Anak yang lebih banyak diam sering kali langsung dicap sebagai pemalu atau memang punya karakter pendiam. Padahal, nggak semua anak yang jarang bicara sedang merasa malu.

Dalam beberapa kondisi, kebiasaan diam bisa berkaitan dengan rasa kurang percaya diri. Karena itu, yang perlu dilihat bukan cuma seberapa banyak anak berbicara, tetapi bagaimana ia menghadapi tantangan, kegagalan, kritik, dan lingkungan sosial.

Penelitian yang disebut dalam naskah ini menemukan 43,8 persen siswa berada dalam kategori kepercayaan diri rendah, sementara 56,2 persen lainnya masuk kategori baik. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan diri masih menjadi hal yang perlu diperhatikan pada anak usia sekolah.

Kenapa Percaya Diri Penting?

Kepercayaan diri membantu anak merasa yakin terhadap kemampuan dirinya ketika menghadapi situasi baru.

Anak yang memiliki keyakinan terhadap dirinya cenderung lebih berani mencoba, menyampaikan pendapat, berinteraksi dengan orang lain, dan menghadapi kesalahan.

Sebaliknya, anak dengan kepercayaan diri rendah bisa lebih mudah menghindari tantangan karena takut gagal.

Menurut American Academy of Pediatrics, anak dengan harga diri rendah dapat menunjukkan beberapa pola, seperti menghindari tugas tanpa mencoba, cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan, menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami perubahan suasana hati, hingga sering memberikan komentar negatif tentang dirinya sendiri.

Ciri-Ciri yang Perlu Diperhatikan

Ada beberapa pola perilaku yang bisa menjadi tanda anak sedang mengalami masalah kepercayaan diri.

1. Mudah menyerah dan takut gagal

Anak yang kurang percaya diri dapat menghindari sesuatu yang baru karena sudah membayangkan dirinya tidak akan berhasil.

Ia mungkin menghindari tantangan tanpa mencoba atau langsung berhenti ketika menghadapi kesulitan.

2. Sering membandingkan diri dengan orang lain

Kebiasaan membandingkan diri dapat membuat anak semakin fokus pada kekurangan yang dirasakannya.

Akibatnya, kemampuan yang sebenarnya dimiliki justru bisa nggak lagi terlihat oleh dirinya sendiri.

3. Sering meremehkan kemampuan diri

Perhatikan ketika anak mulai sering mengucapkan kalimat seperti, “Aku memang nggak pintar,” “Aku pasti salah,” atau “Aku nggak bisa.”

Komentar negatif terhadap diri sendiri merupakan salah satu tanda yang patut diperhatikan. 

4. Sulit menerima kegagalan

Gagal dalam mengerjakan sesuatu merupakan hal yang wajar dialami anak.

Namun, anak dengan kepercayaan diri rendah bisa menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya memang nggak mampu.

5. Takut menyampaikan pendapat

Anak yang kurang percaya diri nggak selalu diam karena nggak punya sesuatu untuk dikatakan.

Bisa saja mereka memiliki pendapat, tetapi takut salah, ditertawakan, atau dianggap nggak pintar.

6. Terlalu memikirkan penilaian orang lain

Anak bisa menjadi terlalu khawatir dengan pendapat orang lain. Misalnya, takut tampil di depan kelas, takut menggunakan pakaian tertentu, atau terus meminta kepastian apakah hasil pekerjaannya sudah bagus.

7. Jarang mengambil inisiatif

Dalam kegiatan kelompok, anak mungkin lebih sering menunggu teman memulai terlebih dahulu.

Ia bisa enggan menjadi pemimpin, tidak berani mengajukan diri, atau memilih mengikuti keputusan orang lain.

8. Menarik diri dari lingkungan sosial

Perubahan perilaku juga perlu diperhatikan.

Misalnya, anak yang sebelumnya aktif bermain kemudian mulai sering menghindari teman atau nggak lagi tertarik mengikuti kegiatan yang sebelumnya disukai.

Pola menarik diri dari lingkungan sosial juga termasuk salah satu tanda yang disebut American Academy of Pediatrics ketika membahas harga diri rendah pada anak. 

Pendiam Bukan Berarti Kurang Percaya Diri

Ini bagian yang penting: jangan buru-buru memberi label kepada anak hanya karena mereka nggak banyak bicara.

Anak yang pendiam bisa saja tetap memiliki keyakinan terhadap kemampuan dirinya. Mereka mungkin hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi, lebih nyaman mengamati sebelum berbicara, atau memang memiliki karakter yang tenang.

Sebaliknya, anak yang kurang percaya diri juga nggak selalu terlihat pendiam. Mereka bisa saja banyak bicara, bercanda, bahkan terlihat sangat aktif.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan cuma frekuensi anak berbicara, tetapi bagaimana mereka merespons kegagalan, tantangan, kritik, keberhasilan, dan interaksi dengan orang lain.

Lingkungan Juga Punya Peran

Kepercayaan diri anak nggak tumbuh sendirian. Lingkungan tempat mereka tumbuh dan berinteraksi juga dapat berpengaruh.

Karena itu, ketika melihat perubahan perilaku anak, orang tua dan guru sebaiknya nggak langsung menyimpulkan bahwa anak hanya “pendiam” atau “pemalu”.

Coba perhatikan pola perilakunya secara keseluruhan. Yang nggak kalah penting, berikan ruang yang aman bagi anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan menyampaikan pendapat tanpa takut direndahkan.

Simpelnya, anak yang diam belum tentu nggak percaya diri. Daripada buru-buru memberi label, lebih baik lihat bagaimana ia menghadapi dunia di sekitarnya dan apakah ia merasa cukup aman untuk menjadi dirinya sendiri.