“Sudah dibilangin berkali-kali, kok masih nggak mau?”. Kalimat seperti ini mungkin pernah terucap ketika orang tua sudah lelah menghadapi anak yang tidak kunjung menurut.
Dari yang awalnya bicara biasa, suara pun bisa tanpa sadar meninggi setelah berkali-kali meminta anak merapikan mainan, mandi, belajar, atau segera bersiap.
Kondisi seperti ini cukup manusiawi. Orang tua juga bisa merasa lelah, frustrasi, atau kewalahan.
Namun, ketika emosi mulai naik, ada satu hal yang tetap perlu diperhatikan: bukan cuma seberapa keras suara yang keluar, tetapi juga kata-kata yang digunakan, tujuan di baliknya, dan seberapa sering hal tersebut terjadi.
Sebab, berbicara dengan nada tinggi tidak selalu berarti orang tua sedang melakukan kekerasan verbal.
Ada perbedaan antara menaikkan volume suara karena anak tidak mendengar, memperingatkan anak dalam situasi berbahaya, dan berteriak sambil menghina atau mengancam.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga menganjurkan orang tua menghindari disiplin verbal yang mempermalukan atau merendahkan anak.
Tidak Semua Nada Tinggi
Berbicara dengan suara lebih tinggi tidak selalu berarti orang tua sedang melakukan kekerasan verbal.
Ada perbedaan antara menaikkan volume suara karena anak tidak mendengar, memperingatkan anak dalam situasi berbahaya, dan berteriak sambil menghina atau mengancam.
Dilansir dari laman Psychology Today pada 26 Januari 2024, psikolog klinis dari Amerika Serikat, Rebecca Kennedy menekankan pentingnya melihat konteks ketika membicarakan kebiasaan berteriak kepada anak.
Menurutnya, definisi “berteriak” sendiri dapat berbeda, termasuk dari sisi volume, tujuan, maupun isi perkataan.
Persoalannya bukan sekadar seberapa keras suara orang tua, tetapi juga apa yang dikatakan, seberapa sering dilakukan, dan bagaimana respons anak setelah mendengarnya.
Efek Kata Kasar
Nada suara memang penting, tetapi isi perkataan juga tidak kalah menentukan.
Membentak sambil menyebut anak dengan kata-kata yang merendahkan, mengancam, atau mempermalukannya merupakan bentuk komunikasi yang perlu dihindari.
Penelitian dalam jurnal Child Development pada 2014 menunjukkan adanya hubungan antara harsh verbal discipline atau disiplin verbal yang keras dengan masalah perilaku dan gejala depresi pada remaja.
Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan disiplin verbal keras pada usia 13 tahun berkaitan dengan peningkatan masalah perilaku dan gejala depresi pada usia 13–14 tahun.
Penelitian tersebut tidak berarti setiap anak yang pernah dimarahi akan mengalami depresi atau masalah perilaku.
Namun, temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan komunikasi verbal yang keras perlu diperhatikan, terutama jika dilakukan berulang kali.
Berapa Banyak?
Penelitian tersebut juga mencatat sekitar 45 persen ibu dan 42 persen ayah dalam sampel penelitian melaporkan pernah menggunakan disiplin verbal yang keras terhadap anak mereka dalam satu tahun sebelumnya.
Bentuknya antara lain berteriak, membentak, mengumpat, atau memanggil anak dengan sebutan yang merendahkan.
Namun, angka tersebut bukan berarti 45 persen anak mengalami trauma akibat dimarahi.
Penelitian itu mengukur penggunaan disiplin verbal yang keras dan kaitannya dengan perubahan masalah perilaku serta gejala depresi, bukan jumlah anak yang mengalami trauma.
Bentakan Menjadi Kebiasaan
American Academy of Pediatrics juga mencatat bahwa disiplin verbal yang keras, seperti berteriak atau menggunakan kata-kata kasar, dikaitkan dengan masalah kesehatan mental dan perilaku pada anak dan remaja.
AAP merekomendasikan pendekatan disiplin yang tidak menggunakan hukuman verbal yang mempermalukan atau merendahkan anak.
Organisasi tersebut mengutip penelitian longitudinal yang menunjukkan hubungan antara disiplin verbal keras sebelum usia 13 tahun dengan peningkatan masalah perilaku dan gejala depresi pada usia 13–14 tahun.
Karena itu, orang tua sebaiknya memperhatikan apakah anak mulai menunjukkan rasa takut, menarik diri, atau terlihat sangat cemas ketika orang tua mulai meninggikan suara.
Yang Harus Dilakukan
Jika terlanjur meninggikan suara, orang tua tidak perlu menganggap hubungan dengan anak otomatis rusak.
Yang dapat dilakukan agar kepercayaan antara anak dan orang tua tetap berlanjut yaitu:
- Akui kesalahan dan minta maaf setelah suasana lebih tenang.
- Jelaskan alasan marah tanpa menyalahkan atau merendahkan anak.
- Berikan contoh bahwa orang dewasa juga bisa mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan.
- Berhenti sejenak sebelum merespons ketika emosi mulai meningkat.
- Tarik napas dan tenangkan diri sebelum kembali berbicara dengan anak.
- Minta bantuan pasangan atau orang terdekat jika sedang merasa terlalu lelah atau kewalahan.
- Perhatikan isi perkataan, tujuan, dan frekuensi ketika berbicara dengan nada tinggi.
- Hindari bentakan yang disertai hinaan, ancaman, atau perkataan yang menakutkan, terutama jika sudah menjadi kebiasaan.
Maka pada intinya, meninggikan suara kepada anak tidak selalu dapat disamakan dengan kekerasan verbal. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan cara, isi, dan seberapa sering hal tersebut dilakukan.








