Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Jangan Asal Minum Antibiotik! Ternyata Waktu Konsumsinya Bisa Berbeda, Sebelum atau Sesudah Makan

Misalnya, antibiotik phenoxymethylpenicillin dianjurkan diminum setidaknya 30 menit sebelum makan atau 2–3 jam setelah makan.

Ilustrasi obat antibiotik .
Ilustrasi obat antibiotik (Foto: Unsplash/jcomp)

Saat sedang sakit, sebagian orang mungkin langsung berpikir untuk minum antibiotik agar cepat sembuh. Apalagi ketika mengalami demam, batuk, atau pilek yang tak kunjung reda. Padahal, antibiotik tidak selalu dibutuhkan untuk mengatasi keluhan tersebut.

Antibiotik merupakan obat untuk mengatasi infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Penggunaannya pun perlu mengikuti resep dan petunjuk tenaga kesehatan, termasuk soal dosis, jadwal, serta waktu minum yang tepat.

Lalu, apakah antibiotik sebaiknya diminum sebelum atau sesudah makan? Jawabannya bergantung pada jenis obat yang diresepkan. Ada antibiotik yang perlu diminum saat perut kosong, tetapi ada juga yang dapat dikonsumsi bersama makanan.

Iklan

Diminum Ketika Dibutuhkan

Melansir laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), antibiotik hanya bekerja untuk mengatasi infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus seperti influenza atau sebagian besar kasus batuk dan pilek.

Antibiotik dapat diresepkan untuk beberapa kondisi, seperti infeksi saluran kemih, radang tenggorokan akibat bakteri tertentu, hingga infeksi bakteri yang lebih serius.

Oleh karena itu, antibiotik sebaiknya dikonsumsi berdasarkan pemeriksaan dan resep dokter, bukan karena merasa penyakit tidak kunjung sembuh atau menggunakan sisa obat dari pengobatan sebelumnya. 

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistansi antimikroba, yaitu kondisi ketika mikroorganisme penyebab infeksi tidak lagi merespons obat yang sebelumnya efektif.

Sebelum atau Sesudah Makan?

Tidak semua antibiotik memiliki aturan konsumsi yang sama. Sebagian jenis antibiotik dapat diminum bersama makanan, sedangkan jenis lainnya perlu dikonsumsi saat perut kosong agar penyerapannya optimal.

Misalnya, antibiotik phenoxymethylpenicillin dianjurkan diminum setidaknya 30 menit sebelum makan atau 2–3 jam setelah makan. 

Sementara itu, beberapa antibiotik lain dapat dikonsumsi bersama makanan untuk membantu mengurangi efek samping pada saluran pencernaan.

Karena aturan setiap obat bisa berbeda, baca petunjuk pada kemasan dan ikuti arahan dokter atau apoteker. Jangan menyamaratakan waktu konsumsi seluruh antibiotik hanya berdasarkan pengalaman menggunakan obat sebelumnya.

Perhatikan Jarak Waktu

Selain memperhatikan waktu makan, keteraturan jadwal konsumsi antibiotik juga penting. Jadwal yang sesuai resep membantu memastikan obat digunakan sebagaimana mestinya selama pengobatan.

Sebagai gambaran, jika resep secara khusus mengatur interval berikut, jadwalnya dapat disusun seperti ini:

  • Setiap 8 jam: pukul 06.00, 14.00, dan 22.00.
  • Setiap 12 jam: pukul 07.00 dan 19.00.
  • Setiap 24 jam: pukul 08.00 setiap hari.

Jadwal tersebut hanya ilustrasi, bukan aturan untuk semua antibiotik. Frekuensi minum dua atau tiga kali sehari tidak selalu berarti intervalnya harus dibagi sama persis sepanjang 24 jam. Karena itu, jadwal pada resep tetap menjadi acuan utama.

Bolehkah Berhenti Minum Antibiotik?

Merasa lebih sehat bukan berarti pasien boleh langsung menghentikan antibiotik tanpa berkonsultasi dengan dokter. 

Antibiotik perlu digunakan tepat sesuai resep, termasuk dosis, frekuensi, dan durasi pengobatannya.

Lama pengobatan dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis infeksi, kondisi pasien, serta respons terhadap terapi. 

Karena itu, jangan memperpanjang, memperpendek, mengubah dosis, atau menghentikan pengobatan secara mandiri.

Jika mengalami efek samping atau merasa kondisi sudah membaik sebelum obat habis, konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk mengetahui langkah yang tepat.

Bagaimana Jika Lupa Minum Antibiotik?

Lupa mengonsumsi antibiotik bisa saja terjadi. Namun, menggandakan dosis bukanlah cara yang tepat untuk mengganti obat yang terlewat.

Langkah yang perlu dilakukan bergantung pada jenis antibiotik dan jarak waktu menuju dosis berikutnya. Secara umum, periksa petunjuk pada kemasan atau tanyakan kepada apoteker. 

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Jangan Simpan Tomat di Kulkas, Ini Alasannya

Jika sudah mendekati jadwal berikutnya, dosis yang terlewat biasanya dilewati dan pasien kembali mengikuti jadwal semula.

Jangan mengonsumsi dua dosis sekaligus untuk mengganti dosis yang terlupa, kecuali ada instruksi khusus dari tenaga kesehatan. Menggandakan dosis dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti sakit perut, mual, hingga diare.

Risiko Resistansi Antibiotik

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bukan hanya berisiko bagi pasien, tetapi juga menjadi persoalan kesehatan masyarakat. 

Dalam Global Antibiotic Resistance Surveillance Report 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar satu dari enam infeksi bakteri yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium di dunia pada 2023 telah menunjukkan resistansi terhadap antibiotik.

WHO juga menemukan bahwa resistansi meningkat pada lebih dari 40 persen kombinasi bakteri dan antibiotik yang dipantau sepanjang 2018–2023, dengan kenaikan rata-rata tahunan sekitar 5–15 persen. 

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa resistansi antimikroba berkembang lebih cepat dibandingkan kemajuan pengobatan modern sehingga mengancam kesehatan masyarakat secara global.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa antibiotik bukan obat yang dapat dikonsumsi sembarangan. 

Penggunaan yang tepat, mulai dari indikasi, dosis, jadwal, hingga lama pengobatan, diperlukan agar antibiotik tetap efektif dalam menangani infeksi bakteri.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti asal Indonesia lulusan Universitas Esa Unggul.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar