Punya makanan sisa setelah makan? Jangan buru-buru dibuang. Menyimpannya di kulkas memang bisa menjadi cara praktis untuk memperpanjang masa simpan sekaligus mengurangi pemborosan pangan.
Tapi, bukan berarti setelah masuk kulkas makanan otomatis aman dikonsumsi kapan saja.
Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, SKM, MKM, mengatakan keamanan makanan sisa sangat bergantung pada cara pendinginan, suhu penyimpanan, lama penyimpanan, hingga proses pemanasan kembali.
Memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Bakteri tidak mati di dalam kulkas. Kulkas pada suhu sekitar 1–4°C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan mensterilkan makanan,”
ujar Rosyda dalam keterangan resmi.
Karena itu, cara menyimpan makanan sisa tetap perlu diperhatikan agar makanan tidak justru menjadi sumber penyakit bawaan makanan atau mengalami penurunan kualitas.
Jangan Biarkan Makanan Lama di Suhu Ruang
Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah berapa lama makanan berada di suhu ruang. Makanan yang mudah rusak sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama sebelum disimpan di dalam kulkas.
Rosyda mengingatkan masyarakat untuk menghindari temperature danger zone, yakni rentang suhu 5–60°C yang memungkinkan mikroorganisme berkembang lebih cepat.
Untuk mempermudah penerapannya, Rosyda menyarankan prinsip “2-4-74”. Artinya, makanan mudah rusak tidak dibiarkan lebih dari dua jam pada suhu ruang, disimpan pada suhu sekitar 4°C atau lebih rendah, kemudian dipanaskan kembali hingga sekitar 74°C secara merata.
Keamanan pangan tidak berarti semua makanan sisa harus langsung dibuang. Perencanaan penyimpanan yang baik justru dapat membantu mengurangi food waste,”
katanya.
Makanan Sisa Umumnya Aman 3–4 Hari
Selain suhu, lama penyimpanan juga menjadi kunci. Secara umum, makanan matang yang disimpan pada suhu 4°C atau lebih rendah dianjurkan untuk dikonsumsi dalam waktu 3–4 hari.
Namun, beberapa makanan membutuhkan perhatian lebih. Nasi dan pasta matang, misalnya, berpotensi berkaitan dengan spora Bacillus cereus. Karena itu, makanan tersebut tetap perlu ditangani dengan benar sejak proses pendinginan hingga saat dikonsumsi kembali.
Masyarakat juga disarankan tidak menyimpan makanan dalam wadah yang terlalu besar dan terlalu dalam. Wadah sebaiknya ditutup dengan baik agar makanan terlindungi dan risiko kontaminasi dapat dikurangi.
Selain itu, makanan matang perlu dipisahkan dari bahan pangan mentah untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
Jangan Terlalu Sering Reheating
Cara memanaskan makanan kembali juga nggak boleh disepelekan. Makanan sisa yang hendak dikonsumsi sebaiknya dipanaskan hingga sekitar 74°C secara merata.
Terlalu sering melakukan reheating juga perlu dihindari karena proses penyimpanan dan pemanasan dapat memengaruhi sejumlah zat gizi. Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B kompleks, relatif sensitif terhadap panas dan oksidasi.
Sementara itu, lemak, terutama asam lemak tak jenuh, dapat mengalami oksidasi jika makanan disimpan dalam wadah yang tidak tertutup dengan baik.
Di sisi lain, makanan berkarbohidrat seperti nasi, kentang, dan pasta dapat mengalami perubahan pati ketika didinginkan.
Sebagian pati menjadi lebih sulit dicerna sehingga berpotensi membantu mengendalikan kenaikan gula darah dan mendukung kesehatan pencernaan, selama makanan tetap disimpan dengan baik dan tidak terkontaminasi mikroorganisme.
Dengan menerapkan prinsip 2-4-74, makanan sisa tetap bisa dimanfaatkan tanpa mengabaikan keamanan pangan. Kulkas memang membantu memperpanjang masa simpan, tetapi cara menyimpan dan mengolah kembali makanan tetap menjadi faktor penting.
Simpelnya, jangan menganggap kulkas sebagai tombol “pause” untuk makanan. Tetap perhatikan suhu, waktu, wadah, dan cara memanaskannya kembali.







