Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Perempuan Lebih Rentan Mengalami Osteoporosis daripada Laki-Laki, Ternyata Ini Penyebabnya!

Lantas, mengapa perempuan lebih rentan mengalami osteoporosis? Berikut beberapa faktor yang perlu diketahui.

Ilustrasi sakit.
Ilustrasi sakit (Foto: Unsplash/Raj Tuladhar)

Osteoporosis sering disebut sebagai penyakit pengeroposan tulang yang datang diam-diam. Pasalnya, kondisi ini kerap tidak menimbulkan gejala hingga seseorang mengalami patah tulang, bahkan akibat benturan ringan atau saat melakukan aktivitas sehari-hari.

Menariknya, risiko osteoporosis pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Hal ini bukan hanya berkaitan dengan pertambahan usia, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan hormon, karakteristik tulang, hingga kebiasaan hidup sehari-hari.

Iklan

Lantas, mengapa perempuan lebih rentan mengalami osteoporosis? Berikut beberapa faktor yang perlu diketahui.

Penurunan Hormon Estrogen

Dilansir dari laman Rumah Sakit Columbia Asia pada 9 Mei 2025, salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko osteoporosis pada perempuan adalah perubahan kadar hormon estrogen, terutama setelah menopause.

Estrogen berperan penting dalam menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penguraian jaringan tulang.

Ketika kadar hormon ini menurun, proses pengeroposan tulang dapat berlangsung lebih cepat daripada pembentukan tulang baru.

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Cuaca Panas Bikin Makeup Luntur? Soulyu Hadirkan Bedak SPF untuk Reapply Sunscreen

Akibatnya, kepadatan tulang berangsur menurun dan risiko patah tulang meningkat. Kehilangan massa tulang bahkan dapat berlangsung lebih cepat dalam beberapa tahun pertama setelah menopause.

Struktur Tulang Perempuan Berbeda

Selain faktor hormonal, karakteristik tulang juga turut memengaruhi risiko osteoporosis. Secara biologis, perempuan umumnya memiliki ukuran tulang yang lebih kecil dan massa tulang puncak yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Massa tulang puncak merupakan kondisi ketika kepadatan dan kekuatan tulang mencapai tingkat maksimal, yang biasanya terjadi pada usia dewasa muda.

Perbedaan ini membuat perempuan umumnya memiliki cadangan massa tulang yang lebih sedikit ketika kepadatan tulang mulai berkurang seiring bertambahnya usia.

Berdasarkan data International Osteoporosis Foundation (IOF), sekitar 21,2 persen perempuan berusia di atas 50 tahun di dunia mengalami osteoporosis. Sementara itu, angka pada laki-laki dalam kelompok usia yang sama sekitar 6,3 persen.

Satu dari Tiga Perempuan Berisiko Mengalami Patah Tulang

Dampak osteoporosis tidak bisa dianggap sepele. IOF mencatat bahwa satu dari tiga perempuan berusia di atas 50 tahun diperkirakan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang sisa hidupnya. Sebagai perbandingan, risiko tersebut terjadi pada satu dari lima laki-laki.

Patah tulang akibat osteoporosis paling sering menjadi perhatian ketika terjadi pada bagian pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa sakit, tetapi juga dapat membatasi mobilitas, mengurangi kemandirian, hingga memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Gaya Hidup Juga Berpengaruh

Meski perubahan hormon berperan besar, osteoporosis tidak hanya berkaitan dengan menopause. Kebiasaan sehari-hari dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat memengaruhi kepadatan tulang.

National Institutes of Health (NIH) menjelaskan bahwa kekurangan kalsium dan vitamin D, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko osteoporosis.

Selain itu, perempuan dengan berat badan terlalu rendah, riwayat keluarga osteoporosis, atau yang mengalami menopause dini juga perlu lebih memperhatikan kesehatan tulangnya.

Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid dalam jangka panjang, turut berisiko mempercepat kehilangan massa tulang.

Osteoporosis bukan kondisi yang baru perlu diwaspadai ketika usia mulai bertambah.

Menjaga kesehatan tulang sejak dini, melalui asupan nutrisi yang cukup dan aktivitas fisik yang sesuai, menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi risiko pengeroposan dan patah tulang di kemudian hari.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti asal Indonesia lulusan Universitas Esa Unggul.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar