Rolex mungkin bukan brand yang sering masuk keranjang belanja konsumen Asia. Harganya yang fantastis membuat jam tangan asal Swiss ini lebih banyak dibeli oleh kalangan tertentu.
Namun, ada fakta menarik di balik mahalnya Rolex. Meski jumlah orang yang mampu membelinya relatif terbatas, Rolex justru menjadi brand ritel yang paling dipercaya konsumen di Asia.
Temuan tersebut terungkap dalam Brand Conviction Index: Asia’s Top 100 Retailers yang dirilis Inside Retail Asia pada 29 September 2026.
Indeks tersebut mengukur tingkat keyakinan konsumen terhadap 100 peritel di Asia berdasarkan lebih dari 70.000 wawancara konsumen di 11 pasar Asia. Data juga dikumpulkan selama 12 bulan melalui YouGov BrandIndex hingga 31 Mei 2026.
Rolex Nggak Harus Jadi Barang Belanjaan
Menariknya, posisi Rolex di puncak bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak produknya benar-benar dibeli konsumen.
Indeks tersebut juga melihat siapa yang bersedia merekomendasikan sebuah brand dan siapa yang memiliki niat untuk membelinya di masa mendatang.
Hasilnya, Rolex berada di posisi teratas karena memiliki tingkat keyakinan yang kuat, termasuk di antara orang-orang yang belum pernah menjadi konsumennya. Dengan kata lain, seseorang nggak harus punya Rolex untuk percaya pada Rolex.
Global Head of News Inside Retail Asia Robert Stockdill menjelaskan bahwa orang yang merekomendasikan Rolex belum tentu mampu membelinya. Begitu pula orang yang berencana memilikinya belum tentu akan langsung melakukan pembelian.
Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh sebuah brand nggak selalu bisa dilihat dari jumlah orang yang sudah membeli produknya.
Kenapa Orang Bisa Percaya Sebelum Membeli?
Di sinilah kekuatan sebuah brand terlihat. Kepercayaan konsumen terhadap Rolex nggak hanya dibangun dari transaksi.
Nama Rolex sudah lama dikaitkan dengan jam tangan mewah dan memiliki identitas brand yang kuat.
Akibatnya, orang yang belum pernah membeli produknya pun bisa memiliki persepsi positif dan bersedia merekomendasikannya kepada orang lain.
Menurut Inside Retail Asia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa brand conviction atau keyakinan terhadap sebuah brand bisa jauh lebih besar dibandingkan jumlah pelanggan yang dimilikinya saat ini.
Brand Kuat Nggak Selalu Soal Jumlah Pembeli
Temuan tentang Rolex ini menunjukkan bahwa ukuran kekuatan sebuah brand nggak selalu sesederhana menghitung berapa banyak orang yang membeli produknya.
Ada pula faktor lain, seperti seberapa besar kepercayaan konsumen, apakah mereka bersedia merekomendasikannya, dan apakah mereka punya keinginan untuk memilikinya di masa depan.
Dalam kasus Rolex, banyak orang mungkin belum pernah mengenakan jam tangannya. Namun, nama Rolex tetap memiliki tempat yang kuat dalam persepsi konsumen.
Simpelnya, sebuah brand nggak harus dimiliki semua orang untuk bisa dipercaya banyak orang. Rolex menjadi salah satu contoh bagaimana citra dan keyakinan konsumen dapat melampaui jumlah transaksi yang benar-benar terjadi.







