Kalau biasanya kita membayangkan pemakaman sebagai hamparan tanah dengan deretan batu nisan, pemandangan di Toraja justru bisa bikin kita bertanya-tanya. 

Di sebuah tebing batu yang menjulang puluhan meter, terlihat puluhan lubang dengan ukuran yang berbeda-beda.

Sekilas, lubang-lubang tersebut mungkin terlihat seperti bagian alami dari dinding tebing. Namun, siapa sangka, di balik lubang-lubang itulah jenazah masyarakat Toraja ditempatkan. 

Tradisi ini membuat kawasan pemakaman di Toraja punya pemandangan yang sangat berbeda dari tempat pemakaman pada umumnya.

Tradisi memakamkan jenazah di tebing batu merupakan bagian dari adat dan kepercayaan masyarakat Toraja yang telah berlangsung sejak lama. Salah satu lokasi yang dikenal dengan tradisi ini adalah Lemo di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Dimakamkan di Tebing

Melansir dari laman Indonesia Kaya, dalam kepercayaan Aluk Todolo, kematian dipandang sebagai sebuah proses menuju Puya, yaitu dunia arwah atau alam akhirat.

Karena itu, kematian tidak hanya dipandang sebagai berakhirnya kehidupan seseorang. Ada rangkaian ritual yang dilakukan untuk menghormati orang yang meninggal sekaligus mengantarkannya menuju alam roh.

Salah satu bagian penting dari rangkaian tersebut adalah Rambu Solo, yaitu upacara pemakaman masyarakat Toraja.

Tidak Langsung Dilakukan

Berbeda dengan praktik pemakaman yang langsung dilakukan setelah seseorang meninggal, dalam tradisi Toraja jenazah dapat disimpan terlebih dahulu di rumah keluarga.

Dalam kepercayaan Aluk To Dolo, orang yang meninggal dan belum menjalani upacara Rambu Solo masih dianggap berada dalam kondisi seperti orang sakit atau lemah. 

Jenazah dapat tetap dibaringkan di rumah, diberi makanan dan minuman, bahkan diajak berbicara oleh anggota keluarga.

Pelaksanaan upacara juga dapat membutuhkan waktu lama. Persiapannya melibatkan berbagai kebutuhan dan biaya sehingga pemakaman dapat dilakukan beberapa bulan bahkan bertahun-tahun setelah seseorang meninggal, tergantung kesiapan keluarga.

Diantar ke Tebing Batu

Setelah rangkaian Rambu Solo selesai, jenazah kemudian diantar menuju lakkian, yaitu kompleks pemakaman yang berada di dinding tebing. 

Di sinilah tradisi pemakaman tebing menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Toraja. Jenazah ditempatkan di dalam liang yang dipahat langsung pada batu.

Pembuatan liang tersebut bukan pekerjaan sederhana. Bukit batu harus dipahat dengan tangan hingga membentuk ruang yang dapat digunakan sebagai makam. Prosesnya dapat memakan waktu sekitar enam bulan sampai satu tahun.

Untuk memasukkan jenazah ke dalam liang yang berada di ketinggian, masyarakat menggunakan tangga atau tali.

Berisi Satu Keluarga

Kompleks pemakaman tebing di Toraja dapat memiliki banyak liang batu. Salah satunya terdapat di kawasan Lemo, Tana Toraja.

Di tempat tersebut terdapat sekitar 75 liang batu kuno yang dikenal sebagai liang paa’. Setiap liang digunakan sebagai makam satu keluarga.

Dari luar, liang hanya terlihat seperti lubang pada permukaan tebing dan biasanya ditutup menggunakan papan kayu. Ukurannya dapat mencapai sekitar 3 meter x 5 meter dengan posisi makam berada belasan meter di atas permukaan tanah.

Menjaga Ingatan

Di sekitar makam tebing juga dapat ditemukan tau-tau, yaitu patung yang dibuat sebagai personifikasi orang yang telah meninggal. Patung tersebut dibuat dengan pakaian dan ornamen tertentu, kemudian ditempatkan di sekitar makam.

Kehadirannya berkaitan dengan cara masyarakat Toraja mempertahankan ingatan terhadap orang yang telah meninggal.

Tau-tau dibuat dalam rangkaian ritual pemakaman dan ditempatkan di depan atau sekitar makam setelah ritual selesai. Pakaian tau-tau juga dapat diganti secara berkala, biasanya sebelum berlangsungnya pemakaman anggota keluarga yang baru.

Memandang Kematian

Bagi masyarakat Toraja, kuburan di tebing bukan sekadar tempat untuk menyimpan jenazah.

Keberadaannya berkaitan dengan rangkaian adat, penghormatan kepada orang yang meninggal, hubungan keluarga, serta pandangan mengenai perjalanan manusia setelah kematian.

Karena itu, tebing-tebing yang dipenuhi liang batu tersebut menjadi bagian dari jejak kehidupan masyarakat Toraja.

Di balik lubang-lubang pada dinding batu, tersimpan cerita tentang keluarga, leluhur, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.