Anak sekarang makin akrab dengan dunia digital. Scroll TikTok, melihat video di Instagram, ngobrol dengan teman, atau sekadar mengikuti tren yang sedang ramai bisa menjadi bagian dari keseharian mereka.

Tapi, memberikan gadget dan membuatkan akun media sosial untuk anak tentu bukan berarti urusan selesai. 

Di balik serunya dunia maya, ada banyak hal yang perlu dipahami anak, mulai dari menjaga privasi, mengenali orang asing, sampai tahu harus berbuat apa ketika menemukan sesuatu yang membuat mereka nggak nyaman.

Karena itu, sebelum anak mulai aktif di media sosial, orang tua juga perlu ikut “melek digital”. 

Bukan berarti harus mengawasi setiap gerak-gerik anak, tetapi membantu mereka memahami bagaimana menggunakan media sosial dengan aman dan bertanggung jawab.

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Bukan Karena Sulung atau Bungsu, Ahli Ungkap Faktor Utama Pembentuk Kepribadian Anak

Cek Batas Usia

Pemerintah melalui Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026, yang menjadi aturan pelaksanaan PP TUNAS, menetapkan pembatasan akses layanan digital berdasarkan usia dan tingkat risiko platform. 

Untuk layanan jejaring dan media sosial yang masuk kategori berisiko tinggi, akun anak di bawah 16 tahun harus dinonaktifkan oleh penyelenggara. 

Kebijakan ini mulai diterapkan secara bertahap sejak 28 Maret 2026. Platform yang termasuk dalam penerapan awal antara lain TikTok, Instagram, Facebook, Threads, X, Bigo Live, YouTube, dan Roblox.

Persiapan Orang Tua

Sebelum anak mulai menggunakan media sosial, orang tua perlu melakukan beberapa persiapan. Dilansir dari laman Canadian Paediatric Society tahun 2023, berikut penjelasannya.

1. Pahami Aplikasinya

Jangan hanya mengetahui namanya, tetapi pahami juga cara kerja, jenis konten, fitur komunikasi, pengaturan privasi, hingga cara pengguna dapat berinteraksi di dalamnya. 

Orang tua disarankan mempelajari aplikasi yang digunakan anak karena platform digital terus mengalami perubahan.

2. Buat Kesepakatan

Kesepakatan dapat mencakup waktu penggunaan, informasi yang boleh dibagikan, cara berkomentar, hingga siapa saja yang boleh ditambahkan sebagai teman atau pengikut. 

Aturan tersebut sebaiknya dibicarakan bersama anak, bukan sekadar diberikan sebagai larangan.

3. Lindungi Privasi

Nama lengkap, tanggal lahir, nomor telepon, alamat rumah, nama sekolah, hingga lokasi dapat menjadi informasi yang berisiko jika diketahui orang yang salah. 

Orang tua dapat memeriksa pengaturan privasi akun bersama anak dan memastikan informasi yang ditampilkan tidak terlalu terbuka.

4. Kenali Interaksi Online

Ajarkan anak untuk tidak menerima permintaan pertemanan dari orang yang tidak dikenal di kehidupan nyata. 

Anak juga perlu mengetahui bahwa mereka tidak harus melayani percakapan yang membuat tidak nyaman, terlebih jika seseorang meminta informasi pribadi atau foto yang tidak pantas.

5. Awasi dengan Terbuka

Sebaiknya anak mengetahui bentuk pengawasan yang dilakukan, misalnya orang tua mengikuti akun mereka, memeriksa pengaturan privasi, atau sesekali mendampingi saat menggunakan aplikasi. 

Pengawasan yang disertai komunikasi dapat membuat anak lebih nyaman bercerita ketika menghadapi masalah di internet.

6. Bekali Anak

Situasinya bisa berupa cyberbullying, komentar yang menyakitkan, akun palsu, permintaan pertemanan dari orang asing, atau penyebaran foto tanpa izin. 

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Jangan Ikut Emosi! Ini Lima Cara Bijak Menghadapi Anak yang Sedang Tantrum

Orang tua dapat mengajarkan langkah sederhana, seperti tidak membalas secara emosional, menyimpan bukti, memblokir atau melaporkan akun, kemudian meminta bantuan orang dewasa yang dipercaya.

Hindari Dampaknya

Dalam U.S. Surgeon General’s Advisory: Social Media and Youth Mental Health yang diterbitkan pada 2023, disebutkan bahwa anak dan remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial menghadapi risiko dua kali lipat mengalami masalah kesehatan mental, termasuk gejala depresi dan kecemasan.

Paparan media sosial juga dapat berkaitan dengan masalah citra tubuh, perbandingan sosial, dan rendahnya harga diri.

Karena itu, berbagai persiapan dan pengawasan orang tua diperlukan bukan hanya untuk membatasi durasi penggunaan, tetapi juga membantu anak memahami konten yang mereka lihat, mengelola interaksi di media sosial, serta mengenali ketika penggunaan media sosial mulai memengaruhi suasana hati dan kesehariannya.