Pernah bangun tidur dengan kepala terasa berat, tubuh masih lemas, dan pikiran seperti belum sepenuhnya sadar? Padahal, kamu merasa sudah tidur cukup lama.
Bahkan, untuk sekadar memahami percakapan atau mulai beraktivitas, rasanya masih butuh waktu.
Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk kembali, dan merasa belum siap menghadapi aktivitas sehari-hari.
Iklan
Dalam psikologi dan ilmu tidur, kondisi ketika seseorang masih merasa linglung dan mengantuk sesaat setelah bangun dikenal sebagai sleep inertia.
Fenomena ini merupakan bagian dari proses peralihan tubuh dari tidur menuju kondisi terjaga.
Meski umumnya bersifat sementara, sleep inertia dapat mengganggu aktivitas, terutama jika seseorang harus langsung bekerja, berkendara, atau melakukan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Sleep Inertia
Sleep inertia adalah kondisi ketika seseorang belum sepenuhnya mencapai tingkat kewaspadaan setelah terbangun dari tidur.
Gejalanya dapat berupa rasa kantuk, kebingungan, sulit berpikir jernih, hingga penurunan kemampuan berkonsentrasi.
Dalam artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal Nature and Science of Sleep pada 2019, sleep inertia dibahas sebagai kondisi yang berkaitan dengan penurunan sementara kemampuan kognitif setelah bangun tidur.
Dampaknya umumnya berangsur-angsur berkurang seiring bertambahnya waktu seseorang terjaga.
Kondisi ini biasanya berlangsung sekitar 15-60 menit, meskipun durasinya bisa berbeda pada setiap orang. Kurang tidur dan waktu bangun yang tidak selaras dengan ritme biologis tubuh dapat membuat gejalanya terasa lebih berat.
Jadi, jika kamu sesekali merasa belum benar-benar sadar setelah bangun tidur, hal tersebut belum tentu menandakan adanya masalah kesehatan.
Namun, penting untuk mengenali faktor yang dapat memperburuknya.
Apa Faktor Penyebabnya?
Melansir laman Sleep Foundation pada 10 Juli 2025, ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang merasa tidak segar setelah bangun tidur.
1. Terbangun saat tidur masih dalam. Tidur terdiri atas beberapa tahap, mulai dari tidur ringan hingga tidur dalam.
Jika seseorang terbangun ketika berada dalam tahap tidur dalam, proses menuju kondisi sadar sepenuhnya dapat terasa lebih berat.
2. Kurang tidur pada malam sebelumnya. Durasi tidur yang tidak mencukupi dapat memperburuk sleep inertia.
Kekurangan tidur juga berkaitan dengan penurunan kewaspadaan dan kemampuan berkonsentrasi setelah bangun.
3. Jam biologis tubuh belum siap untuk beraktivitas. Tubuh memiliki ritme sirkadian yang membantu mengatur siklus tidur dan bangun.
Jika seseorang terbangun ketika tubuh secara biologis masih berada dalam periode istirahat, rasa kantuk dan linglung dapat terasa lebih kuat.
Ketiga faktor tersebut dapat saling berkaitan. Misalnya, seseorang yang tidur terlalu larut tetapi harus bangun pagi berisiko mengalami kekurangan tidur sekaligus terbangun ketika tubuh belum siap sepenuhnya untuk beraktivitas.
Berapa Lama Berlangsung?
Pada umumnya, sleep inertia mulai berkurang setelah seseorang terjaga selama beberapa waktu.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa kondisi ini biasanya berlangsung sekitar 15–60 menit, tetapi dapat bertahan lebih lama ketika seseorang mengalami kekurangan tidur.
Tingkat keparahannya juga tidak selalu sama. Ada orang yang hanya membutuhkan beberapa menit untuk merasa segar, sedangkan orang lain memerlukan waktu lebih lama sebelum dapat berpikir dan beraktivitas secara optimal.
Faktor individu, kualitas tidur, durasi istirahat, dan ritme biologis turut memengaruhi seberapa berat gejala yang dirasakan.
Jika rasa linglung berlangsung jauh lebih lama dari biasanya, sering terjadi meskipun sudah tidur cukup, atau disertai kantuk berlebihan sepanjang hari, sebaiknya periksakan diri ke tenaga kesehatan untuk mengetahui kemungkinan penyebab lainnya.
Ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu tubuh beradaptasi setelah bangun tidur.
1. Biasakan jadwal tidur yang teratur. Usahakan memenuhi kebutuhan tidur sesuai usia. Bagi kebanyakan orang dewasa, durasi tidur yang dianjurkan sekitar 7-9 jam setiap malam.
2. Berikan waktu untuk benar-benar terjaga. Jangan langsung memaksakan diri melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi jika masih merasa mengantuk atau linglung.
3. Cari paparan cahaya pagi. Membuka tirai atau mendapatkan cahaya alami setelah bangun dapat membantu tubuh mengenali bahwa waktu beraktivitas telah dimulai.
4. Bangun secara bertahap. Cobalah duduk terlebih dahulu di tepi tempat tidur sebelum berdiri, terutama jika masih merasa pusing atau belum sepenuhnya sadar.
5. Hindari langsung mengemudi ketika masih mengantuk. Tunggu sampai kewaspadaan kembali memadai karena rasa kantuk dapat mengganggu konsentrasi dan waktu reaksi.
Bangun tidur dengan perasaan belum sepenuhnya sadar tidak selalu menandakan adanya gangguan kesehatan. Sleep inertia merupakan fenomena yang dapat terjadi secara alami.
Namun, memahami pemicunya, menjaga kualitas tidur, dan memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dapat membantu seseorang memulai hari dengan lebih aman dan nyaman.