Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Salah Tingkah karena Takut Dinilai Orang? Bisa Jadi Anda Mengalami Spotlight Effect

ilustrasi merasa diperhatikan.
ilustrasi merasa diperhatikan (Foto: Unsplash)

Pernah merasa salah tingkah karena pakaian yang kamu kenakan terasa terlalu mencolok? Atau terus kepikiran kesalahan kecil saat berbicara karena takut orang lain masih mengingatnya? Padahal, bisa jadi orang-orang di sekitarmu bahkan tidak terlalu memperhatikan hal tersebut.

Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai spotlight effect, yaitu kondisi ketika seseorang melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan penampilan, tindakan, atau kesalahannya.

Akibatnya, kejadian kecil yang sebenarnya belum tentu diingat orang lain justru terasa besar dan terus berputar di pikiran sendiri.

Iklan

Lantas, mengapa kita bisa merasa seolah-olah menjadi pusat perhatian?

Spotlight Effect

Melansir laman Halodoc pada 26 Juni 2026, spotlight effect merupakan bias kognitif yang membuat seseorang merasa seolah-olah dirinya sedang menjadi pusat perhatian.

Padahal, orang lain belum tentu memperhatikan hal yang sama. Mereka mungkin sedang sibuk memikirkan urusan pribadi, pekerjaan, atau bahkan mengkhawatirkan penampilan mereka sendiri di hadapan orang lain.

Contohnya, ketika kamu salah mengucapkan satu kata saat presentasi, kejadian tersebut mungkin terus teringat sepanjang hari.

Kamu bisa saja mengulang-ulang momen itu dalam pikiran dan membayangkan orang lain menilaimu secara negatif.

Namun, teman-teman yang mendengarnya belum tentu menganggap kesalahan itu sebagai sesuatu yang penting.

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Sering Lupa Mau Ambil Apa Setelah Masuk Kamar? Kenali Doorway Effect dan Cara Mengatasinya

Bisa jadi, mereka sudah melupakannya beberapa menit kemudian atau justru lebih fokus pada isi presentasimu.

Karakter Manusia

Fenomena spotlight effect pernah diteliti oleh Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky dalam penelitian berjudul The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of the Salience of One’s Own Actions and Appearance, yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Personality and Social Psychology pada 2000.

Dalam salah satu eksperimennya, peneliti meminta mahasiswa mengenakan kaus bergambar penyanyi Barry Manilow yang dianggap memalukan oleh sebagian partisipan.

Setelah itu, mahasiswa diminta memperkirakan berapa banyak orang yang akan menyadari gambar pada kaus mereka.

Hasilnya, partisipan memperkirakan bahwa sekitar 50 persen orang akan memperhatikan gambar tersebut. Namun, jumlah pengamat yang benar-benar dapat mengenali gambar itu ternyata hanya sekitar 25 persen.

Temuan ini menunjukkan bahwa seseorang dapat melebih-lebihkan perhatian orang lain terhadap penampilan atau tindakannya sendiri.

Dengan kata lain, sesuatu yang terasa sangat menonjol bagi diri sendiri belum tentu sama menonjolnya bagi orang lain.

Alasan Merasa Dilihat

Salah satu penjelasan di balik spotlight effect adalah kecenderungan manusia melihat situasi dari sudut pandangnya sendiri.

Kita mengalami setiap kejadian melalui pikiran dan perasaan pribadi sehingga mudah menganggap pengalaman tersebut juga sama menonjolnya bagi orang lain.

Selain itu, rasa cemas dan takut dinilai dapat membuat seseorang semakin fokus pada kekurangan diri.

Ketika melakukan kesalahan, misalnya, perhatian kita tertuju pada kejadian tersebut sehingga kita kesulitan melihat situasi dari sudut pandang orang lain.

Meski begitu, spotlight effect tidak berarti semua orang yang mengalaminya memiliki gangguan kecemasan. Ini merupakan kecenderungan psikologis yang bisa dialami banyak orang dalam situasi sosial tertentu.

Cara Menguranginya

Ada beberapa cara yang dapat membantu mengurangi kebiasaan merasa terus diperhatikan orang lain.

1. Periksa kembali asumsi sendiri. Ketika merasa semua orang memperhatikan kesalahanmu, tanyakan apakah ada bukti nyata yang mendukung anggapan tersebut. Jangan langsung menganggap orang lain memberikan penilaian negatif.

2. Alihkan perhatian ke lingkungan. Daripada terus memikirkan penampilan atau tindakan sendiri, cobalah fokus pada percakapan, materi presentasi, atau orang yang sedang berbicara.

3. Ingat bahwa orang lain juga punya kesibukan. Mereka mungkin sedang memikirkan masalah pribadi atau mengkhawatirkan bagaimana diri mereka terlihat di mata orang lain.

4. Belajar menerima ketidaksempurnaan. Salah bicara, melakukan kesalahan kecil, atau mengalami momen canggung merupakan bagian wajar dari interaksi manusia. Tidak semua hal harus berjalan sempurna.

Tidak Semua Perlu Dipikirkan

Spotlight effect mengingatkan kita bahwa penilaian terhadap diri sendiri tidak selalu mencerminkan cara orang lain melihat kita.

Kesalahan yang terasa memalukan bagi diri sendiri belum tentu menjadi perhatian besar bagi orang lain.

Karena itu, tidak semua kejadian perlu dipikirkan berulang kali sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Namun, jika kekhawatiran terhadap penilaian orang lain terus-menerus mengganggu kehidupan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami dan mengelola kecemasan tersebut.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti asal Indonesia lulusan Universitas Esa Unggul.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar