Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Makna Filosofis Ewuh Pakewuh dalam Budaya Jawa

Perbedaan pendapat dapat memicu ketegangan ketika disampaikan tanpa memperhatikan cara dan situasi.

Ilustrasi orang Jawa saling menyapa
Ilustrasi orang Jawa saling menyapa (Foto: Unsplash/Aldin Nasrun)

Di tengah kehidupan yang semakin terbuka, orang semakin terbiasa menyampaikan pendapat secara langsung. Namun, keberanian untuk berbicara terkadang tidak selalu diikuti dengan pertimbangan terhadap perasaan orang lain.

Perbedaan pendapat dapat memicu ketegangan ketika disampaikan tanpa memperhatikan cara dan situasi. Dalam budaya Jawa, terdapat nilai yang mengajarkan pentingnya mempertimbangkan perasaan dan posisi orang lain sebelum berbicara atau bertindak.

Nilai tersebut dikenal dengan istilah Ewuh Pakewuh, sebuah sikap yang berkaitan dengan rasa sungkan, hormat, dan keinginan untuk menjaga keharmonisan hubungan.

Iklan

Makna Filosofis

Melansir dari laman Universitas Gadjah Mada, Ewuh Pakewuh menggambarkan sikap sungkan atau berhati-hati dalam bersikap agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

Nilai ini mengajarkan seseorang untuk mempertimbangkan perkataan maupun tindakan sebelum dilakukan, terutama ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, dihormati, atau memiliki hubungan sosial tertentu.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang tidak hanya memikirkan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga bagaimana sesuatu disampaikan dan bagaimana dampaknya terhadap orang lain.

Menjaga Keharmonisan

Salah satu makna penting dalam ewuh pakewuh adalah menjaga hubungan agar tetap harmonis. Rasa sungkan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bersikap sehingga tidak mudah mempermalukan, menyakiti, atau merendahkan orang lain.

Karena itu, ewuh pakewuh bukan sekadar rasa takut untuk berbicara. Di dalamnya terdapat kesadaran untuk menempatkan diri dan menghargai keberadaan orang lain.

Seseorang belajar bahwa hubungan yang baik tidak hanya dibangun melalui kejujuran, tetapi juga melalui cara menyampaikan kejujuran tersebut.

Rasa Hormat

Meski mengajarkan rasa sungkan, ewuh pakewuh tidak selalu berarti seseorang harus diam atau selalu mengikuti kehendak orang lain.

Nilai ini dapat dimaknai sebagai cara untuk menyampaikan pendapat dengan tetap menjaga rasa hormat. Seseorang tetap dapat menyampaikan ketidaksetujuan atau memberikan kritik, tetapi dilakukan dengan bahasa dan sikap yang tidak merendahkan.

Dengan demikian, rasa hormat dan keberanian untuk berbicara dapat berjalan bersama.

Perbedaan Generasi

Ewuh pakewuh juga berkaitan dengan hubungan antargenerasi. Dalam budaya yang menjunjung penghormatan kepada orang yang lebih tua, rasa sungkan dapat menjadi cara untuk menjaga tata krama dalam berinteraksi.

Namun, nilai tersebut tidak harus dipahami sebagai pembenaran terhadap senioritas. Orang yang lebih muda tetap memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan, sementara orang yang lebih tua dapat memberikan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk berbicara dan didengarkan.

Dengan cara tersebut, ewuh pakewuh dapat menjadi bentuk saling menghormati, bukan sekadar hubungan satu arah antara yang lebih tua dan yang lebih muda.

Bentuk Kepekaan

Pada akhirnya, ewuh pakewuh mengajarkan pentingnya memiliki kepekaan dalam kehidupan sosial. Sebelum berbicara atau bertindak, seseorang diajak untuk mempertimbangkan perasaan, martabat, dan posisi orang lain.

Nilai ini menunjukkan bahwa sopan santun bukan berarti membatasi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri. Sebaliknya, ewuh pakewuh mengajarkan bagaimana seseorang dapat tetap jujur dan terbuka tanpa mengabaikan perasaan orang lain.

Di situlah filosofi ewuh pakewuh tetap memiliki makna berani menyampaikan sesuatu, tetapi tetap tahu cara menghormati orang lain.

Iklan