Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Fenomena Downgrade Karier: Jeratan ‘Pekerja Zombie’ dan Keredupan Ekonomi Indonesia

Di tengah kesulitan mendapatkan pekerjaan, sebagian pekerja memilih menurunkan ekspektasi gaji dan jabatan daripada kehilangan penghasilan.

Penumpang berada di dalam gerbong kereta Moda Raya Terpadu (MRT) saat melaju menuju Stasiun Lebak Bulus di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Penumpang berada di dalam gerbong kereta Moda Raya Terpadu (MRT) saat melaju menuju Stasiun Lebak Bulus di Jakarta, Rabu (7/10/2026). (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/wsj.)

Downgrade karier belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial. Fenomena ini terjadi ketika seseorang terpaksa menerima pekerjaan dengan posisi atau upah yang lebih rendah dibanding pekerjaan sebelumnya. 

Banyak pengguna Threads, dikutip pada 8 Oktober 2026, yang menceritakan pengalaman downgrade karier demi tetap bisa bekerja dan memiliki penghasilan.

“Bener gue dari Rp15 juta ke Rp6,5 juta, emang kayak gimana gitu cuma daripada jobless yaudah,”

kata @intaaannns.

“Kalau gue dari Rp18 juta sebagai kabag, pas kena lay off sekarang jadi guru cuma Rp1,5 juta, walau gie bingung ngebaginya,”

ucap @mimmialfath21.

“Kak, aku dari gaji Rp10 juta ke Rp5 juta sekarang, Alhamdulillah masih dikasih rezeki,”

ucap @libertygirl.00.

“Dulu Rp19 juta as a programmer ehh sekarang jadi mas mas ojol,”

komen @tolong.bilangin.

PHK

Cerita serupa dibagikan akun @yayaaabccc_. Ia menceritakan kondisi ayahnya yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sebelumnya bekerja sebagai Senior IT dengan penghasilan sekitar Rp50 juta per bulan. 

Iklan

Dengan pengalaman hingga 10 tahun, sang ayah disebut kesulitan mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan yang sama. Bahkan ketika bersedia menurunkan ekspektasi gaji menjadi Rp30 juta hingga Rp40 juta, belum ada perusahaan yang menerimanya.

“Ketika bapakku minta turun gaji di angka Rp30-Rp40 juta juga nggak mau, bahkan di angka Rp25 juta juga masih belum ada yang nerima. Terus harus turun semana lagi?”

keluh dia.

Beragam pengalaman tersebut menunjukkan downgrade karier bukan sekadar keputusan untuk mencari pekerjaan baru dengan posisi berbeda. Di tengah kesulitan mendapatkan pekerjaan, sebagian pekerja memilih menurunkan ekspektasi gaji dan jabatan daripada kehilangan sumber penghasilan.

Lantas, apakah fenomena tersebut menjadi tanda ada persoalan yang lebih besar di pasar kerja Indonesia?

Kelam

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara fenomena ini merupakan tanda ekonomi makin suram, sebab para pekerja bertahan tidak resign dengan downgrade gaji.

“Sayangnya angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi pemerintah tidak mampu membaca gejala tadi,”

ujar Bhima kepada Owrite.id.

Akibatnya pengangguran diklaim turun, tapi disposable income terjun bebas. 

“Seolah masih bekerja tapi hidupnya tidak lagi mengandalkan gaji. Padahal banyak lingkungan kerja yang toxic juga. Tapi apa daya banyak pekerja desperate yang tetap bertahan daripada resign dan sulit mendapat kerja,”

tutur dia.

Ia juga menyinggung jumlah pengangguran usia muda di Indonesia tertinggi di ASEAN, bahkan tembus hingga 13 persen.

“Jika karyawan tetap bertahan dengan gaji downgrade, opsinya ke side hustle pekerjaan informal. Setelah office hour kerja jadi ojol, kurir atau buka warung,”

kata Bhima.

Menurutnya, downgrade karier berisiko menekan produktivitas karena pekerja tidak fokus ke pekerjaan utama, tidak jadi spesialis. 

“Alhasil jam kerja Indonesia melebihi 40 jam per minggu. Karena konsentrasi mencari pendapatan sampingan membuat tenaga dan waktu terkuras,”

ucap dia.

Ia pun memprediksi fenomena ini akan menyebabkan gelombang pekerja zombie yakni para pekerja bekerja dalam kelelahan ekstra, stres tinggi dan produktivitas rendah.

Iklan