Kebakaran kembali terjadi di sejumlah tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia. Salah satunya terjadi di TPA Jatibarang, Semarang, pada akhir September 2026.

Kebakaran yang melanda area timbunan sampah tersebut diduga berkaitan dengan kondisi gas metana yang terbentuk di dalam tumpukan sampah.

Gas ini dapat terakumulasi di ruang-ruang di antara timbunan sampah dan meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung terjadinya penyalaan.

Fenomena serupa juga menjadi perhatian karena sepanjang 2026 sejumlah TPA di berbagai daerah dilaporkan mengalami kebakaran.

Gas metana menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena terbentuk dari proses penguraian sampah organik dan memiliki sifat mudah terbakar.

Gas Metana

Dilansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), metana adalah gas yang terbentuk dari proses penguraian bahan organik dalam kondisi minim oksigen.

Proses tersebut melibatkan mikroorganisme tertentu yang menghasilkan metana sebagai bagian dari aktivitasnya.

Gas metana dapat terbentuk secara alami di berbagai lingkungan, seperti lahan basah dan persawahan. Namun, aktivitas manusia juga menjadi sumber utama emisi metana, antara lain dari peternakan, tempat pembuangan sampah, pertambangan, serta kegiatan produksi dan distribusi minyak dan gas.

Metana memiliki rumus kimia CH₄ dan merupakan salah satu gas yang mudah terbakar. Karena sifatnya tersebut, metana dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Bisa Picu Kebakaran

Gas metana tidak otomatis terbakar hanya karena berada di suatu tempat. Agar dapat menyala, metana harus berada dalam konsentrasi tertentu dan bercampur dengan oksigen, kemudian bertemu dengan sumber penyulut seperti api atau percikan.

Dosen sekaligus Asisten Profesor Departemen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi, menjelaskan bahwa metana membutuhkan kadar tertentu sebelum dapat terbakar.

Prinsipnya mirip dengan gas bahan bakar yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika metana keluar dari suatu sumber dan terkumpul dalam jumlah yang cukup, kemudian bercampur dengan oksigen dan terkena sumber panas, gas tersebut dapat mengalami pembakaran.

Bagaimana Bisa Terkumpul?

Metana dapat terbentuk secara terus-menerus selama proses penguraian bahan organik masih berlangsung. Pada tumpukan sampah, misalnya, sampah organik seperti sisa makanan dan material tumbuhan akan mengalami pembusukan.

Ketika proses tersebut berlangsung tanpa cukup oksigen, mikroorganisme akan menghasilkan metana. Gas kemudian dapat mengisi ruang-ruang di antara timbunan sampah.

Jika gas tidak dikelola atau dilepaskan dengan baik, konsentrasinya dapat meningkat. Pada kondisi tertentu, keberadaan sumber panas atau percikan api dapat memicu pembakaran.

Dari Berbagai Sumber

Keberadaan metana tidak hanya berkaitan dengan tempat pembuangan sampah. Gas ini juga dihasilkan dari berbagai proses alami dan aktivitas manusia. Beberapa sumber metana antara lain:

  • TPA, dari penguraian sampah organik dalam kondisi minim oksigen.
  • Persawahan, terutama lahan yang tergenang dan memiliki kondisi minim oksigen.
  • Peternakan, dari proses pencernaan hewan ruminansia seperti sapi.
  • Pertambangan batu bara, karena metana dapat tersimpan di dalam lapisan batu bara.
  • Industri minyak dan gas, terutama akibat kebocoran selama produksi dan distribusi.
  • Pengolahan limbah, termasuk proses penguraian bahan organik.

Artinya, gas metana dapat muncul dari berbagai tempat selama terdapat bahan organik atau proses geologis tertentu yang mendukung pembentukannya.

Cara Mengurangi

Risiko metana dapat dikurangi dengan mencegah gas tersebut terlepas dan menumpuk tanpa pengelolaan. Di TPA, misalnya, gas metana dapat ditangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Pengelolaan sampah organik juga berperan penting. Sampah yang mudah terurai dapat dipilah dan diolah melalui pengomposan atau metode pengolahan lainnya sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.

Untuk lingkungan yang berpotensi mengalami akumulasi gas, sirkulasi udara juga penting. Ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi penumpukan gas sehingga konsentrasinya tidak mencapai kondisi yang memungkinkan terjadinya pembakaran.