Pernah nggak, kamu tiba-tiba merasa sangat kesal, sedih, atau takut hanya karena hal yang sebenarnya terlihat sepele? Misalnya, merasa begitu terpukul ketika diabaikan, takut ditolak, atau langsung merasa bersalah saat seseorang tidak merespons seperti yang kamu harapkan.
Bisa jadi, reaksi tersebut bukan cuma soal apa yang sedang terjadi sekarang. Pengalaman yang kita alami ketika masih kecil terkadang ikut membentuk cara kita merespons konflik, menghadapi penolakan, mengelola emosi, hingga membangun hubungan dengan orang lain.
Salah satu konsep yang digunakan untuk memahami hal tersebut adalah inner child atau anak batin. Tenang, inner child bukan berarti benar-benar ada “anak kecil” di dalam diri kita.
Istilah ini merupakan konsep atau metafora untuk menggambarkan pengalaman, kebutuhan, emosi, dan pola yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan masih dapat terasa ketika seseorang sudah dewasa.
Apa Itu Inner Child?
Melansir dari laman Inner Melbourne Clinical Psychology, inner child dapat dipahami sebagai sisi kekanak-kanakan dalam diri orang dewasa yang masih membawa pengalaman emosional dari masa lalu.
Sisi tersebut tidak berarti seseorang benar-benar memiliki “anak kecil” di dalam dirinya, melainkan menjadi cara untuk menggambarkan bagian diri yang berkaitan dengan pengalaman masa kanak-kanak.
Inner child dapat terasa lebih kuat ketika seseorang menghadapi situasi yang mengingatkan pada pengalaman masa lalu.
Pengalaman Masa Kecil
Pengalaman masa kecil yang penuh tekanan, seperti perundungan, kekerasan, atau pelecehan, dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan seseorang.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak dengan berbagai masalah psikologis dan perilaku pada masa dewasa.
Pengalaman traumatis juga dapat berkaitan dengan gejala stres pascatrauma dan kondisi hyperarousal, yaitu keadaan ketika seseorang menjadi sangat waspada dan lebih mudah memberikan respons berlebihan terhadap situasi yang dianggap mengancam.
Pemicu Inner Child
Inner child biasanya lebih mudah terasa ketika seseorang berada dalam kondisi emosional tertentu.
Situasi yang sebenarnya terlihat sederhana bagi orang lain dapat memunculkan perasaan yang jauh lebih kuat karena situasi tersebut mengingatkan seseorang pada pengalaman sebelumnya.
Misalnya, seseorang yang dulu sering diabaikan ketika menyampaikan perasaan dapat merasa sangat ditolak ketika pendapatnya tidak didengarkan saat dewasa.
Orang lain mungkin menganggap persoalan tersebut sepele, tetapi pengalaman masa lalu dapat membuat situasi itu terasa lebih berat.
Karena itu, mengenali inner child membutuhkan proses. Seseorang mungkin baru menyadari adanya pemicu setelah dirinya bereaksi.
Cara Mengenali
Mengenali inner child dapat dimulai dengan memperhatikan situasi yang memunculkan reaksi emosional tertentu.
Seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri mengenai hal-hal yang terjadi sebelum emosi tersebut muncul.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:
- Situasi apa yang membuat saya bereaksi sangat kuat?
- Apakah situasi tersebut mengingatkan saya pada pengalaman masa kecil?
- Emosi apa yang muncul ketika saya mengalaminya?
- Apa yang sebenarnya saya butuhkan pada saat itu?
- Apakah saya cenderung menghindar, marah, menangis, atau mencari penerimaan dari orang lain?
Menulis jurnal dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan refleksi tersebut.
Dengan mencatat situasi, pikiran, emosi, dan respons tubuh, seseorang dapat perlahan melihat pola yang mungkin sebelumnya tidak disadari.
Merawat Inner Child
Mengenali inner child bukan berarti seseorang harus terus hidup dalam masa lalu. Sebaliknya, konsep ini dapat digunakan untuk memahami kebutuhan emosional yang mungkin belum terpenuhi dan belajar merespons kebutuhan tersebut dengan cara yang lebih sehat.
Salah satu pendekatan yang sering dibahas adalah reparenting, yaitu proses belajar memberikan kepada diri sendiri bentuk perhatian, perlindungan, validasi, dan batasan yang dibutuhkan.
Merawat diri juga dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana seperti beristirahat ketika lelah, menetapkan batasan dalam hubungan, melakukan aktivitas yang menyenangkan, atau kembali melakukan kegiatan kreatif yang dahulu disukai.
Bagi sebagian orang, menulis surat kepada diri sendiri ketika masih kecil juga dapat menjadi sarana refleksi.
Berdamai
Menyembuhkan luka masa kecil bukan proses yang selalu mudah atau dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Bagi orang yang memiliki pengalaman traumatis, mencoba mengingat kembali pengalaman tersebut tanpa pendampingan dapat memunculkan emosi yang berat.
Karena itu, ketika pengalaman masa lalu sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mempertimbangkan bantuan psikolog, konselor, atau tenaga profesional yang memahami trauma.
Pendekatan yang tepat dapat membantu seseorang memahami pengalaman masa lalu tanpa harus terus terjebak di dalamnya.








