Pernah meninggalkan camilan di meja makan sebentar, lalu saat kembali ternyata sudah ada “pasukan” semut yang mengerubunginya? Kue yang tadinya aman di piring, tiba-tiba penuh semut. 

Begitu juga dengan roti, buah, teh manis, atau makanan lain yang aromanya menarik perhatian serangga mungil ini.

Biasanya, respons kita cukup sederhana: tinggal usir semutnya, lalu makanan tetap dimakan. Toh, semutnya kecil dan kelihatannya nggak berbahaya. 

Tapi, apakah makanan yang sudah sempat dikerubungi semut memang masih aman untuk dimakan?

Nah, ternyata persoalannya bukan sekadar semut yang terlihat di atas makanan. Secara mikrobiologis, semut berpotensi membawa dan memindahkan mikroorganisme dari lingkungan ke makanan. 

Jadi, sebelum buru-buru mengambil kembali camilan yang sudah dikerubungi semut, ada baiknya kenali dulu risikonya.

Semut Bisa Jadi Transportasi Bakteri

Secara fisik, semut memang terlihat tidak berbahaya karena tidak seperti lebah yang bisa menyengat. Namun, semut dapat berperan sebagai pembawa mekanis mikroorganisme.

Artinya, tubuh semut dapat membawa mikroorganisme dari satu tempat ke tempat lainnya. Bakteri dapat menempel pada bagian tubuh semut, terutama kaki dan bagian mulutnya, setelah semut bersentuhan dengan berbagai permukaan di lingkungan. 

Sebelum mendarat di kue manis milikmu, semut mungkin saja sebelumnya merayap di lantai, tanah, tempat yang lembap, atau area lain yang berpotensi mengandung mikroorganisme. 

Ketika kemudian berjalan di atas makanan, mikroorganisme yang menempel pada tubuhnya berpotensi ikut berpindah ke makanan.

Semut Dapur Memang Bisa Membawa Kuman

Hal ini bukan sekadar asumsi. Penelitian dari University of Mauritius yang diterbitkan dalam AIMS Microbiology menemukan bahwa semut yang dikumpulkan dari dapur rumah tangga membawa berbagai kelompok mikroorganisme. 

Dalam penelitian tersebut, ditemukan antara lain koliform, Bacillus, Escherichia coli, serta Salmonella dan Listeria monocytogenes pada sebagian sampel.

Penelitian tersebut juga menguji kemampuan semut memindahkan E. coli ke permukaan makanan. 

Hasilnya, 7 dari 10 sampel gula yang awalnya steril menjadi terkontaminasi E. coli setelah terpapar semut, atau memiliki tingkat perpindahan sebesar 70 persen dalam kondisi eksperimen tersebut.

Artinya, penelitian ini menunjukkan bahwa semut memang memiliki potensi untuk memindahkan mikroorganisme dari satu permukaan ke makanan. 

Namun, hasil eksperimen tersebut tidak berarti setiap makanan yang didatangi semut pasti langsung terkontaminasi bakteri berbahaya.

Haruskah Makanan Langsung Dibuang?

Nah, di bagian ini kita perlu melihat situasinya. Makanan yang didatangi satu semut tidak otomatis berarti makanan tersebut langsung beracun. 

Namun, semakin banyak semut yang mengerubungi makanan, semakin sulit memastikan apakah sudah terjadi kontaminasi.

Jika makanan sudah dikerubungi atau bahkan ditutupi banyak semut, sebaiknya pertimbangkan untuk membuangnya. 

Pasalnya, semut berpotensi membawa mikroorganisme dari lingkungan dan memindahkannya ke makanan. 

Sebaliknya, jika hanya ada satu atau dua ekor semut yang kebetulan lewat di sekitar makanan, tidak perlu langsung panik. Singkirkan semut dan tetap perhatikan kondisi serta kebersihan makanan tersebut.

Yang perlu dipahami, persoalannya bukan hanya semut yang terlihat secara kasatmata. Mikroorganisme yang mungkin terbawa dan berpindah ke makanan tentu tidak bisa dilihat dengan mata.

Jadi, mengambil semutnya satu per satu tidak otomatis menghilangkan kemungkinan adanya mikroorganisme yang sudah berpindah ke makanan.

Pilihan EditorSyifa Fauziah

Diet Tak Harus Hambar, Ayam Cincang Kukus Ini Bisa Jadi Menu Tinggi Protein

Pertolongan Pertama Saat Makanan Terkena Semut

Agar nggak bingung saat menemukan semut di sekitar makanan, berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan:

Minuman (Teh/Kopi/Jus): Jika hanya ada satu atau dua semut di pinggir gelas, singkirkan semut dan bersihkan bagian luar gelas. 

Namun, jika semut sudah masuk ke dalam minuman dalam jumlah banyak, lebih baik membuat minuman baru.

Wadah Gula: Jika semut baru mengerubungi bagian luar toples, segera bersihkan dan tutup rapat. 

Namun, jika semut sudah masuk dan berada di dalam tumpukan gula, mengambilnya satu per satu tidak menjamin gula tersebut bebas dari mikroorganisme.

Nasi dan Lauk-Pauk: Untuk makanan siap santap yang tidak akan dimasak atau dipanaskan kembali, jika sudah dikerubungi banyak semut sebaiknya tidak dikonsumsi. 

Sementara itu, jika makanan masih akan dimasak atau dipanaskan, proses pemanasan yang memadai dapat membantu membunuh sebagian besar mikroorganisme yang sensitif terhadap panas. 

Meski begitu, pemanasan bukan alasan untuk mengabaikan kebersihan makanan sejak awal.

Langkah Tepat Menjaga Makanan di Rumah

Lain kali saat melihat makananmu dikerubungi semut, jangan cuma berpikir, “Ah, semutnya tinggal dibuang.” Ingat, ada kemungkinan mikroorganisme ikut terbawa dan berpindah ke makanan.

Untuk mencegahnya, biasakan beberapa hal berikut:

1. Menutup rapat wadah penyimpanan bahan makanan, terutama gula dan tepung.

2. Menggunakan tudung saji untuk menutup makanan siap santap di meja.

3. Segera membersihkan remah-remah makanan dan tumpahan manis di meja dapur.

4. Menjaga area dapur tetap bersih dan tidak lembap agar tidak mudah menjadi tempat semut mencari makanan.

Jadi, kalau suatu hari menemukan kue, nasi, roti, atau makanan lain sudah dikerubungi banyak semut, jangan cuma sibuk menyingkirkan semutnya.

Semut memang kecil, tetapi mikroorganisme yang mungkin dibawanya tentu tidak bisa dilihat dengan mata. 

Daripada mengambil risiko hanya demi menyelamatkan sepiring makanan, lebih baik pilih langkah yang aman, terutama jika makanan sudah terpapar banyak semut.

Toh, makanan masih bisa diganti. Kalau sampai sakit gara-gara nekat makan makanan yang sudah terkontaminasi, urusannya bisa jauh lebih panjang.