Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Merasa Sehat Lalu Stop Obat Darah Tinggi? Hati-Hati, Ini yang Bisa Terjadi

Perubahan dosis atau penghentian pengobatan perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan yang menangani.

Alat pengukur tekanan darah.
Alat pengukur tekanan darah. Sumber foto: Pexels/Marta Branco

Merasa tubuh sudah baik-baik saja setelah rutin minum obat darah tinggi? Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hipertensinya sudah hilang.

Justru, tekanan darah yang tetap terkontrol bisa menjadi tanda bahwa pengobatan dan perubahan gaya hidup yang dijalani sedang membantu menjaga kondisi tetap stabil. 

Hipertensi juga sering tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga merasa sehat tidak bisa dijadikan patokan untuk menghentikan pengobatan.

Iklan

Hal ini disampaikan perwakilan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Karuma Barza Afida. Menurutnya, masih banyak pasien yang berhenti kontrol karena merasa kondisi tubuhnya sudah baik.

Kadang saya bertemu pasien yang sudah lama tidak memeriksakan diri karena merasa kondisinya normal. ‘Kenapa saya harus kontrol? Saya kan normal.’ Padahal justru karena obat yang diminum, kondisinya bisa tetap stabil,”

kata Karuma di Jakarta pada kamis, 8 Oktober 2026.

Menurut Karuma, hipertensi merupakan penyakit yang tidak menimbulkan gejala. Karena itu, kondisi tubuh yang terasa normal tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan apakah pengobatan masih diperlukan atau tidak. 

Hal ini sejalan dengan informasi CDC yang menyebut tekanan darah tinggi biasanya tidak memiliki tanda atau gejala sehingga pengukuran tetap diperlukan untuk mengetahuinya.

Ia menceritakan pengalamannya ketika tekanan darah yang sebelumnya berada di kisaran 119-122 kemudian pernah mencapai 170. Setelah sempat turun hingga sekitar 130, ia kembali mengalami serangan dengan tekanan darah sekitar 160.

Kondisinya kemudian semakin berat ketika tekanan darahnya mencapai sekitar 190 hingga membuatnya pingsan. Setelah berkonsultasi dengan dokter, ia mendapat pengobatan yang kemudian perlu disesuaikan.

Dari pengalaman tersebut, Karuma menekankan pentingnya mengikuti pengobatan sesuai arahan dokter dan tidak mengubah dosis secara mandiri. 

Mayo Clinic juga menyarankan pasien untuk tidak melewatkan dosis atau menghentikan obat tekanan darah secara tiba-tiba tanpa arahan tenaga kesehatan.

Jadi, Bapak-Ibu silahkan konsultasikan dengan apoteker. Ini menunjukkan pentingnya edukasi,”

ujarnya.

Pengobatan Perlu Diimbangi Pola Hidup

Ia juga mengingatkan bahwa pengobatan hipertensi tidak berdiri sendiri. Tetap perlu diimbangi dengan perubahan pola hidup untuk membantu menjaga kondisi kesehatan dan mengendalikan faktor risiko yang dapat memperburuk penyakit.

Perubahan pola hidup seperti rutin melakukan aktivitas fisik, menjaga pola makan, mengelola berat badan, membatasi alkohol, tidak merokok, serta mendapatkan tidur yang cukup dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan tekanan darah.

Karuma menilai edukasi mengenai hipertensi perlu terus dilakukan karena sebagian pasien baru menyadari pentingnya pengobatan setelah mengalami kondisi yang lebih serius.

Memang penyakit degeneratif seperti silent killer, karena sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas sampai terjadi komplikasi,”

ucapnya.

Karena itu, pasien hipertensi sebaiknya tidak menjadikan tekanan darah yang sudah normal sebagai alasan untuk menghentikan obat sendiri.

Perubahan dosis atau penghentian pengobatan perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan yang menangani.

 Tekanan darah yang terkontrol perlu dipertahankan melalui pengobatan dan pemantauan yang sesuai, bukan dianggap sebagai tanda bahwa hipertensi sudah sembuh. 

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Internship

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar