Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Tren Campur Lotion, Serum, dan Parfum Biar Kulit Glowing, Hati-Hati Risiko Iritasi Mengintai!

Alih-alih membuat perawatan kulit lebih optimal, racikan yang tidak tepat justru memicu iritasi, reaksi alergi, hingga dermatitis kontak.

Ilustrasi DIY Mixology body care.
Ilustrasi DIY Mixology body care (Foto: Magnific)

Pernah melihat tren mencampurkan body lotion, serum, body oil, hingga parfum agar kulit lebih lembap, cerah, sekaligus wangi tahan lama? Tren yang dikenal sebagai DIY mixology ini menarik perhatian karena memungkinkan seseorang meracik produk perawatan tubuh sesuai selera.

Sekilas, mencampurkan beberapa produk kecantikan terlihat seperti cara praktis untuk mendapatkan manfaat sekaligus. Namun, tidak semua produk aman dicampur begitu saja.

Alih-alih membuat perawatan kulit lebih optimal, racikan yang tidak tepat justru berpotensi memicu iritasi, reaksi alergi, hingga dermatitis kontak.

Iklan

Lantas, apa itu DIY mixology dan mengapa mencampurkan produk perawatan tubuh perlu dilakukan dengan hati-hati?

DIY Mixology

DIY mixology merupakan praktik mencampurkan beberapa produk perawatan tubuh untuk mendapatkan hasil atau aroma sesuai preferensi pribadi.

Contohnya, mencampurkan body lotion dengan serum pencerah, menambahkan body oil agar kulit terasa lebih lembap, atau memasukkan parfum ke dalam lotion supaya aromanya lebih tahan lama.

Namun, setiap produk kosmetik telah diformulasikan dengan komposisi, konsentrasi bahan aktif, tingkat keasaman atau pH, serta sistem pengawet tertentu.

Semua komponen tersebut dirancang agar produk memiliki karakteristik dan kestabilan sesuai tujuan penggunaannya.

Mengutip informasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang disampaikan pada 18 September 2024, mencampurkan beberapa produk kosmetik untuk membuat racikan baru berpotensi menimbulkan risiko yang tidak diketahui.

Produk hasil campuran juga belum tentu memiliki kestabilan, keamanan, dan efektivitas yang sama dengan produk aslinya.

Pilihan EditorOssid Duha Jussas Salma

Kosmetik Impor Belum Tentu Aman, Begini Cara Cek Legalitas Produk Sebelum Membeli

Risikonya bisa semakin besar jika campuran disimpan dalam satu wadah dan digunakan berulang kali tanpa prosedur kebersihan yang memadai.

Mengapa Bisa Berbahaya?

Tidak semua bahan kosmetik cocok dicampurkan secara langsung. Ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan sebelum mencoba tren ini.

  1. Meningkatkan risiko iritasi kulit. Penggunaan beberapa produk dengan bahan aktif yang berpotensi mengiritasi, seperti AHA, secara bersamaan dapat meningkatkan risiko kulit mengalami kemerahan, rasa perih, atau pengelupasan. Risikonya bergantung pada jenis bahan, konsentrasi, dan kondisi kulit.
  2. Memicu reaksi alergi. Menambahkan parfum atau produk berpewangi ke dalam lotion dapat meningkatkan paparan zat pewangi yang berpotensi memicu dermatitis kontak alergi pada orang yang sensitif.
  3. Mengganggu kestabilan formula. Perbedaan pH, komposisi, dan bahan pengemulsi dapat memengaruhi kestabilan produk setelah dicampurkan. Dampaknya bergantung pada formula masing-masing produk dan tidak selalu bisa diketahui hanya dari tampilan campurannya.
  4. Meningkatkan risiko kontaminasi. Memindahkan dan mencampurkan produk ke wadah baru yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko masuknya mikroorganisme, seperti bakteri dan jamur. Sistem pengawet dalam produk awal juga belum tentu efektif untuk campuran baru.

Karena itu, mencampurkan produk bukan sekadar soal apakah tekstur dan aromanya cocok. Formula yang terlihat baik belum tentu memiliki kestabilan dan keamanan yang sama seperti sebelum dicampur.

Risiko Alergi

Risiko penggunaan produk perawatan tubuh tidak hanya berkaitan dengan bahan aktif pencerah atau eksfoliasi. Komponen lain, termasuk pewangi dan bahan pengawet, juga dapat memicu reaksi pada orang tertentu.

Sebuah artikel tinjauan ilmiah mengenai dermatitis kontak alergi akibat produk perawatan pribadi yang disebut dalam naskah menyoroti berbagai komponen yang berpotensi menjadi alergen.

Di antaranya pewangi, bahan pengawet, ekstrak tumbuhan, surfaktan, emolien, dan pengemulsi.

Beberapa senyawa yang perlu diperhatikan pada orang yang sensitif terhadap bahan tertentu meliputi limonene hydroperoxides, linalool hydroperoxides, dan sodium benzoate.

Namun, keberadaan suatu bahan tidak otomatis berarti produk tersebut akan menyebabkan alergi pada semua orang. Risiko dipengaruhi oleh sensitivitas individu, konsentrasi, dan cara paparan.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa menggunakan lebih banyak produk tidak selalu berarti kulit mendapatkan lebih banyak manfaat.

Semakin banyak produk yang dicampurkan, semakin sulit pula menentukan bahan mana yang menyebabkan reaksi jika kulit mengalami masalah.

Tanda Kulit Tidak Cocok

Melansir American Academy of Dermatology (AAD), dermatitis kontak dapat terjadi ketika kulit terpapar bahan yang menyebabkan iritasi atau memicu reaksi alergi. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Kulit terasa gatal, panas, atau perih.
  • Muncul ruam kemerahan.
  • Kulit menjadi sangat kering atau mengelupas.
  • Timbul pembengkakan.
  • Muncul lepuhan kecil berisi cairan.

Reaksi tersebut tidak selalu muncul sesaat setelah pemakaian. Pada dermatitis kontak alergi, gejala dapat berkembang beberapa jam hingga beberapa hari setelah paparan.

Jika kulit mengalami reaksi setelah menggunakan produk racikan, hentikan pemakaian dan bersihkan produk secara lembut.

Hindari mencoba produk tambahan untuk menutupi gejalanya. Jika keluhan berat, meluas, terus memburuk, atau disertai pembengkakan pada wajah maupun kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.

Pada akhirnya, mendapatkan kulit yang sehat tidak harus dilakukan dengan mencampurkan berbagai produk sekaligus.

Memilih produk sesuai kebutuhan, mengikuti petunjuk penggunaan, dan menggunakannya secara konsisten merupakan pendekatan yang lebih terukur daripada bereksperimen dengan formula yang belum teruji.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti asal Indonesia lulusan Universitas Esa Unggul.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar