Menurut AWK, Bali tidak membedakan wisatawan berdasarkan status. Artis maupun wisatawan biasa sama-sama diperlakukan sebagai wisatawan, tapi ia menekankan jika Bali tengah melakukan “seleksi turis berkualitas”.
“Kalau ada boikot Bali tentu akan menguntungkan bagi daerah lain. Kebetulan juga, Bali mau bersih-bersih, Bali juga masih banyak masalah. Jadi sebenarnya kami sekarang sedang menyeleksi turis yang berkualitas,”
ujar AWK, dikutip dari akun Instagram @lambe_undercover, Kamis, 8 Oktober 2026.
AWK kemudian menjelaskan bahwa wisatawan yang dimaksud berkualitas adalah mereka yang memiliki kemampuan belanja besar selama berada di Bali.
“Turis yang spending-nya banyak, turis yang memiliki modal banyak. Kami juga butuh turis yang banyak doalr. Kami lebih baik menerima turis enggak banyak, tapi berkualitas,”
lanjut dia.
Kualitas atau Kuat Buang Uang?
Pernyataan tersebut sontak menjadi bahan perdebatan. Warganet mempertanyakan apakah nominal uang yang dibelanjakan wisatawan bisa menjadi ukuran “kualitas” seorang turis.
Komentar pedas langsung bermunculan setelah potongan pernyataan AWK beredar luas di sosial media.
Salah satu warganet mengkhawatirkan pernyataan tersebut justru membuat citra Bali ikut terdampak. Ia juga mempertanyakan cara seorang pejabat publik menyampaikan pendapatnya.
“Guys ini bahaya lo kalau dibiarkan. Gara-gara dia bisa aja orang juga nggak respect ke Bali. Bukan Bali yang bermasalah. Tapi orangnya. Ini kalau beneran dia pejabat, kok bisa, ya, bahasa tutur katanya kayak gitu,”
ujar @boysukajalan.
Kritikan lain mengarah pada peran wisatawan lokal yang selama ini turut menopang pariwisata Bali, terutama ketika pandemi Covid-19 menghantam sektor tersebut.
“Dia nggak ingat, waktu Covid yang nyelametin Bali itu wisatawan lokal,”
kata @dimassameed.
Warganet bahkan menyindir istilah “turis berkualitas” yang digunakan AWK.
“Seolah-olah turis lokal nggak ada harga dirinya menurut AWK ini,”
ucap @palopo_info.
Sementara itu, @bro.ken.yt menilai wisatawan dengan kemampuan ekonomi tinggi justru memiliki ekspektasi pelayanan yang lebih besar.
“Turis berkualitas mana mau diperlakukan secara nggak berkualitas? Tahu sendiri betapa sensitif orang-orang berduit banyak sama pelayanan dan harga diri,”
komentar dia.
Perdebatan juga menyentuh perilaku wisatawan mancanegara. Akun @luqmankhaqim mempertanyakan anggapan bahwa turis asing otomatis dapat dikategorikan sebagai wisatawan “berkualitas”.
“Turis berkualitas? Lihat noh bule yang ngerental motor nyetirnya pada ngaco pak! Belum pernah ketabrak bule naik NMAX keknya,”
ujar dia.
Malah Suruh Orang Lain Introspeksi
Meski pernyataan AWK menuai kritik, dia meminta semua pihak tidak terpancing oleh polemik yang berkembang. Ia mengajak masyarakat Bali melakukan mulat sarira hangrasa wani atau introspeksi diri.
Dia berpendapat semua pihak yang terlibat dalam polemik perlu mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. AWK juga meminta wisatawan yang datang ke Bali untuk menghargai masyarakat dan budaya setempat.
Ia menilai Bali tetap memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan mancanegara. Maka, jika ada wisatawan lokal yang memilih tidak datang ke Bali, hal tersebut tidak perlu menjadi persoalan besar.
“Kalau tidak ada wisatawan lokal (Bali) juga masih bisa (kedatangan) turis mancanegara,”
kata AWK.
Namun, pernyataan mengenai “turis berkualitas” telanjur memantik pertanyaan baru di media sosial. Bagi warganet, persoalan bukan lagi sekadar soal perlakuan buruk di Bali.
Kini muncul pertanyaan lain yang jauh lebih besar: “kualitas” ditentukan dari isi dompet, lantas bagaimana posisi wisatawan lokal yang datang ke Bali dengan kocek pas-pasan?