Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Fenomena Joki Baca Buku, Ketika Orang Lebih Memilih Bayar daripada Membaca Sendiri

Fenomena joki kini tidak hanya ditemukan dalam pengerjaan tugas sekolah atau kuliah. Di media sosial, muncul istilah joki baca buku, yakni layanan yang menawarkan jasa membaca buku milik orang lain

Baca buku (Foto: Unsplash/Melanie Deziel)
Baca buku (Foto: Unsplash/Melanie Deziel)

Fenomena joki kini tidak hanya ditemukan dalam pengerjaan tugas sekolah atau kuliah. Di media sosial, muncul istilah joki baca buku, yakni layanan yang menawarkan jasa membaca buku milik orang lain, kemudian menyampaikan kembali isinya dalam bentuk rangkuman, catatan, hingga diskusi.

Kehadiran jasa ini memunculkan perdebatan. Di satu sisi, joki baca buku dianggap membantu orang yang tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan bacaan.

Namun, di sisi lain, fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kebiasaan literasi masyarakat. Apakah membaca mulai dianggap sebagai pekerjaan yang bisa dialihkan kepada orang lain?

Iklan

Viral di Threads

Pada Oktober 2026, akun Threads @inilindri menarik perhatian setelah menawarkan jasa membaca buku berbahasa Indonesia maupun Inggris, baik fiksi maupun nonfiksi.

Layanan yang ditawarkan mencakup pembacaan buku setebal 100–800 halaman, pemberian highlight, pemasangan penanda halaman, hingga dokumentasi foto untuk kebutuhan media sosial.

Tarif yang tercantum dalam unggahan viral tersebut berkisar Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta. Namun, pemilik akun kemudian menjelaskan bahwa nominal tersebut bukan tarif sebenarnya, melainkan bagian dari upaya menarik perhatian calon pelanggan.

Pemilik akun juga menyebut bahwa salah satu sasaran jasanya adalah orang yang ingin terlihat sebagai bookworm atau pencinta buku di media sosial.

Bagian dari Citra Diri

Fenomena joki baca buku memperlihatkan bagaimana aktivitas literasi dapat bersinggungan dengan kebutuhan membangun citra di media sosial.

Buku tidak lagi sekadar menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga dapat digunakan sebagai bagian dari identitas seseorang.

Koleksi buku, halaman yang dipenuhi catatan, hingga unggahan ulasan dapat menciptakan kesan bahwa pemiliknya memiliki kebiasaan membaca yang kuat.

Meski demikian, membagikan aktivitas membaca di media sosial bukanlah sesuatu yang keliru. Persoalan muncul ketika seseorang sengaja menampilkan hasil bacaan orang lain seolah-olah merupakan pengalaman pribadinya.

Membaca Menjadi Tantangan

Di tengah kemunculan fenomena tersebut, kemampuan literasi membaca Indonesia masih menghadapi tantangan.

Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA), hanya sekitar 25 persen pelajar Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai kompetensi membaca Level 2 atau lebih tinggi.

Pada tingkat tersebut, seseorang setidaknya mampu menemukan gagasan utama, mencari informasi, dan memahami tujuan sebuah teks.

Data ini memang tidak menunjukkan hubungan langsung dengan kemunculan joki baca buku. Namun, hasil tersebut mengingatkan bahwa kemampuan membaca bukan hanya persoalan menyelesaikan sejumlah halaman, melainkan juga memahami informasi yang terkandung di dalamnya.

Jasa Literasi

Keberadaan joki baca buku sebenarnya dapat dilihat dari dua sisi. Apabila digunakan untuk membantu membuat ringkasan, menyusun catatan, atau mendampingi seseorang memahami bacaan yang sulit, layanan tersebut berpotensi menjadi bentuk pekerjaan di bidang literasi.

Sebaliknya, apabila tujuannya hanya menciptakan kesan telah membaca puluhan buku tanpa benar-benar melakukannya, fenomena ini justru menggeser makna kegiatan membaca menjadi sebatas penampilan.

Terlebih, viralnya satu penawaran jasa belum cukup untuk membuktikan bahwa praktik joki baca buku telah menjadi kebiasaan luas di masyarakat.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa memiliki buku, memamerkan kutipan, dan menyelesaikan bacaan merupakan tiga hal yang berbeda.

Iklan