Dugaan modus penculikan anak di sekitar gerbang sekolah kembali mencuat. Orang tua dan pihak sekolah perlu memperketat pengawasan, sekaligus membekali anak kemampuan mengenali situasi yang tidak aman.

Dikutip pada Selasa, 6 Oktober 2026, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University Dr. Yulina Eva Riany mengatakan gerbang sekolah merupakan salah satu titik penting dalam perlindungan anak karena menjadi tempat pertemuan anak, orang tua, penjemput, dan orang lain, terutama saat jam pulang.

Salah satu dugaan modus yang beredar di media sosial yakni pelaku mencoba mengintip nama anak di buku atau tas agar bisa berpura-pura mengenali anak untuk menjemputnya.

Namun, masyarakat juga diimbau tidak langsung menyebarkan informasi mengenai dugaan penculikan yang belum terverifikasi. Kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan tanpa membuat anak maupun orang tua diliputi ketakutan.

Pengawasan Berlapis

Orang tua dan pengelola sekolah perlu membangun sistem pengawasan berlapis untuk mencegah anak dibawa oleh orang yang tidak berwenang.

Hal ini dapat dilakukan dengan memperketat prosedur penjemputan, memastikan setiap perubahan penjemputan dikonfirmasi, serta menentukan area aman bagi anak yang belum dijemput.

Jika terdapat pendekatan yang mencurigakan, pihak sekolah perlu mencatat dan memeriksa kejadian tersebut, menghubungi orang tua, serta melapor kepada pihak berwenang apabila terdapat ancaman.

Pemahaman Body Safety

Selain pengawasan dari orang dewasa, anak perlu dibekali pemahaman mengenai batas aman atau body safety dan privasi sejak dini.

Anak perlu memahami bahwa seseorang yang mengetahui namanya belum tentu merupakan orang yang diizinkan untuk menjemput atau mengajak pergi.

Informasi pribadi yang perlu dijaga antara lain nama lengkap, alamat, nama orang tua, nomor telepon, kelas, hingga jadwal dan cara pulang sekolah.

“Edukasi tersebut dapat dilakukan melalui simulasi atau bermain peran agar anak terbiasa menghadapi situasi ketika seseorang yang tidak dikenal menanyakan informasi pribadi,”

kata dia.

Yulina juga mengingatkan agar edukasi kepada anak tidak dilakukan dengan menanamkan ketakutan terhadap semua orang asing. Anak perlu diajarkan untuk mengenali perilaku dan situasi yang tidak aman, bukan sekadar menilai seseorang dari penampilan.

“Anak boleh menolak ajakan, hadiah, atau permintaan untuk pergi bersama seseorang tanpa izin orang tua atau guru, sekalipun orang tersebut terlihat ramah atau mengaku mengenal keluarga,”

ucap Yulina.

Ajarkan Anak Cara Melindungi Diri

Keterampilan penting lainnya adalah kemampuan berkata “tidak”, mengambil jarak, mencari bantuan, dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya.

Anak juga perlu mengetahui tempat dan orang yang aman untuk meminta pertolongan, seperti guru, petugas keamanan, atau petugas sekolah.

“Anak tidak perlu memastikan lebih dulu apakah seseorang berniat buruk. Jika ada ajakan pergi, perubahan rencana penjemputan, permintaan merahasiakan sesuatu dari orang tua, atau tindakan yang membuatnya tidak nyaman, anak boleh langsung kembali ke guru atau petugas sekolah,”

jelas dia.

Ruang Aman Bercerita

Orang tua juga perlu menciptakan ruang aman agar anak tidak takut bercerita ketika mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Dengan edukasi yang konsisten, komunikasi terbuka, serta pengawasan bersama antara keluarga dan sekolah, anak dapat memiliki keterampilan untuk mengenali situasi berisiko dan mengambil tindakan perlindungan diri.