Pernah melihat orang berkomunikasi menggunakan gerakan tangan dan ekspresi wajah, lalu bertanya-tanya bagaimana cara mempelajarinya?.
Di Indonesia, ada dua istilah yang sering muncul ketika membahas bahasa isyarat, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Sekilas, keduanya mungkin terlihat serupa karena sama-sama menggunakan gerakan visual untuk menyampaikan pesan.
Iklan
Namun, BISINDO dan SIBI memiliki perbedaan dalam asal-usul, struktur, serta penggunaannya.
Perbedaan ini penting dipahami, terutama jika kamu ingin belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan teman Tuli. Lantas, apa yang membedakan BISINDO dan SIBI?
Mengenal BISINDO
Melansir Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo), BISINDO merupakan bahasa isyarat yang berkembang secara alami melalui interaksi komunitas Tuli di Indonesia.
Bahasa ini menggunakan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan.
BISINDO juga memiliki tata bahasa tersendiri yang tidak selalu mengikuti susunan kalimat bahasa Indonesia lisan.
Karena berkembang di tengah komunitas penggunanya, bahasa ini memiliki karakteristik linguistik dan budaya yang khas.
Menariknya, BISINDO tidak selalu sama di setiap daerah. Isyarat yang digunakan komunitas Tuli di Jakarta, misalnya, bisa berbeda dari yang digunakan di Yogyakarta atau wilayah lainnya.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa BISINDO merupakan bahasa yang hidup dan berkembang bersama komunitas Tuli.
Jadi, mempelajarinya bukan hanya soal menghafal gerakan tangan, tetapi juga memahami cara berkomunikasi dan budaya penggunanya.
Sementara itu, SIBI merupakan singkatan dari Sistem Isyarat Bahasa Indonesia.
Sistem ini disusun untuk merepresentasikan bahasa Indonesia melalui isyarat dan dibakukan melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0190/P/1994 tentang Kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia.
Berbeda dengan BISINDO yang berkembang secara alami di komunitas Tuli, SIBI disusun dengan mengikuti struktur bahasa Indonesia.
Sistem ini juga menggunakan isyarat untuk merepresentasikan unsur bahasa, termasuk kata dasar dan imbuhan seperti awalan serta akhiran.
Dalam penggunaannya, SIBI dikenal di lingkungan pendidikan formal, terutama dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi murid Tuli.
Karena memiliki pendekatan yang berbeda, SIBI dan BISINDO tidak bisa dianggap sebagai dua versi yang sama persis. Keduanya memiliki karakteristik dan konteks penggunaan masing-masing.
Perbedaan BISINDO dan SIBI
Perbedaan utama BISINDO dan SIBI terletak pada asal-usul serta struktur kebahasaannya. BISINDO tumbuh secara alami dalam komunitas Tuli dan memiliki tata bahasa visual tersendiri.
Sementara itu, SIBI disusun untuk merepresentasikan bahasa Indonesia melalui sistem isyarat.
Dari segi penggunaan, BISINDO banyak dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari oleh komunitas Tuli.
Adapun SIBI dikenal dalam konteks pendidikan formal, khususnya untuk mendukung pembelajaran bahasa Indonesia.
Perbedaan lainnya terlihat pada cara keduanya merepresentasikan imbuhan. SIBI memiliki isyarat untuk unsur imbuhan bahasa Indonesia, sedangkan BISINDO tidak sekadar menerjemahkan setiap kata beserta imbuhannya satu per satu.
Struktur dan penyampaian makna dalam BISINDO mengikuti tata bahasa yang berkembang di komunitas penggunanya.
Dengan demikian, BISINDO bukan sekadar bentuk sederhana dari SIBI. BISINDO merupakan bahasa dengan karakteristik linguistik tersendiri, sedangkan SIBI merupakan sistem isyarat yang disusun berdasarkan struktur bahasa Indonesia.
Sebaiknya Mulai dari Mana?
Kalau kamu ingin belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi langsung dengan komunitas Tuli, BISINDO bisa menjadi pilihan awal, terutama jika bahasa tersebut digunakan oleh orang-orang di lingkunganmu.
Namun, pilihan belajar juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Jika kamu terlibat dalam lingkungan pendidikan yang menggunakan SIBI, mempelajari sistem tersebut tentu dapat membantu komunikasi dan proses pembelajaran.
Belajar BISINDO tidak hanya mencakup gerakan tangan, tetapi juga ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan pemahaman terhadap budaya Tuli.
Karena itu, sebaiknya pelajari bahasa ini langsung dari pengajar Tuli atau lembaga yang melibatkan komunitas Tuli dalam proses pembelajarannya.
Salah satu lembaga yang menyediakan pembelajaran BISINDO adalah Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo).
Memahami perbedaan BISINDO dan SIBI menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih inklusif.
Sebab, menghargai bahasa isyarat bukan hanya tentang mempelajari gerakannya, tetapi juga menghormati identitas, budaya, dan pilihan komunikasi komunitas Tuli.