Pernah mendengar anak bercerita bahwa ia bertemu naga di halaman rumah, memiliki teman dari negeri dongeng, atau melihat kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi? Bagi orang dewasa, cerita seperti ini mungkin terdengar aneh, bahkan bisa dianggap sebagai kebohongan.
Namun, anak yang mengarang cerita tidak selalu berarti sedang berbohong. Pada masa kanak-kanak, imajinasi berkembang melalui permainan, cerita, dan pengalaman sehari-hari.
Anak dapat menciptakan tokoh, membayangkan kejadian, hingga mencampurkan pengalaman nyata dengan hal-hal yang ada dalam pikirannya. Kemampuan membedakan dunia khayalan dan kenyataan pun berkembang seiring bertambahnya usia.
Iklan
Lantas, bagaimana orang tua membedakan anak yang sedang berimajinasi dengan anak yang sengaja berbohong? Memahami perbedaannya penting agar orang tua tidak terburu-buru memberikan label negatif kepada anak.
Tidak Selalu Berarti Kebohongan
Mengarang cerita merupakan salah satu cara anak mengeksplorasi pikirannya. Melalui imajinasi, anak dapat menciptakan situasi baru, memerankan karakter tertentu, dan mengekspresikan perasaan yang belum mampu disampaikan secara langsung.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa aktivitas bermain dapat mendukung perkembangan kreativitas, imajinasi, kemampuan kognitif, dan keterampilan emosional anak.
Karena itu, cerita khayalan yang muncul saat bermain bisa menjadi bagian dari proses perkembangan yang wajar.
Misalnya, seorang anak bercerita bahwa bonekanya bisa berbicara dan mengajaknya berpetualang. Jika cerita itu muncul dalam konteks bermain, anak mungkin sedang membangun dunia imajinasinya, bukan berusaha menipu orang lain.
Namun, konteks tetap perlu diperhatikan. Cerita yang dibuat saat bermain pura-pura tentu berbeda dari pernyataan anak yang sengaja digunakan untuk menyembunyikan suatu tindakan atau menghindari tanggung jawab.
Kenyataan Berkembang Seiring Usia
Kemampuan anak membedakan sesuatu yang nyata dan khayalan tidak langsung terbentuk secara sempurna. Kemampuan ini berkembang secara bertahap dan dapat dipengaruhi oleh usia, pengalaman, serta situasi yang dihadapi.
Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Developmental Psychology melibatkan 62 anak prasekolah. Peneliti meminta anak menilai apakah kejadian dalam ilustrasi buku cerita dapat terjadi dalam kehidupan nyata.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok anak yang lebih tua, dengan usia rata-rata sekitar lima tahun, lebih mampu membedakan kejadian khayalan dari kejadian nyata dibandingkan kelompok yang lebih muda, dengan usia rata-rata sekitar tiga tahun sepuluh bulan.
Temuan ini bukan berarti semua anak kecil tidak mampu membedakan kenyataan dan khayalan. Sebagian anak sudah dapat memahami perbedaannya sejak usia dini, tetapi kemampuan tersebut masih berkembang dan bisa berbeda sesuai konteks.
Karena itu, ketika anak menceritakan sesuatu yang tidak masuk akal, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa ia sedang berbohong.
Cobalah memahami bagaimana anak memaknai cerita tersebut dan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
Bagaimana Harus Bersikap?
Alih-alih langsung memarahi atau menuduh anak berbohong, orang tua dapat melakukan beberapa langkah berikut.
1. Tanyakan apakah cerita tersebut nyata atau khayalan. Ketika anak bercerita tentang kejadian yang tidak masuk akal, orang tua bisa bertanya, “Wah, menarik sekali. Itu benar-benar terjadi atau kamu sedang membayangkannya?”
Pertanyaan terbuka membantu anak belajar membedakan kedua hal tersebut tanpa merasa langsung disalahkan.
2. Hargai imajinasi tanpa mengabaikan kenyataan. Orang tua tetap dapat menikmati cerita buatan anak sambil menjelaskan perbedaan antara bermain pura-pura dan menceritakan kejadian nyata.
Misalnya, orang tua bisa mengatakan bahwa naga dalam cerita boleh menjadi bagian dari permainan, tetapi tidak benar-benar ada di halaman rumah.
3. Berikan kesempatan untuk berkata jujur. Jika anak melakukan kesalahan, dengarkan penjelasannya sebelum memberikan konsekuensi.
Respons yang tenang dapat membantu anak merasa lebih aman untuk mengakui perbuatannya.
4. Jelaskan pentingnya kejujuran. Berikan contoh konkret mengenai dampak kebohongan, seperti hilangnya kepercayaan orang lain.
Hindari hanya mengatakan bahwa berbohong adalah perbuatan buruk tanpa menjelaskan alasannya.
5. Hindari memberi label negatif. Sebutan seperti “pembohong” dapat membuat anak merasa dirinya buruk, alih-alih memahami bahwa perilaku tertentu perlu diperbaiki.
Fokuskan teguran pada tindakan, bukan identitas anak.
Orang tua juga perlu memperhatikan konteks di balik cerita yang tidak sesuai kenyataan.
Anak mungkin sedang berimajinasi, takut dimarahi, ingin mendapatkan perhatian, atau belum mampu menjelaskan suatu kejadian dengan jelas. Respons yang sesuai sebaiknya mempertimbangkan usia dan situasinya.
Jika perilaku berulang kali menimbulkan masalah, mengganggu hubungan sosial, atau disertai kesulitan lain dalam keseharian, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak untuk memperoleh penilaian dan saran yang sesuai.
Pada akhirnya, membantu anak memahami perbedaan antara khayalan dan kenyataan tidak harus dilakukan dengan mematikan imajinasinya.
Orang tua dapat tetap menghargai kreativitas anak sekaligus mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, dan cara bercerita sesuai kenyataan.