Pemulihan Emosi
Penelitian dalam jurnal Stress Science Research pada 2015 meneliti 14 mahasiswa sehat untuk mengetahui pengaruh air mata emosional terhadap stres.
Setelah menjalani tugas berhitung yang menimbulkan tekanan mental, para partisipan diminta menonton adegan film emosional atau memotong bawang.
Hasilnya, kelompok yang menangis karena menonton adegan emosional mengalami penurunan kelelahan berdasarkan penilaian suasana hati dan rasio variabilitas denyut jantung yang digunakan dalam penelitian tersebut. Sebaliknya, air mata akibat memotong bawang tidak menunjukkan penurunan serupa.
Temuan ini mengindikasikan bahwa tangisan emosional mungkin membantu meredakan stress.
Merasa Lebih Lega
Menangis dapat menjadi bagian dari proses pengaturan emosi atau emotion regulation. Ketika seseorang mengalami kesedihan, kekecewaan, atau tekanan, tangisan dapat menjadi respons untuk mengekspresikan emosi yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.
Jurnal Frontiers in Psychology tahun 2014 membahas kemungkinan menangis berfungsi sebagai perilaku self-soothing, yaitu proses menenangkan diri.
Proses ini diduga melibatkan mekanisme fisiologis, perubahan suasana hati, serta cara seseorang memahami dan memproses pengalaman emosionalnya.
Selain itu, menangis dapat membuat seseorang menyadari bahwa dirinya sedang kewalahan dan membutuhkan waktu untuk beristirahat atau mencari dukungan. Meski demikian, rasa lega setelah menangis juga dipengaruhi oleh situasi yang dihadapi dan respons orang-orang di sekitarnya.
Tidak Semua Orang
Anggapan bahwa menangis selalu membuat hati lebih tenang tidak sepenuhnya tepat. Karena dalam jurnal Motivation and Emotion tahun 2015 menemukan bahwa suasana hati partisipan yang menangis setelah menonton film emosional justru memburuk sesaat setelah menonton.
Namun, suasana hati mereka berangsur pulih pada pengukuran berikutnya. Setelah 90 menit, kelompok yang menangis bahkan melaporkan suasana hati yang lebih baik dibandingkan sebelum menonton film.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa manfaat emosional dari menangis mungkin membutuhkan waktu untuk dirasakan. Karena itu, seseorang tidak perlu memaksakan diri agar langsung merasa lega setelah mengeluarkan air mata.
Bukan Berarti Lemah
Dalam kehidupan sehari-hari, menangis terkadang dianggap sebagai tanda kelemahan atau ketidakmampuan menghadapi masalah. Padahal, tangisan merupakan salah satu respon emosional manusia yang wajar.
Memberi ruang bagi diri sendiri untuk menangis dapat menjadi salah satu cara menghadapi emosi, selama tidak dijadikan satu-satunya strategi untuk mengatasi tekanan. Setelah menangis, seseorang dapat mencoba beristirahat, mengatur napas, menuliskan perasaannya, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.
Jika stres terus berlangsung, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai kesedihan berkepanjangan, mencari bantuan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Oleh karena itu, tidak perlu merasa bersalah ketika menangis, tetapi jangan pula mengandalkan tangisan sebagai satu-satunya cara untuk merasa lebih baik.
Mengenali pemicu stres, memenuhi kebutuhan istirahat, menjaga hubungan sosial, dan mencari bantuan ketika diperlukan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mental.