Kalau mendengar kata burnout, yang langsung terbayang mungkin kerjaan menumpuk, deadline yang nggak ada habisnya, atau jam kerja yang terlalu panjang. 

Padahal, rasa lelah secara mental nggak selalu datang dari meja kerja. Kehidupan sehari-hari juga bisa punya “beban” sendiri. 

Ekspektasi orang tua, tekanan untuk cepat sukses, masalah finansial, sampai kebiasaan terus mencari validasi orang lain ternyata bisa ikut membuat hidup terasa melelahkan.

Hal tersebut diungkapkan Psikolog Analisa Widiyanti. Dalam podcast Suara Berkenal, Analisa mengungkap bahwa banyak orang usia 20 hingga 30-an yang mengalami burnout bukan hanya karena pekerjaan atau kuliah.

Menurutnya, salah satu sumber burnout yang banyak ia temui justru berasal dari ekspektasi lingkungan, orang tua, dan keluarga.

Ditambah lagi, masyarakat Indonesia masih lekat dengan berbagai ekspektasi yang akhirnya bisa membuat seseorang merasa harus memenuhi standar tertentu agar dianggap berhasil.

Lantas, apa saja yang bisa membuat anak muda gampang burnout?

Ekspektasi Orang Tua dan Keluarga

Sejak kecil, seseorang sering kali sudah berhadapan dengan berbagai ekspektasi. 

Mulai dari harus berprestasi, memilih pendidikan tertentu, mendapatkan pekerjaan bagus, hingga memiliki kehidupan yang dianggap sukses.

Masalahnya, ekspektasi tersebut bisa terbawa sampai dewasa. Ketika seseorang merasa tidak mampu memenuhi harapan tersebut, ia bisa mulai menganggap dirinya gagal. 

Kondisi ini kemudian dapat menjadi salah satu sumber tekanan psikologis.

Tekanan untuk Sukses

Memasuki usia 20-an, seseorang seolah memiliki standar keberhasilan yang harus segera dicapai. 

Misalnya, harus sudah lulus, mendapat pekerjaan, punya penghasilan tertentu, atau memiliki pencapaian yang bisa dibanggakan.

Ketika realitas tidak sesuai dengan standar tersebut, seseorang bisa terus membandingkan dirinya dengan orang lain. 

Tekanan untuk segera sukses akhirnya membuat hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Beban sebagai Anak Pertama

Menjadi anak pertama juga bisa membawa ekspektasi tersendiri. Analisa mengaku pernah berada dalam fase ketika dirinya merasa harus menyediakan berbagai hal sebagai anak pertama.

Ketika merasa tidak mampu memberikan apa-apa, bahkan untuk dirinya sendiri, ia mengaku sempat merasa kehilangan identitas.

Ekspektasi untuk menjadi contoh bagi adik atau keluarga akhirnya bisa berubah menjadi tekanan ketika seseorang merasa dirinya belum memenuhi standar tersebut.

Terlalu Mengejar Validasi

Keinginan untuk diterima orang lain juga bisa menguras energi. Ketika seseorang terlalu sibuk mendengarkan validasi orang lain, ia bisa saja lupa menjadi dirinya sendiri.

Menurutnya, proses pendewasaan membuat seseorang perlu belajar menjadi lebih autentik dan tidak terus-menerus membentuk diri berdasarkan penilaian orang lain.

Simpelnya, kalau hidup terlalu lama dijalani berdasarkan penilaian orang lain, kita bisa lupa bertanya apa yang sebenarnya kita inginkan.

Masalah Finansial

Selain ekspektasi, persoalan finansial juga menjadi salah satu sumber burnout. 

Masalah ekonomi bisa berkembang menjadi stres dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari terlilit pinjaman online, masalah rumah tangga, hingga kehilangan pekerjaan.

Ketika persoalan finansial terus menumpuk tanpa penyelesaian, tekanan yang dirasakan seseorang pun bisa semakin berat.

Ritme Hidup yang Terlalu Cepat

Kehidupan yang serba cepat juga dapat membuat seseorang sulit memiliki ruang untuk beristirahat secara mental. 

Analisa membandingkan pengalamannya ketika tinggal di Sheffield, Inggris, dengan kehidupan di Indonesia.

Menurutnya, ritme hidup yang lebih tenang membuat seseorang memiliki kesempatan untuk mengatur waktu dan energi dengan lebih baik.

Ia pun belajar bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan terburu-buru dan mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan.

Perjalanan Kerja yang Melelahkan

Burnout pada pekerja juga bisa terjadi akibat aktivitas di luar kantor. Perjalanan menuju tempat kerja, kemacetan, hingga waktu yang habis di transportasi umum bisa ikut menguras energi.

Jika kondisi tersebut dialami berulang kali setiap minggu, seseorang bisa datang ke tempat kerja dalam keadaan energi yang sudah terkuras lebih dulu. 

Akibatnya, ruang untuk keluarga, kehidupan sosial, kesehatan, dan pengembangan diri semakin sedikit.

Jadi, burnout tidak selalu datang karena pekerjaan yang terlalu berat. Kadang, rasa lelah justru muncul karena terlalu lama berusaha menjadi sosok yang diharapkan orang lain.

Kalau belakangan ini kamu merasa capek padahal pekerjaan tidak sedang menumpuk, mungkin yang perlu ditanyakan bukan hanya, “Aku kurang istirahat?”, tetapi juga, “Aku sedang menjalani hidupku sendiri atau sedang mengejar ekspektasi orang lain?”.