Pernah memperhatikan pidato presiden atau pejabat penting? Ada satu hal yang hampir selalu muncul: tepuk tangan.
Ketika sebuah pernyataan dianggap penting, suara tepuk tangan biasanya langsung terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Bahkan, dalam beberapa kesempatan, tepuk tangan bisa muncul di tengah-tengah pidato, bukan hanya setelah pembicara selesai berbicara.
Sekilas, tepuk tangan memang terlihat seperti tanda persetujuan. Tapi, apakah orang yang ikut bertepuk tangan benar-benar semuanya setuju dengan apa yang disampaikan?
Ternyata, nggak sesederhana itu. Tepuk tangan bisa muncul karena berbagai alasan, mulai dari dukungan hingga sekadar mengikuti suasana ruangan.
Sudah Ada Sejak Zaman Romawi
Respons bersama masyarakat terhadap seorang pemimpin ternyata bukan kebiasaan baru.
Akun Instagram @historiadotid menjelaskan, masyarakat Romawi telah mengenal istilah acclamation, yang merujuk pada respons kolektif berupa seruan atau suara bersama.
Respons tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan penghormatan, dukungan, bahkan penolakan terhadap seseorang atau suatu keadaan.
Pada masa Kekaisaran Romawi, respons massa juga menjadi bagian dari berbagai seremoni yang melibatkan penguasa.
Artinya, sejak dahulu, suara orang banyak sudah menjadi bagian dari cara kekuasaan ditampilkan di ruang publik.
Cara Politisi Bicara Bisa Memancing Tepuk Tangan
Tepuk tangan dalam pidato politik ternyata juga nggak selalu muncul secara spontan. Respons tersebut bisa berkaitan dengan cara politisi menyusun dan menyampaikan pidatonya.
Penelitian John Heritage dan David Greatbatch yang diterbitkan pada 1986 mengamati ratusan pidato politik dalam konferensi partai besar di Inggris.
Penelitian tersebut menemukan pola tertentu dalam cara politisi menyusun pidato yang berkaitan dengan munculnya tepuk tangan dari audiens.
Temuan itu menunjukkan bahwa cara sebuah pesan disampaikan dapat memengaruhi respons pendengarnya.
Karena itu, satu kalimat bisa mendapatkan tepuk tangan ketika disampaikan pada momentum tertentu, sementara kalimat lain yang sama-sama penting belum tentu memperoleh respons serupa.
Bagaimana dengan Indonesia?
Fenomena tepuk tangan juga pernah terjadi dalam sejarah politik Indonesia.
Pada 11 Maret 1998, Soeharto kembali diambil sumpahnya sebagai presiden di Gedung DPR/MPR. Acara tersebut diwarnai tepuk tangan meriah dari orang-orang yang hadir di dalam gedung.
Namun, tepuk tangan tersebut tidak otomatis menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Pada periode yang sama, tekanan terhadap pemerintahan Soeharto semakin kuat di luar gedung parlemen. Beberapa bulan kemudian, Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden pada Mei 1998.
Peristiwa tersebut memperlihatkan satu hal penting: suara yang terdengar paling jelas di dalam sebuah ruangan belum tentu mewakili suara masyarakat secara luas.
Kenapa Banyak Orang Ikut Tepuk Tangan?
Ada banyak kemungkinan di balik respons tersebut. Seseorang bisa bertepuk tangan karena benar-benar menyetujui pernyataan pembicara.
Namun, seseorang juga bisa mengikuti tepuk tangan orang lain karena terbawa suasana ruangan atau sudah menjadi kebiasaan dalam sebuah acara.
Momentum pidato juga dapat memengaruhi respons audiens. Ketika pembicara menyampaikan pernyataan yang dianggap sebagai klimaks, audiens biasanya lebih mudah memberikan respons secara bersama-sama.
Format acara turut berpengaruh. Dalam acara resmi, tepuk tangan bahkan dapat menjadi bagian dari pola komunikasi antara pembicara dan audiens.
Karena itu, tepuk tangan nggak bisa digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa semua orang di dalam ruangan mendukung sebuah pernyataan.
Apalagi jika respons tersebut hanya terlihat melalui potongan video di media sosial. Video hanya memperlihatkan momen tertentu, sementara alasan setiap orang memberikan respons belum tentu dapat diketahui hanya dari suara tepuk tangan.
Jadi, lain kali ketika melihat sebuah pidato politik yang disambut tepuk tangan meriah, jangan buru-buru menganggap semua orang di ruangan tersebut sepakat.
Simpelnya, tepuk tangan memang menunjukkan adanya respons, tetapi belum tentu menjelaskan alasan di balik respons tersebut.








