Sakit gigi sering dianggap sebagai masalah sepele yang bisa hilang setelah minum obat atau dibiarkan beberapa hari.
Padahal, gigi berlubang dan infeksi yang tidak ditangani bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Meski jarang terjadi, infeksi dari gigi bahkan dapat menyebar hingga ke leher dan rongga dada.
Melalui video di akun TikTok pribadinya, dr. Ikhsan Qothi, MD, mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan sakit gigi.
Iklan
Infeksi yang awalnya muncul di sekitar gigi bisa meluas ke jaringan di sekitarnya jika tidak segera ditangani.
Dalam kasus yang berat, infeksi tersebut dapat mencapai mediastinum, yaitu area di bagian tengah rongga dada yang berisi jantung, pembuluh darah besar, dan organ penting lainnya.
Kondisi ini disebut descending necrotizing mediastinitis dan berpotensi mengancam nyawa.
Karena itu, menjaga kesehatan gigi bukan sekadar soal penampilan agar gigi terlihat putih dan bersih. Perawatan yang tepat juga penting untuk mencegah kerusakan gigi dan mengurangi risiko komplikasi akibat infeksi.
Bisa Menimbulkan Komplikasi Serius
Dalam penjelasannya, dr. Ikhsan menyebut bahwa gigi tidak hanya terdiri atas mahkota yang terlihat dari luar. Di bagian dalam gigi terdapat jaringan pulpa yang mengandung saraf dan pembuluh darah.
Ketika lubang pada gigi semakin dalam, bakteri dapat mencapai jaringan pulpa dan menyebabkan peradangan hingga infeksi.
Jika tidak ditangani, infeksi gigi dapat menyebar melalui jaringan dan ruang anatomi di sekitar rahang hingga leher.
Pada kasus yang berat, infeksi dapat meluas ke mediastinum atau bagian tengah rongga dada. Kondisi ini dikenal sebagai descending necrotizing mediastinitis.
Meski jarang terjadi, kondisi tersebut termasuk keadaan darurat medis. Karena itu, sakit gigi yang disertai pembengkakan pada wajah atau leher, demam, kesulitan menelan, maupun gangguan pernapasan perlu segera diperiksakan.
Terutama jika gejalanya memburuk atau muncul kesulitan bernapas, jangan menunda mencari pertolongan medis.
Cara Menyikat Gigi
Salah satu langkah sederhana untuk mencegah masalah gigi adalah menyikat gigi secara rutin dengan teknik yang tepat.
American Dental Association (ADA) merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari selama dua menit menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.
Berikut beberapa cara menyikat gigi yang dianjurkan:
Gunakan sikat gigi berbulu lembut agar tidak melukai gusi akibat tekanan berlebihan.
Posisikan sikat gigi dengan sudut sekitar 45 derajat terhadap garis gusi.
Gerakkan sikat secara perlahan dengan gerakan pendek. Hindari menggosok terlalu keras.
Bersihkan seluruh permukaan gigi, mulai dari bagian luar, bagian dalam, hingga permukaan untuk mengunyah.
Untuk membersihkan bagian dalam gigi depan, miringkan sikat secara vertikal dan gunakan gerakan pendek ke atas dan ke bawah.
Gunakan benang gigi atau dental floss sekali sehari untuk membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau sikat.
Selain teknik menyikat gigi, waktunya juga perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan masyarakat menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur malam.
Setelah menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride, ludahkan sisa pasta gigi tanpa langsung berkumur dengan banyak air.
Cara ini membantu mempertahankan fluoride pada permukaan gigi lebih lama sehingga manfaatnya untuk mencegah gigi berlubang dapat lebih optimal.
Perlu Diperhatikan
Selain gigi berlubang, dr. Ikhsan juga mengingatkan bahaya penumpukan karang gigi yang kerap dianggap hanya mengganggu penampilan.
Karang gigi terbentuk ketika plak yang menempel pada gigi mengeras akibat mineral dalam air liur.
Jika dibiarkan, plak dan karang gigi dapat memicu peradangan gusi atau gingivitis. Apabila berkembang lebih lanjut, kondisi ini dapat menjadi periodontitis, yaitu penyakit yang merusak jaringan penyangga gigi. Dalam kondisi yang parah, gigi bisa menjadi goyang hingga tanggal.
Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah gigi bungsu yang tumbuh miring atau terjebak di dalam gusi.
Kondisi ini disebut gigi impaksi dan dapat membuat area di sekitarnya lebih sulit dibersihkan, sehingga sisa makanan dan bakteri lebih mudah menumpuk.
Pada beberapa kasus, gigi bungsu yang mengalami impaksi dapat menyebabkan peradangan gusi, kerusakan gigi di sebelahnya, hingga infeksi.
Karena itu, kondisi gigi bungsu sebaiknya diperiksa oleh dokter gigi untuk menentukan apakah perlu penanganan lebih lanjut.
Kasus Tidak Merawat Gigi
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 56,9 persen penduduk Indonesia berusia tiga tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut.
Namun, hanya 11,2 persen penduduk yang mengalami masalah tersebut yang mendapatkan perawatan dari tenaga medis gigi.
Data ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara banyaknya masyarakat yang mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut dengan mereka yang memperoleh penanganan medis.
Padahal, pemeriksaan dan perawatan sejak dini dapat membantu mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.
Harus Memeriksakan Gigi
Menunggu sampai gigi terasa sakit bukanlah kebiasaan yang tepat. Sebab, sejumlah masalah pada gigi dan gusi dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan berarti pada tahap awal.
Pemeriksaan gigi secara berkala, misalnya setiap enam bulan atau sesuai dengan penilaian risiko dari dokter gigi, dapat membantu mendeteksi masalah sejak dini. Dengan begitu, kerusakan bisa ditangani sebelum semakin parah.
Seperti yang ditekankan dr. Ikhsan dalam videonya, jangan malas merawat gigi dan jangan menganggap remeh masalah kesehatan gigi.
Sebab, lubang kecil yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan seberapa jauh kerusakan yang terjadi di bagian dalam gigi.