Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Ekonom UI Bongkar Masalah Dunia Kerja, Industri Melemah, Anak Muda Makin Sulit Cari Pekerjaan!

Pengangguran anak muda meningkat di tengah ketatnya persaingan kerja. Ekonom UI Ninasapti Triaswati menyoroti ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan industri dan terbatasnya lapangan kerja formal

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati menilai pengangguran usia muda menjadi persoalan serius di pasar tenaga kerja Indonesia.

Ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dan kebutuhan industri atau mismatch menjadi salah satu faktor yang menyulitkan anak muda memasuki dunia kerja.

Jadi kita harus tahu bahwa ada masalah mismatch,”

kata Ninasapti di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen atau sekitar 7,22 juta orang.

Iklan

Angka tersebut turun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,68 persen. Meski demikian, persoalan penyerapan tenaga kerja, khususnya bagi kelompok usia muda, masih menjadi perhatian.

Menurut Ninasapti, persoalan pengangguran anak muda tidak terlepas dari terbatasnya lapangan pekerjaan dan ketatnya persaingan di pasar tenaga kerja.

Para pencari kerja yang baru lulus juga harus bersaing dengan tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman.

Kalau bersaing dari sisi pengalaman kerjanya sudah pasti kalah karena dia sudah berpengalaman,”

ujarnya.

Selain pengalaman kerja, perkembangan teknologi dan digitalisasi turut mengubah kebutuhan tenaga kerja.

Penggunaan otomatisasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi mengurangi kebutuhan pekerja pada sejumlah jenis pekerjaan formal.

Ninasapti mencontohkan perubahan tersebut terjadi di sektor ritel dan perusahaan digital. Menurutnya, sejumlah pekerjaan mulai dialihkan ke sistem berbasis teknologi.

Jadi yang namanya, kalau Anda lihat Shopee, Tokopedia, Goto, itu kan layoff-nya besar-besar, PHK-nya besar-besar. Semakin teknologi itu masuk, perusahaan kan menggantinya dengan sistem dan coding,”

tuturnya.

Di sisi lain, Ninasapti menyoroti pertumbuhan lapangan kerja yang dinilai lebih banyak terjadi di sektor jasa dan informal dibandingkan sektor industri.

Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan persoalan industrialisasi di Indonesia belum terselesaikan.

Padahal, sektor industri diharapkan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus penyerap tenaga kerja. Ia menilai lemahnya industrialisasi membuat tenaga kerja beralih ke sektor jasa.

Jadi kita ini belum selesai PR yang satu, yaitu industrialisasi. Kita sudah ke jasa. Jadi harusnya sektor pertanian ke sektor industri, ke sektor jasa. Industrinya jeblok, semua lari ke jasa,”

jelasnya.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memperhatikan persoalan transisi dari pendidikan ke dunia kerja, kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, serta perluasan kegiatan ekonomi produktif.

Upaya tersebut dinilai penting agar peningkatan keterampilan anak muda diikuti ketersediaan kesempatan kerja yang layak.

Dengan demikian, lulusan pendidikan tidak hanya dibekali kompetensi, tetapi juga memiliki peluang untuk terserap di pasar tenaga kerja di tengah perubahan kebutuhan industri.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar