Menariknya, fenomena ini juga mulai mendapat perhatian dalam penelitian akademis.
Eldest Daughter Syndrome
Melansir Cleveland Clinic, eldest daughter syndrome merupakan istilah populer untuk menggambarkan tekanan dan tanggung jawab berlebih yang kerap dialami anak perempuan tertua dalam keluarga.
Meski menggunakan kata syndrome, kondisi ini bukan diagnosis gangguan mental yang diakui secara medis. Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep psikologis bernama parentification, yaitu situasi ketika anak mengambil tanggung jawab yang seharusnya dijalankan oleh orang dewasa.
Misalnya, anak merasa wajib mengurus kebutuhan adiknya, menjadi penengah konflik keluarga, hingga ikut memikirkan persoalan keuangan orang tua.
Anak Perempuan Pertama
Tuntutan menjadi teladan, mengurus pekerjaan domestik, serta memenuhi harapan emosional keluarga dapat membuat anak perempuan terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri.
Dengan demikian, rasa tanggung jawab berlebihan tidak semata-mata muncul karena urutan kelahiran, tetapi juga dipengaruhi ekspektasi sosial yang diberikan keluarga.
Mereka terbiasa menjadi sosok yang diandalkan, meskipun sebenarnya juga membutuhkan dukungan dan perhatian.
Berdampak Kesehatan Mental
Tanggung jawab keluarga sebenarnya dapat membantu anak mengembangkan kemandirian. Namun, persoalan muncul ketika beban yang diberikan tidak sesuai dengan usia dan kemampuan emosionalnya.
Dalam jurnal Parentification: Identifying Young Caregivers at Ris dalam The Journal for Nurse Practitioners tahun 2024, menjelaskan bahwa pemberian tanggung jawab pengasuhan orang dewasa kepada anak berpotensi menimbulkan tantangan perkembangan, akademik, fisik, dan psikologis.
Anak yang terus-menerus merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan anggota keluarganya dapat kesulitan mengenali kebutuhan pribadi maupun menetapkan batasan.
Tidak Selalu Menjadi Andalan
Tidak semua anak perempuan pertama mengalami eldest daughter syndrome. Pengalaman setiap individu tetap dipengaruhi pola komunikasi, pembagian tanggung jawab, dan kondisi keluarga masing-masing.
Membantu orang tua maupun menjaga adik merupakan bagian dari kehidupan keluarga. Namun, tanggung jawab tersebut sebaiknya dibagikan secara proporsional dan tidak dibebankan kepada satu anak hanya karena ia lahir lebih dahulu.
Anak perempuan pertama tetap memiliki hak untuk beristirahat, menentukan pilihan hidup, meminta bantuan, dan sesekali tidak menjadi orang yang menyelesaikan seluruh persoalan keluarga. Sebab, menjadi kakak tertua bukan berarti harus menjalankan peran sebagai orang tua kedua.