Kabar duka datang dari salah satu ikon kawasan Malioboro, Yogyakarta. Hamzah Batik terbakar pada Senin dini hari, 28 September 2026. 

Api dilaporkan muncul sekitar pukul 01.30 WIB dan berhasil dipadamkan sekitar pukul 04.45 WIB. Berdasarkan keterangan kepolisian, titik api terlihat di area dapur lantai tiga. 

Petugas pemadam kebakaran kemudian dikerahkan untuk menangani kobaran api yang melanda bagian atas bangunan. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, sementara penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. 

Bagi wisatawan maupun warga lokal, kebakaran ini tentu menyisakan keprihatinan. Pasalnya, Hamzah Batik bukan sekadar tempat belanja oleh-oleh di Malioboro.

Di balik bangunannya, tersimpan perjalanan panjang yang ikut mewarnai kehidupan kawasan Malioboro selama puluhan tahun.

Pilihan EditorAni Ratnasari

Harganya Selangit, Tapi Rolex Justru Jadi Brand Paling Dipercaya di Asia

Berawal dari Tiga Stand

Jauh sebelum dikenal sebagai Hamzah Batik, tempat ini lebih dulu dikenal sebagai Mirota Batik.

Sang pendiri, Hamzah Sulaiman, memulai usaha tersebut pada 1979 dengan menyewa tiga stand. Dari tempat sederhana itu, ia mulai menjual batik dan berbagai kerajinan tangan.

Nggak ada yang menyangka, usaha yang dimulai dari tiga stand tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat batik dan oleh-oleh yang dikenal luas di Yogyakarta. 

Riwayat resmi Hamzah Batik mencatat, konsep awal usahanya memang berupa pasar kecil yang terdiri dari beberapa kios atau stand. 

Nama Mirota sendiri memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut berasal dari usaha milik orang tua Hamzah di kawasan Kotabaru dan merupakan singkatan dari Minuman, Roti, dan Tawar. 

Pernah Terbakar pada 2004

Kebakaran pada September 2026 ternyata bukan yang pertama dalam perjalanan usaha tersebut.

Saat masih bernama Mirota Batik, bangunan ini juga pernah mengalami kebakaran pada 2004. 

Setelah kejadian itu, kegiatan operasional untuk sementara dipindahkan ke Mirota Gallery di Jalan Malioboro sambil menunggu proses renovasi.

Setahun kemudian, gedung baru selesai dibangun. Bangunan tersebut terdiri dari tiga lantai dengan luas sekitar 802 meter persegi.

Artinya, kebakaran 2026 menjadi musibah kedua yang tercatat dalam perjalanan panjang usaha tersebut, sekitar 22 tahun setelah kejadian pertama.

Dari Mirota Batik Menjadi Hamzah Batik

Seiring perkembangannya, nama Mirota Batik kemudian berubah menjadi Hamzah Batik.

Pergantian nama tersebut menjadi bagian dari perjalanan usaha sekaligus penghormatan kepada Hamzah Sulaiman sebagai pendirinya.

Namun, perubahan tersebut bukan cuma soal nama. Hamzah Batik juga berkembang dari toko yang menjual kain dan kerajinan menjadi tempat yang menawarkan pengalaman budaya khas Yogyakarta.

Begitu masuk ke dalam toko, pengunjung nggak cuma menemukan berbagai produk lokal. Ada pula aroma dupa, alunan gending Jawa, hingga beragam barang yang berkaitan dengan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.

Produk yang ditawarkan pun beragam, mulai dari batik, camilan tradisional, jamu, kerajinan tangan, perhiasan, anyaman, hingga pakaian.

Tak Hanya Menjual Batik

Hamzah Batik juga dilengkapi berbagai fasilitas dan aktivitas yang membuatnya menjadi salah satu tujuan wisata belanja di Malioboro.

Lantai pertama digunakan untuk berbagai produk oleh-oleh seperti batik, camilan tradisional, dan jamu. Lantai kedua menyediakan beragam kerajinan tangan, sedangkan lantai atas antara lain digunakan untuk koleksi busana muslim dan pakaian anak.

Tempat ini juga dikenal dengan Raminten Cabaret Show, pertunjukan seni yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.

Konsep tersebut sejalan dengan upaya Hamzah Batik menghadirkan pusat aksi, atraksi, dan edukasi budaya Jawa.

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Pestapora 2026: Racik Musik Lintas Generasi, Sensasi ‘Coachella Indo’

Jadi, perjalanan Hamzah Batik bukan sekadar cerita tentang sebuah toko yang berkembang menjadi besar. Ada pula cerita tentang bagaimana perdagangan, pariwisata, dan budaya Yogyakarta bertemu di satu tempat.

Bagian dari Cerita Malioboro

Bagi kawasan Malioboro, Hamzah Batik sudah menjadi salah satu bagian dari perjalanan kawasan tersebut.

Dari tiga stand sederhana pada 1979, bangkit setelah kebakaran pada 2004, hingga berkembang menjadi pusat belanja sekaligus ruang budaya, perjalanan Hamzah Batik sudah melewati banyak perubahan.

Kini, musibah kebakaran kembali menjadi ujian bagi perjalanan panjang tersebut.

Namun, melihat sejarahnya yang pernah melewati kejadian serupa, publik tentu berharap Hamzah Batik bisa kembali pulih dan suatu hari nanti kembali menjadi salah satu tempat yang menyambut wisatawan dengan warna khas budaya Jogja.