Pernah kepikiran nggak, kenapa penggunaan AI ternyata bisa berkaitan dengan air? Padahal dari sisi pengguna, kita cuma mengetik pertanyaan, menekan tombol kirim, lalu beberapa detik kemudian jawaban muncul di layar.
Di balik proses yang terlihat sederhana itu, sebenarnya ada sistem komputasi yang cukup kompleks. Ribuan chip di data center bekerja memproses permintaan pengguna.
Chip-chip tersebut membutuhkan listrik dan menghasilkan panas, sehingga harus didinginkan agar tetap bisa beroperasi.
Lantas, apa hubungannya semua proses tersebut dengan air yang kita gunakan sehari-hari?
Kenapa AI Membutuhkan Air?
Melansir akun Instagram Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Zulys, @prof.zulys, AI sebenarnya tidak secara langsung “meminum” air setiap kali kita mengirim prompt.
Air dibutuhkan oleh infrastruktur data center yang menjalankan proses komputasi AI.
Data center terdiri dari banyak chip yang bekerja menjalankan miliaran operasi. Proses tersebut membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Jika panas tidak segera dikendalikan, perangkat bisa mengalami gangguan atau kerusakan.
Salah satu cara untuk mendinginkan perangkat adalah menggunakan air karena air memiliki kapasitas panas yang tinggi.
Dalam sistem tertentu, air yang digunakan perlu memenuhi persyaratan kualitas tertentu agar tidak menimbulkan masalah pada perangkat dan sistem pendinginan.
Namun, kebutuhan air data center tidak hanya bergantung pada satu faktor. Sistem pendinginan, lokasi, iklim, sumber listrik, hingga beban komputasi juga ikut memengaruhi jumlah air yang digunakan.
Berapa Banyak Air yang Dipakai AI?
Mungkin kamu pernah melihat informasi bahwa AI membutuhkan air dalam jumlah tertentu untuk menghasilkan sejumlah respons.
Salah satu penelitian yang banyak dikutip berasal dari University of California, Riverside dan University of Texas, Arlington mengenai jejak air AI.
Penelitian tersebut memperkirakan GPT-3 membutuhkan sekitar 500 mililiter air untuk sekitar 10–50 respons, tergantung pada lokasi dan waktu pengoperasian.
Artinya, angka tersebut bukan berarti setiap kali kita bertanya kepada AI, langsung ada 500 mililiter air yang terpakai.
Perhitungan tersebut juga memasukkan air yang digunakan secara tidak langsung untuk menghasilkan listrik yang dibutuhkan data center. Karena itu, kebutuhan air untuk satu prompt tidak bisa dipukul rata.
Selain itu, perkembangan teknologi membuat angka tersebut terus berubah. Sistem, perangkat keras, model AI, lokasi data center, dan metode pendinginan yang digunakan saat ini tidak selalu sama dengan kondisi ketika penelitian tersebut dilakukan.
Yang menjadi perhatian justru adalah skalanya. Satu pertanyaan mungkin hanya menghasilkan jejak air yang relatif kecil.
Tetapi ketika AI digunakan jutaan kali dalam sehari, kebutuhan sumber daya di balik infrastruktur digital tersebut bisa menjadi jauh lebih besar.
Bukan Cuma AI, Data Center Juga Butuh Air
Sebenarnya, kebutuhan air bukan hanya persoalan AI. Data center secara umum membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga server tetap beroperasi pada suhu yang sesuai.
AI membuat persoalan ini semakin mendapat perhatian karena model AI membutuhkan kemampuan komputasi yang besar.
Microsoft menjelaskan bahwa chip yang semakin canggih dapat membutuhkan daya lebih besar dan menghasilkan panas lebih tinggi.
Kondisi tersebut membutuhkan sistem pendinginan yang lebih intensif, yang secara historis banyak menggunakan air.
Jadi, ketika penggunaan AI terus berkembang, pembicaraan soal teknologi nggak cukup hanya membahas seberapa canggih model atau seberapa cepat AI memberikan jawaban.
Kita juga perlu melihat sumber daya fisik yang ikut bekerja di balik teknologi yang selama ini terlihat serba digital.
Lalu, Apa Solusinya?
Bukan berarti manusia harus berhenti menggunakan AI. Yang perlu dilakukan adalah membuat infrastruktur AI semakin efisien dalam menggunakan sumber daya.
Prof. Zulys menyebut beberapa pendekatan, mulai dari sistem pendinginan dengan siklus tertutup, penggunaan air daur ulang, hingga pembangunan data center di lokasi yang memiliki daya dukung air memadai.
Teknologi pendinginan yang lebih hemat air juga bisa menjadi salah satu pilihan.
Microsoft, misalnya, mengatakan desain data center generasi barunya untuk beban kerja AI akan menggunakan sistem pendinginan yang tidak membutuhkan penguapan air. Sistem tersebut menggunakan sirkulasi tertutup sehingga air terus berputar dalam sistem pendinginan.
Lokasi data center juga menjadi pertimbangan penting. Pasalnya, kebutuhan air industri dapat bersinggungan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah yang memang sudah menghadapi keterbatasan air.
Apakah Kita Harus Berhenti Menggunakan AI?
Sebagai pengguna, kita mungkin nggak bisa mengatur bagaimana sebuah data center mendinginkan servernya. Namun, kita tetap bisa mulai melihat kembali kebiasaan dalam menggunakan AI.
Nggak semua pekerjaan harus diserahkan kepada AI. Kalau sebuah tugas sederhana masih bisa dikerjakan sendiri dalam beberapa menit, kita nggak selalu membutuhkan bantuan teknologi tersebut.
Bukan karena satu prompt langsung menghabiskan segelas air. Persoalannya lebih pada skala: kebiasaan kecil yang dilakukan oleh jutaan pengguna dapat menghasilkan kebutuhan sumber daya dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Di sinilah kita perlu melihat AI bukan hanya sebagai teknologi yang membuat hidup lebih mudah, tetapi juga sebagai teknologi yang membutuhkan sumber daya untuk bisa bekerja.
AI bisa membantu kita menulis, mencari ide, membuat gambar, menganalisis data, hingga menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Tapi ada satu hal yang nggak bisa digantikan AI: air yang kita butuhkan untuk hidup.
Sehebat apa pun teknologi yang dibuat manusia, kita tetap bergantung pada alam untuk membuat kehidupan dan teknologi itu berjalan. Seperti yang disampaikan Prof. Zulys dalam videonya, manusia masih bisa hidup tanpa AI, tetapi manusia nggak bisa hidup tanpa air.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan sekadar seberapa sering kita menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi ini terus dikembangkan dan digunakan dengan lebih bijak, tanpa mengabaikan sumber daya yang justru menopang kehidupan manusia.








