Meski sekilas terlihat serupa, keduanya memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda. Lantas, bagaimana cara membedakannya?
Bukan Hal yang Sama
Dilansir dari laman Hello Sehat pada 28 Desember 2023, dalam psikologi, rasa malu atau shyness berkaitan dengan perasaan tidak nyaman, gugup, atau khawatir terhadap penilaian orang lain ketika berada dalam situasi sosial.
Sementara itu, introversi merupakan salah satu dimensi kepribadian yang menggambarkan kecenderungan seseorang untuk lebih menyukai lingkungan dengan stimulasi sosial yang relatif rendah.
Seorang introvert mungkin menikmati waktu sendirian, memilih percakapan mendalam daripada keramaian, atau membutuhkan waktu pribadi setelah menghadiri acara sosial.
Namun, hal tersebut bukan berarti dirinya takut berinteraksi. Sebaliknya, seseorang yang pemalu mungkin sebenarnya ingin berkenalan dan terlibat dalam percakapan, tetapi merasa gugup atau khawatir akan memberikan kesan buruk kepada orang lain.
Keduanya Berbeda
Dalam jurnal Journal of Personality and Social Psychology tahun 1981, melalui penelitian berjudul Shyness and Sociability menjelaskan bahwa rasa malu dan kemampuan menikmati interaksi sosial merupakan dua dimensi yang berbeda.
Penelitian yang melibatkan 340 mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki tingkat rasa malu yang tinggi sekaligus keinginan yang tinggi untuk bersosialisasi. Artinya, orang yang pemalu tidak selalu ingin menghindari interaksi sosial.
Sebagian justru ingin terlibat dalam pergaulan, tetapi mengalami hambatan berupa rasa gugup atau ketidaknyamanan.
Temuan tersebut memperkuat pemahaman bahwa perilaku pendiam saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang termasuk introvert atau pemalu.
Orang Ekstrovert Bisa Pemalu
Sifat pemalu tidak hanya ditemukan pada orang introvert. Seseorang dengan kecenderungan ekstrovert pun dapat mengalami rasa malu.
Misalnya, seseorang sangat menikmati berkumpul bersama teman-temannya, senang menghadiri acara, dan merasa bersemangat ketika berinteraksi dengan banyak orang.
Namun, ketika harus memperkenalkan diri di hadapan orang asing, ia justru merasa gugup dan takut salah berbicara.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keinginan untuk bersosialisasi dan kenyamanan ketika menghadapi situasi sosial bukanlah sesuatu yang selalu berjalan beriringan. Dengan demikian, seseorang dapat memiliki karakter ekstrovert sekaligus pemalu.
Sulit Berbicara di Depan Umum
Anggapan lain yang cukup sering muncul adalah bahwa orang introvert cenderung tidak percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang. Padahal, introversi tidak secara otomatis menentukan kemampuan komunikasi seseorang.
Seorang introvert tetap dapat menjadi pembicara publik, pemimpin, guru, atau individu yang aktif menyampaikan pendapat. Ia mungkin hanya memiliki preferensi berbeda dalam menghabiskan waktu dan mengelola interaksi sosial.
Sebaliknya, orang yang senang bersosialisasi juga dapat mengalami kegugupan ketika harus melakukan presentasi atau menghadapi lingkungan baru.
Kemampuan berbicara di depan umum dapat dikembangkan melalui pengalaman dan latihan, terlepas dari kecenderungan kepribadian seseorang.
Rasa Malu Bisa Dikurangi
Berbeda dengan kecenderungan kepribadian yang relatif stabil, rasa malu dapat dikelola melalui pengalaman dan pengembangan keterampilan sosial.
Seseorang dapat mulai dengan membiasakan diri melakukan interaksi sederhana, seperti menyapa orang lain, mengajukan pertanyaan, atau mencoba menyampaikan pendapat dalam kelompok kecil.
Namun, penting untuk dipahami bahwa sifat pemalu bukanlah gangguan psikologis yang otomatis membutuhkan penanganan khusus.
Apabila rasa takut terhadap situasi sosial berlangsung intens, menetap, dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu dibedakan dari gangguan kecemasan sosial (social anxiety disorder) melalui pemeriksaan profesional.
Menjadi pemalu bukan berarti seseorang pasti introvert. Keduanya dapat muncul secara bersamaan, tetapi tidak bisa disamakan hanya berdasarkan kebiasaan seseorang yang terlihat lebih banyak diam.