Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Namanya Bir Pletok, tapi Kok Nggak Mengandung Alkohol? Ini Sejarah Unik Minuman Khas Betawi

Keberadaannya menunjukkan bahwa minuman tradisional tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Ilustrasi bir pletok.
Ilustrasi bir pletok (Foto: Magnific)

Jakarta bukan hanya punya kerak telor, soto Betawi, dan nasi uduk. Di tengah beragam kulinernya, ada juga minuman tradisional yang punya nama cukup unik, yaitu bir pletok.

Meski menggunakan kata bir, minuman khas Betawi ini tidak mengandung alkohol. Bir pletok dibuat dari racikan rempah-rempah Nusantara yang menghasilkan rasa hangat, manis, dan sedikit pedas.

Lebih dari sekadar minuman penghangat tubuh, bir pletok juga menyimpan cerita tentang kreativitas masyarakat Betawi dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi bagian dari warisan kuliner Jakarta.

Iklan

Lantas, bagaimana asal-usul dan keistimewaan minuman ini?

Terinspirasi dari Kebiasaan Belanda

Melansir laman Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual pada 11 Desember 2023, sejarah bir pletok berkaitan dengan kehidupan masyarakat Betawi pada masa kolonial.

Minuman ini dipercaya muncul sebagai bentuk adaptasi masyarakat lokal terhadap kebiasaan orang Belanda yang mengonsumsi bir.

Masyarakat Betawi kemudian membuat minuman alternatif dengan memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti jahe, serai, kayu manis, cengkih, dan kayu secang.

Racikan rempah tersebut menghasilkan minuman berwarna kemerahan yang berbeda dari bir beralkohol. Bir pletok juga tidak memerlukan proses fermentasi alkohol dalam pembuatannya.

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Beras Kencur Bukan Cuma untuk Anak, Ternyata Ini 4 Potensi Manfaatnya bagi Orang Dewasa

Ada pula cerita yang mengaitkan nama pletok dengan bunyi yang muncul ketika minuman dikocok atau saat tutup wadahnya dibuka. Cerita ini menjadi salah satu bagian menarik dari asal-usul nama minuman tradisional tersebut.

Rahasia Warna dan Aroma Khas

Salah satu ciri khas bir pletok adalah warna merahnya yang berasal dari kayu secang. Ketika direbus bersama air, kayu secang menghasilkan warna kemerahan yang membuat tampilan minuman ini mudah dikenali.

Sementara itu, jahe memberikan sensasi hangat dan sedikit pedas. Serai, cengkih, serta kayu manis melengkapi racikan dengan aroma rempah yang khas.

Dilansir dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 20 April 2015, bir pletok dibuat dengan merebus air, gula, dan berbagai rempah hingga mendidih serta mengeluarkan aroma harum.

Setelah itu, minuman disaring untuk memisahkan ampas rempah. Bir pletok dapat disajikan dalam keadaan hangat maupun dingin, sesuai selera.

Jadi Warisan Budaya

Keistimewaan bir pletok tidak hanya terletak pada rasa dan aromanya. Minuman tradisional ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penetapan tersebut tercantum dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2014. Bir pletok masuk dalam kategori kuliner tradisional asal DKI Jakarta.

Pengakuan ini memperlihatkan bahwa kuliner tradisional bukan sekadar makanan atau minuman.

Di dalamnya terdapat pengetahuan, kebiasaan, dan identitas masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, menjaga keberadaan bir pletok juga berarti ikut merawat bagian dari budaya Betawi yang telah berkembang sejak lama.

Minuman Kaya Rempah

Selain dikenal karena sensasi hangatnya, bir pletok juga menarik perhatian berkat penggunaan berbagai rempah alami.

Jahe, misalnya, mengandung senyawa gingerol yang telah banyak diteliti terkait aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.

Sementara itu, kayu secang mengandung senyawa brazilin yang berperan memberikan warna khas pada minuman.

Meski demikian, keberadaan senyawa tersebut tidak otomatis menjadikan bir pletok sebagai obat atau minuman yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu.

Manfaat yang diteliti pada bahan atau senyawa tertentu juga tidak selalu sama dengan efek mengonsumsi minuman yang dibuat dari bahan tersebut.

Kandungan gula tambahan juga perlu diperhatikan, terutama jika bir pletok dikonsumsi secara rutin. Agar tetap seimbang, nikmati minuman ini dalam porsi wajar dan sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Tetap Eksis

Di tengah menjamurnya kopi susu, matcha, dan berbagai minuman kekinian, bir pletok masih memiliki tempat tersendiri dalam kekayaan kuliner Jakarta.

Kini, minuman ini tidak hanya disajikan di rumah atau dalam acara adat. Bir pletok juga dipasarkan dalam kemasan botol dan menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Betawi.

Keberadaannya menunjukkan bahwa minuman tradisional tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Dari racikan rempah sederhana, bir pletok membawa cerita tentang kreativitas masyarakat Betawi dalam mengolah kekayaan alam Nusantara menjadi warisan kuliner yang terus dikenal hingga sekarang.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti asal Indonesia lulusan Universitas Esa Unggul.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar