Pernah sedang tidur, lalu tiba-tiba merasa sudah sadar tetapi tubuh malah nggak bisa digerakkan? Mau bangun susah, bicara juga nggak bisa, sementara kamu masih bisa melihat atau mendengar apa yang terjadi di sekitar.
Pengalaman seperti ini memang bisa bikin panik, apalagi kalau terjadi saat suasana kamar gelap dan tubuh terasa benar-benar “terkunci”.
Nggak heran kalau sebagian orang kemudian mengaitkannya dengan hal-hal mistis dan menyebutnya sebagai “ketindihan”.
Padahal, dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai sleep paralysis atau kelumpuhan tidur.
Fenomena ini berkaitan dengan proses tidur, terutama fase Rapid Eye Movement (REM), ketika otak dan tubuh berada dalam kondisi yang tidak sepenuhnya sinkron saat seseorang beralih dari tidur ke keadaan terjaga.
Ahli neurologi sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Yeni Quinta Mondiani, SpN, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan proses tidur, khususnya fase Rapid Eye Movement (REM).
Sleep Paralysis
Menurut dr Yeni, tidur merupakan proses fisiologis yang ditandai dengan penurunan kesadaran secara reversibel.
Ketika seseorang tidur, fungsi kognitif menurun sehingga otak tidak sepenuhnya merespons stimulus dari lingkungan sekitar.
Dalam prosesnya, manusia melewati beberapa fase tidur yang terdiri dari empat fase Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan satu fase Rapid Eye Movement (REM). Fase-fase tersebut kemudian berulang selama seseorang tidur.
Bahasa mudahnya, pada sleep paralysis, tubuh kita masih pada sleep mode tetapi otak kita sudah aktif,”
ujar dr Yeni.
Sleep paralysis dapat terjadi ketika seseorang mengalami peralihan antara kondisi tidur dan terjaga.
Kesadaran sudah kembali, tetapi tubuh masih berada dalam kondisi seperti saat tidur sehingga belum dapat digerakkan.
Kondisi tersebut juga dijelaskan sebagai ketidakmampuan bergerak atau berbicara ketika seseorang mulai terjaga atau saat akan tertidur.
Tubuh Tidak Bisa Bergerak
Sleep paralysis berkaitan dengan fase REM. Pada fase ini, terjadi hambatan sinyal motorik yang kuat sehingga sebagian besar otot tubuh tidak melakukan gerakan seperti ketika seseorang dalam kondisi terjaga.
Mekanisme tersebut sebenarnya merupakan bagian normal dari tidur REM. Namun, ketika kesadaran muncul lebih dahulu sementara tubuh masih berada dalam kondisi tersebut, seseorang dapat merasakan seolah-olah tubuhnya lumpuh.
Kondisi inilah yang kemudian dikenal sebagai sleep paralysis atau yang sehari-hari sering disebut ketindihan.
Penyebab Utamanya
Menurut dr Yeni, sleep paralysis dapat muncul secara sporadis dan pertama kali umumnya terjadi pada usia 15 hingga 35 tahun.
Kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti kurang tidur, stres, gangguan kecemasan, faktor keturunan, hingga kondisi medis tertentu seperti narkolepsi.
Posisi tidur juga dapat berkaitan dengan kemunculan episode. Sebagian besar orang yang mengalami sleep paralysis tertidur dalam posisi terlentang,”
kata dr Yeni.
Episode biasanya berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit. Meskipun tubuh tidak dapat digerakkan, fungsi tubuh seperti pernapasan dan detak jantung tetap berjalan secara normal.
Sleep paralysis sendiri umumnya tidak berbahaya dan dapat berakhir dengan sendirinya.
Bisa Disertai Halusinasi
Tidak hanya sulit bergerak, sleep paralysis juga dapat membuat seseorang mengalami pengalaman yang terasa nyata. Kesadaran terhadap lingkungan tetap ada sehingga kondisi tersebut sering memicu rasa takut.
Pada sebagian orang, episode juga dapat disertai halusinasi. Menurut dr Yeni, kondisi tersebut terutama dapat ditemukan jika sleep paralysis berkaitan dengan narkolepsi.
Meski terasa menakutkan, episode sleep paralysis dapat berakhir secara spontan dan tubuh kembali dapat digerakkan.
Cara Mencegah
Penanganan utama sleep paralysis dapat dilakukan dengan memperbaiki pola hidup dan kualitas tidur. Salah satunya dengan menerapkan sleep hygiene, seperti menjaga jadwal tidur dan bangun yang teratur.
Selain itu, pola makan perlu diperhatikan dan konsumsi kafein juga perlu dibatasi, terutama menjelang waktu tidur.
Aktivitas fisik ringan serta pengaturan penggunaan perangkat elektronik di sekitar waktu tidur juga dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas tidur.
Jika sleep paralysis terjadi berulang kali hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan hanya dianggap sebagai pengalaman tidur biasa.
Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya kondisi medis yang mendasarinya.








