Dalam video tersebut, saat ditanya wartawan apakah karhutla di Kalteng perlu ditingkatkan statusnya menjadi bencana nasional, Agustiar menjawab bahwa aktivitas masyarakat masih berjalan.
Belum, ini kan persoalan kerja pun masih jalan ya. Cuma petani, nelayan itu memang sangat berdampak,”
kata Agustiar, dikutip dari akun Instagram @borneosocial, pada Senin, 12 Oktober 2026.
Ia juga mengakui bahwa pekerja buruh turut merasakan dampak karhutla. Agustiar menyebut kenaikan kasus ISPA mencapai sekitar 30-40 persen dibandingkan hari biasa.
Perubahan Musim
Namun, ia menilai perubahan musim atau pancaroba juga dapat mempengaruhi peningkatan kasus ISPA.
Atas pernyataannya tersebut, kolom komentar unggahan @borneosocial dipenuhi kritik yang ditujukan ke Agustiar.
Sejumlah warganet menyindir bahwa dampak karhutla telah meluas hingga ke negara lain, sementara sebagian lainnya mempertanyakan apakah pemerintah harus menunggu jatuhnya korban jiwa untuk menetapkan status bencana nasional.
Bener sih, soalnya udah nyebar ke negara lain asapnya, jadi skalanya udah internasional,”
sindir akun @r_adithami.
Komentar lain secara langsung mempertanyakan pertimbangan pemerintah dalam menentukan status bencana.
Tolong tanyakan ini; nunggu beberapa orang lagi yang mati sampai bisa ditetapkan bencana nasional?”
tulis akun @mrsmonana.
Kritik juga datang dari warganet yang menyayangkan respons kepala daerah terhadap situasi yang dihadapi masyarakat.
Perasaan seluruh Gubernur Kalimantan rada-rada gimana deh. Sebel banget,”
Sementara itu, akun @naila_aqila meminta Agustiar lebih mempertimbangkan kondisi masyarakat yang terdampak.
Pakai hati sedikit lah pak kalo ngomong, miris sekali mendengar tanggapan bapak,”
tulisnya.
Bahkan, ada warganet yang menyindir bahwa perhatian terhadap dampak karhutla baru akan meningkat jika keluarga pejabat ikut merasakan akibatnya.
Nunggu anak istri cucu dia dulu yang kena jerit-jerit dia,”
tulis akun @pempekoma68.
Deretan komentar tersebut menunjukkan kekecewaan warganet terhadap pernyataan Agustiar. Di tengah paparan asap, gangguan penerbangan, dan ribuan kasus ISPA, publik mempertanyakan sejauh mana dampak yang harus terjadi sebelum penanganan karhutla mendapat status dan perhatian lebih besar.