Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Sering Didiamkan Keluarga Saat Kecil? Dampak Silent Treatment Bisa Terbawa hingga Dewasa

Silent treatment yang dialami sejak kecil dalam keluarga dapat meninggalkan dampak emosional hingga dewasa, mulai dari kesulitan mengungkapkan perasaan, takut ditolak, hingga kecenderungan mengulangi.

Ilustrasi silent treatment
Ilustrasi silent treatment (Foto: Magnific/tirachard)

Tidak semua luka masa kecil berasal dari bentakan atau kekerasan fisik. Sikap diam yang dilakukan anggota keluarga sebagai bentuk hukuman juga dapat meninggalkan dampak emosional, terutama jika terjadi berulang kali.

Perilaku ini dikenal sebagai silent treatment, yakni tindakan sengaja mengabaikan, tidak merespons, atau memutus komunikasi untuk menunjukkan kemarahan maupun menghukum seseorang.

Dalam lingkungan keluarga, silent treatment bisa muncul ketika orang tua mendiamkan anak setelah melakukan kesalahan, mengabaikan pertanyaannya, atau menolak berbicara hingga anak meminta maaf.

Iklan

Meski terlihat sederhana, pola komunikasi tersebut berpotensi memengaruhi cara seseorang memahami konflik, membangun hubungan, dan mengekspresikan perasaannya hingga dewasa.

Silent Treatment

Diam untuk menenangkan diri berbeda dengan sengaja mendiamkan seseorang sebagai bentuk hukuman.

Mengambil jeda ketika emosi meningkat merupakan hal yang wajar, terutama jika disertai penjelasan bahwa komunikasi akan dilanjutkan setelah situasi lebih tenang.

Sebaliknya, silent treatment membuat seseorang berada dalam ketidakpastian karena tidak mengetahui kapan dirinya akan kembali diterima atau diajak berkomunikasi.

Dalam hubungan keluarga, kondisi ini dapat terasa lebih berat bagi anak karena orang tua merupakan sumber utama rasa aman dan dukungan emosional.

Terbawa hingga Dewasa

Penelitian dari Journal of Family Communication melibatkan 182 anak yang telah dewasa untuk mengamati hubungan antara perilaku silent treatment orang tua dan pola komunikasi anak.

Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan silent treatment oleh orang tua berkaitan dengan kecenderungan anak melakukan perilaku serupa ketika dewasa.

Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara penggunaan silent treatment oleh anak dewasa dan rendahnya harga diri (self-esteem).

Temuan ini memperlihatkan bahwa pola komunikasi yang dipelajari dalam keluarga berpotensi terbawa ke hubungan interpersonal berikutnya, meskipun tidak selalu dialami setiap individu.

Sulit Mengungkapkan Perasaan

Anak yang terbiasa didiamkan ketika melakukan kesalahan berisiko mengembangkan pemahaman bahwa kasih sayang dapat hilang sewaktu-waktu ketika dirinya mengecewakan orang lain.

Ketika dewasa, pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah kesulitan emosional, seperti:

  • Takut menyampaikan ketidaksetujuan karena khawatir ditinggalkan.
  • Merasa bersalah ketika orang lain sedang marah.
  • Cenderung menghindari konflik daripada menyelesaikannya.
  • Sulit mengungkapkan kebutuhan emosional secara terbuka.
  • Membutuhkan kepastian berulang bahwa dirinya masih diterima.

Kebiasaan Berulang

Dampak silent treatment tidak hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya. Perilaku tersebut juga berpotensi menjadi pola komunikasi yang ditiru.

Seseorang yang tumbuh dalam keluarga dengan kebiasaan saling mendiamkan mungkin menganggap tindakan serupa sebagai cara yang normal untuk menghadapi pertengkaran.

Penggunaan perilaku ini secara berulang juga berpotensi menghambat penyelesaian konflik karena persoalan yang sebenarnya tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

Bisakah Diputus?

Pengalaman masa kecil tidak otomatis menentukan bagaimana seseorang menjalani hubungan ketika dewasa. Pola komunikasi yang kurang sehat tetap dapat dikenali dan diubah.

Ada beberapa cara agar pola komunikasi bisa lebih baik, misalnya seperti mengenali kebiasan menarik diri, belajar menyampaikan kemarahan, atau mengambil jeda dengan memberikan penjelasan. Namun kebiasaan tersebut juga harus diupayakan.

Bagi orang tua, penting untuk menunjukkan bahwa kesalahan anak dapat dibicarakan tanpa harus mencabut perhatian maupun kasih sayang.

Anak tetap membutuhkan batasan dan konsekuensi, tetapi juga perlu memahami bahwa konflik tidak membuat dirinya kehilangan tempat dalam keluarga.

Iklan