Anak tiba-tiba menangis meraung-raung di supermarket, berteriak-teriak di tempat ramai, atau menutup telinga ketika mendengar suara bising?

Banyak orang tua mungkin langsung mengira anak mereka sedang tantrum. Padahal, perilaku ini bisa saja muncul karena anak sudah terlalu kewalahan dengan kondisi di sekitarnya.

Ada tiga kondisi yang sering bikin orang tua salah paham, karena sekilas memang terlihat mirip, yakni tantrum, overload, dan meltdown. Meskipun tampak mirip, ketiganya ternyata membutuhkan respons yang berbeda-beda.

Psikolog Altier of Mind (AoM) Diah Cahyaningrum meminta agar orang tua terlebih dahulu melihat pemicu dan kondisi anak sebelum memberikan respons.

Yang terlihat oleh orang tua adalah perilakunya. Tetapi sebelum merespons, kita perlu melihat apa yang terjadi sebelumnya, apa pemicunya, dan apakah anak masih mampu mengendalikan respons,”

ujar Diah dalam keterangan tertulis, pada Jumat, 25 September 2026.

Lalu, bagaimana cara membedakannya?

Tantrum, Ada Keinginan

Tantrum umumnya muncul karena anak menginginkan sesuatu tetapi tidak mendapatkannya. Contohnya ketika anak menangis karena tidak dibelikan mainan, marah saat diminta berhenti bermain, atau kesal karena waktu menonton televisi sudah habis.

Tapi bisa juga anak menangis karena tengah lapar, mengantuk, lelah, atau tidak enak badan, ini juga bisa membuat anak lebih mudah meledak secara emosional.

Overload, Anak Sudah Terlalu Penuh

Berbeda dengan tantrum, overload terjadi ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan atau tuntutan dalam waktu bersamaan.

Suara bising, cahaya terang, keramaian, sentuhan, perubahan aktivitas, hingga terlalu banyak informasi ternyata bisa membuat anak kewalahan.

Terapis Okupasi AoM Dwi Ayu Nur Komariyah mengatakan rangsangan tertentu ternyata dapat terasa jauh lebih intens bagi sebagian anak.

Suara, cahaya, keramaian, atau tuntutan tertentu bisa terasa jauh lebih intens,”

kata Dwi.

Tanda yang bisa terlihat antara lain anak mulai gelisah, menutup telinga, menjauh dari keramaian, atau mencari tempat yang lebih tenang.

Meltdown, Anak Kehilangan Kendali

Meltdown bisa terjadi ketika kondisi kewalahan tersebut sudah mencapai puncaknya. Anak bisa saja menangis, berteriak, memukul, menggigit, melempar barang, bahkan mencoba melarikan diri.

Pada kondisi ini, anak bukan lagi sekadar sedang “ngambek”. Ia bisa saja kesulitan mengendalikan respons karena sudah terlalu kewalahan.

Karena itu, memberikan banyak pertanyaan atau meminta anak segera berhenti justru bisa membuat situasi semakin sulit.

Butuh Treatment Berbeda-beda

Saat menghadapi tantrum, orang tua bisa tetap tenang dan membantu anak memahami keinginannya setelah emosinya mereda.

Sementara ketika anak mengalami meltdown, hal pertama yang harus diperhatikan yaitu keselamatan.

Orang tua juga bisa mulai mengurangi suara dan rangsangan di sekitar anak. Serta menghindari memberikan terlalu banyak instruksi dan berikan waktu untuk menenangkan diri.

Bisa juga berikan kalimat penenang sederhana seperti “Kamu aman” atau “Ibu/Ayah ada di sini” untuk menunjukkan bahwa anak tidak sendirian.

Berhenti Nangis Bulan Selesai

Setelah ledakan emosi berhenti, jangan langsung memaksa anak kembali beraktivitas. Anak yang sudah diam bisa jadi sangat lelah secara fisik dan emosional. Sebaiknya lakukan langkah pemulihan pasca-kejadian:

1. Berikan waktu istirahat dan kurangi beban tuntutan.

2. Ajak melakukan aktivitas sederhana yang familier.

3. Evaluasi pemicunya, apakah anak kurang tidur, terlambat makan, atau terlalu lama di tempat ramai?

4. Catat pola kejadian untuk membantu memahami kebutuhan anak di masa depan.

Jadi jangan cepat-cepat memvonis anak yang nangis atau teriak-teriak dengan tantrum. Tangisan dan teriakan anak memang bisa terlihat mirip, tetapi penyebabnya belum tentu sama.

Dengan melihat pemicu dan kondisi anak sebelum bereaksi, orang tua bisa memberikan respons yang lebih sesuai.

Sebab, yang dibutuhkan anak saat sedang kewalahan bukan selalu nasihat atau larangan, tetapi orang dewasa yang mampu membantu mereka merasa aman dan tenang.