Pernah nggak, saat emosi lagi memuncak, jantung tiba-tiba terasa gedebak-gedebuk, badan panas, napas jadi lebih cepat, sampai kepala terasa penuh? Rasanya tubuh seperti ikut “bereaksi” terhadap emosi yang sedang kita rasakan.

Ternyata, ada alasan di balik reaksi tersebut. Saat sedang stres atau marah, tubuh dapat mengalami lonjakan tekanan darah untuk sementara. 

Mayo Clinic menjelaskan, kondisi stres bisa memicu kenaikan tekanan darah dalam waktu singkat karena tubuh melepaskan hormon yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit.

Tapi jangan langsung panic mode dan menganggap sekali marah berarti terkena hipertensi. Lonjakan tersebut biasanya bersifat sementara dan tekanan darah dapat kembali ke kondisi sebelumnya setelah pemicu stres mereda.

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Sering Ikat Rambut Terlalu Kencang? Kebiasaan Ini Bisa Picu Alopecia Traction

Lantas, kenapa emosi bisa bikin tekanan darah ikut naik?

Hormon Stres Mulai “Gaspol”

Begitu kamu marah, kesal, atau merasa terancam, tubuh masuk ke mode respons terhadap tekanan. Kondisi ini memicu pelepasan hormon stres.

Efeknya, jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. Kombinasi tersebut kemudian membuat tekanan darah ikut naik untuk sementara.

Tak heran kalau setelah marah-marah leher terasa tegang dan napas menjadi lebih memburu.

Tapi good news-nya, lonjakan tekanan darah akibat stres biasanya bersifat sementara. Ketika pemicunya sudah hilang dan tubuh mulai rileks, tekanan darah umumnya kembali ke kondisi sebelumnya.

Sekali Marah Nggak Langsung Hipertensi

Jangan langsung panic mode dan menganggap setiap kali marah berarti kamu terkena hipertensi. Menurut Mayo Clinic, belum ada bukti bahwa stres secara langsung menyebabkan tekanan darah tinggi dalam jangka panjang.

Yang justru perlu diperhatikan adalah cara kamu menghadapi stres. Saat sedang burnout atau emosional, sebagian orang mungkin lari ke kebiasaan tidak sehat, seperti emotional eating, minum kopi terlalu banyak, konsumsi alkohol, atau makin jarang bergerak.

Kalau pola seperti ini terus berulang, kebiasaan tersebut dapat ikut meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Jangan Sepelekan Efek Marah

Meski tekanan darah biasanya turun setelah tubuh kembali tenang, bukan berarti lonjakan yang terjadi berulang kali boleh di-skip begitu saja.

Mayo Clinic menjelaskan, lonjakan tekanan darah yang tajam dapat berkontribusi terhadap risiko serangan jantung dan stroke.

 Lonjakan yang terjadi berulang juga dapat berdampak pada pembuluh darah, jantung, dan ginjal.

Jadi, masalahnya bukan sekadar “jangan marah”. Yang nggak kalah penting adalah bagaimana kamu mengelola stres dan kebiasaan apa yang muncul setelah emosi tersebut datang.

Cara Calming Down

Nggak harus langsung healing ke luar kota atau meditasi berjam-jam. Ada beberapa cara simpel yang bisa dicoba untuk membantu tubuh lebih rileks.

1. Tarik Napas Dalam-Dalam

Coba tarik napas secara perlahan dan dalam. Cara sederhana ini dapat membantu tubuh lebih rileks ketika sedang menghadapi stres. 

2. Jangan Lupa Gerak

Olahraga bukan cuma buat menjaga bentuk tubuh. Aktivitas fisik juga dapat membantu meredakan stres.

Tak perlu lama-lama, kamu cukup berolahraga sekitar 30 menit, tiga sampai lima kali dalam seminggu. Mayo Clinic menyebut aktivitas fisik secara rutin dapat membantu mengurangi stres.

3. Coba Yoga atau Meditasi

Kalau pikiran lagi chaotic, yoga atau meditasi bisa menjadi pilihan untuk membantu tubuh dan pikiran lebih rileks. (Mayo Clinic)

4. Perhatikan Jam Tidur

Kurang tidur bisa membuat berbagai masalah terasa semakin berat. Karena itu, tidur yang cukup juga menjadi bagian penting dalam mengelola stres.

5. Belajar Bilang “Nggak”

Kalau jadwal sudah terlalu overload, coba lihat lagi mana yang benar-benar penting. Kamu nggak harus menerima semua hal.

Mengurangi aktivitas yang nggak terlalu penting dan meminta bantuan orang lain juga bisa membantu mengurangi beban stres.

Jadi, marah memang bisa memicu tekanan darah naik untuk sementara. Saat emosi melonjak, tubuh melepaskan hormon stres yang membuat jantung bekerja lebih cepat dan pembuluh darah menyempit.

Namun, sekali marah bukan berarti kamu langsung mengalami hipertensi.

Yang perlu diperhatikan adalah stres yang terus berulang serta kebiasaan tidak sehat yang mungkin muncul sebagai respons terhadap stres tersebut. 

Mengelola stres, tetap aktif bergerak, menjaga pola tidur, dan membangun kebiasaan yang lebih sehat bisa menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan.