyebar ke aliran darah.

Kemungkinan lain yang juga perlu diperhatikan, kata dia, adalah difteri atau pertusis berat serta influenza berat dengan komplikasi yang dapat memengaruhi otak, meski kondisi tersebut relatif jarang.

Dengan adanya kejang, kemudian terjadi perburukan cepat dan sampai membutuhkan ICU, diagnosis banding seperti meningitis, ensefalitis, sepsis, maupun infeksi lainnya perlu disingkirkan. Jadi tidak cukup langsung menyimpulkan ini sebagai influenza atau infeksi virus tertentu,”

tuturnya.

Menurut Dicky, investigasi terhadap klaster tersebut juga sebaiknya tidak hanya berfokus pada pemeriksaan swab pernapasan. 

Dinas Kesehatan dan fasilitas kesehatan perlu melakukan pelacakan kontak serta melihat kemungkinan sumber paparan lain di lingkungan keluarga.

Investigasi klaster ini harus mencakup pelacakan kontak, pemeriksaan lingkungan rumah tangga, sumber air, riwayat kontak dengan hewan, dan riwayat imunisasi anak. Jadi bukan hanya swab pernapasan, supaya diagnosis banding non-influenza juga ikut tertelusuri,”

ucapnya.

Dicky menilai hasil laboratorium juga perlu dikomunikasikan secara terbuka setelah tersedia. Langkah tersebut penting agar informasi mengenai penyebab kasus tidak diisi oleh spekulasi atau misinformasi di media sosial.

Sampai ada konfirmasi patogen apa pun penyebabnya, cukup dilaporkan sebagai klaster kematian anak dengan gejala demam dan kejang yang sedang diselidiki, dengan sampel yang sudah diambil,”

jelasnya.

Framing yang prematur berisiko menimbulkan kepanikan berlebihan atau sebaliknya membuat masyarakat menganggapnya hanya seperti flu biasa,”

terangnya.

Ia menekankan, kasus tiga anak yang meninggal beruntun memiliki tingkat keseriusan yang berbeda dengan sekadar peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada tanpa panik, terutama keluarga yang memiliki balita.

Orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika demam disertai kejang, anak tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan, mengalami penurunan kesadaran, menolak minum atau menyusu, bernapas cepat atau sesak, mengalami tarikan dinding dada, demam tinggi lebih dari tiga hari tanpa perbaikan, atau muncul ruam yang tidak hilang ketika ditekan.