Selama ini, banyak orang mengira kolesterol tinggi hanya menjadi masalah bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih.
Padahal, orang bertubuh kurus atau memiliki berat badan ideal juga bisa memiliki kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL) yang tinggi.
Masalahnya, kolesterol tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala khusus.
Iklan
Seseorang bisa terlihat bugar, aktif beraktivitas, dan memiliki tubuh ramping tanpa menyadari bahwa kadar kolesterol dalam darahnya sudah melebihi batas yang dianjurkan.
Karena itu, penampilan fisik tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai kadar kolesterol. Lantas, mengapa orang kurus juga bisa mengalami kolesterol tinggi?
Berat Badan Bukan Penentu
Kolesterol merupakan zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hormon, vitamin D, dan membran sel.
Namun, kadar kolesterol LDL yang terlalu tinggi dapat memicu penumpukan plak pada dinding pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Seseorang dengan indeks massa tubuh (IMT) normal tidak otomatis memiliki profil lemak darah yang sehat.
Kadar kolesterol dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, pola makan, dan aktivitas fisik hingga kondisi kesehatan tertentu.
Artinya, tubuh yang terlihat ramping bukan jaminan seseorang terbebas dari risiko kolesterol tinggi maupun penyakit jantung dan pembuluh darah.
Faktor Genetik
Salah satu penyebab kolesterol tinggi yang kerap luput diperhatikan adalah faktor keturunan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat kondisi genetik bernama familial hypercholesterolemia (FH), yaitu kelainan yang membuat tubuh kesulitan membuang kolesterol LDL dari darah.
CDC memperkirakan FH dialami sekitar satu dari 311 orang di seluruh dunia. Orang dengan kondisi ini dapat memiliki kadar LDL yang sangat tinggi sejak usia muda, terlepas dari berat badan atau bentuk tubuhnya.
Jika tidak ditangani, FH dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung pada usia yang lebih muda.
Karena itu, riwayat kolesterol tinggi atau penyakit jantung pada keluarga, terutama pada usia relatif muda, perlu menjadi perhatian.
Pemeriksaan dan penanganan lebih awal dapat membantu mengurangi risiko komplikasi.
Pola Makan dan Kurang Gerak
Selain faktor genetik, kebiasaan sehari-hari juga berpengaruh terhadap kadar kolesterol. Orang bertubuh kurus yang sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans tetap berisiko mengalami peningkatan LDL.
Beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan antara lain terlalu sering mengonsumsi gorengan atau makanan tinggi lemak jenuh, kurang mengonsumsi makanan berserat, merokok, dan jarang berolahraga.
American Heart Association (AHA) menekankan pentingnya pola makan sehat dan aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan jantung.
Memiliki tubuh kurus tidak otomatis melindungi seseorang dari kolesterol tinggi. Karena itu, menjaga pola makan dan tetap aktif bergerak tetap penting, berapa pun berat badan seseorang.
Tidak Menunjukkan Gejala
Salah satu hal yang membuat kolesterol tinggi perlu diwaspadai adalah kondisinya yang sering berkembang tanpa gejala.
Seseorang bisa merasa sehat, tetap aktif, dan memiliki berat badan ideal meskipun kadar LDL dalam darahnya tinggi.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kelebihan LDL dapat berkontribusi pada penumpukan plak di dinding pembuluh darah.
Seiring waktu, kondisi ini dapat mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
Karena tidak bisa dikenali hanya dari penampilan atau kondisi tubuh, pemeriksaan darah menjadi cara penting untuk mengetahui kadar kolesterol.
Pada akhirnya, menjaga kolesterol bukan sekadar soal menurunkan berat badan.
Mengonsumsi makanan kaya serat, membatasi lemak jenuh, rutin beraktivitas fisik, menghindari rokok, dan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan tetap penting bagi siapa saja, termasuk orang yang bertubuh kurus.