Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Wasabi Asli Ternyata Mahal dan Sulit Dibudidayakan, Ini Bedanya dengan Pasta Hijau Biasa

Karena itu, restoran yang menyajikan wasabi segar biasanya memarutnya sesaat sebelum dihidangkan agar aroma dan cita rasanya tetap optimal.

Wasabi
Wasabi. (Foto: Unsplash/David Todd McCarty)

Pencinta sushi tentu sudah tidak asing dengan pasta hijau yang memberikan sensasi pedas menusuk hingga ke hidung.

Pasta tersebut dikenal sebagai wasabi dan kerap disajikan bersama sushi maupun sashimi untuk menambah cita rasa.

Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua pasta hijau yang disajikan di restoran benar-benar berasal dari tanaman wasabi? Sebagian produk justru dibuat menggunakan campuran lobak pedas atau horseradish, mustard, dan pewarna makanan.

Iklan

Meski sekilas terlihat mirip, wasabi asli memiliki karakter aroma dan rasa yang khas. Lantas, apa sebenarnya bahan pembuat wasabi, mengapa tanaman ini relatif sulit dibudidayakan, dan bagaimana membedakannya dari produk pengganti?

Berasal dari Tanaman Khas Jepang

Wasabi asli berasal dari tanaman Eutrema japonicum, yang juga dikenal dengan nama Wasabia japonica. Tanaman ini termasuk keluarga Brassicaceae sehingga masih berkerabat dengan kubis, brokoli, dan mustard.

Bagian tanaman yang biasa diparut untuk membuat pasta wasabi adalah batang bawah yang menebal, dikenal sebagai rimpang (rhizome).

Bagian ini diparut hingga menghasilkan pasta berwarna hijau alami dengan aroma segar dan sensasi pedas yang khas.

Tanaman wasabi membutuhkan kondisi pertumbuhan khusus, seperti lingkungan sejuk, teduh, dan pasokan air yang sesuai.

Tanaman ini juga sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan sehingga budidayanya relatif lebih sulit dibandingkan sejumlah tanaman sayuran biasa.

Kebutuhan lingkungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat produksi wasabi asli tidak mudah dilakukan dalam skala besar.

Terasa Pedas sampai ke Hidung

Berbeda dengan cabai yang menghasilkan sensasi panas melalui senyawa capsaicin, rasa pedas wasabi berasal dari kelompok senyawa isothiocyanate, terutama allyl isothiocyanate (AITC).

Senyawa tersebut terbentuk ketika jaringan tanaman diparut atau dihancurkan.

Proses ini mempertemukan senyawa glucosinolate dengan enzim myrosinase, sehingga menghasilkan senyawa yang memberikan aroma tajam dan sensasi pedas khas.

Karena sifatnya mudah menguap, sensasi pedas wasabi lebih terasa di rongga hidung dan relatif cepat menghilang. Hal ini berbeda dengan sensasi panas cabai yang dapat bertahan lebih lama di mulut.

Itulah sebabnya sensasi wasabi sering terasa seperti menusuk hidung sesaat, kemudian mereda dalam waktu relatif singkat.

Wasabi Belum Tentu Asli

Melansir Chemical & Engineering News dari American Chemical Society, banyak produk pengganti wasabi dibuat menggunakan horseradish atau lobak pedas, mustard, dan pewarna makanan.

Campuran tersebut digunakan karena lebih mudah diproduksi dan dapat memberikan sensasi pedas yang menyerupai wasabi asli.

Meski tampilannya bisa sangat mirip, keduanya memiliki karakter yang berbeda. Wasabi asli dikenal memiliki aroma segar dengan sensasi pedas yang relatif cepat memudar.

Sementara itu, produk pengganti dapat memiliki karakter rasa dan aroma yang berbeda, bergantung pada komposisinya.

Namun, rasa saja tidak selalu cukup untuk memastikan keaslian suatu produk. Cara yang lebih praktis adalah memeriksa daftar bahan pada kemasan atau menanyakan kepada restoran apakah pasta yang disajikan menggunakan wasabi asli atau campuran pengganti.

Wasabi Asli Lebih Mahal

Salah satu penyebab tingginya harga wasabi asli adalah proses budidayanya yang membutuhkan waktu dan lingkungan pertumbuhan yang sesuai.

Tanaman wasabi dapat membutuhkan waktu sekitar 18 bulan hingga siap dipanen, meskipun waktu panen dapat berbeda bergantung pada varietas dan kondisi budidaya.

Selain itu, tanaman ini sensitif terhadap perubahan lingkungan sehingga produksinya tidak selalu mudah dilakukan dalam jumlah besar.

Wasabi segar juga memiliki keterbatasan dalam penyajian. Setelah diparut, aroma dan sensasi pedasnya dapat berkurang dalam waktu relatif singkat, termasuk sekitar 15 menit dalam kondisi tertentu.

Karena itu, restoran yang menyajikan wasabi segar biasanya memarutnya sesaat sebelum dihidangkan agar aroma dan cita rasanya tetap optimal.

Pasta hijau yang selama ini menemani sushi favoritmu belum tentu berasal dari tanaman wasabi.

Jika ingin mengetahui bahan yang digunakan, periksa komposisi produk atau tanyakan langsung kepada pihak restoran. Dengan begitu, kamu bisa lebih memahami apa yang sebenarnya tersaji di piringmu.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti asal Indonesia lulusan Universitas Esa Unggul.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar