Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Gen Z dan Alas Kaki: Ketika Hiasan Es Teh Cekek Jadi Media Ekspresi Diri

Kehadiran aksesori dengan sentuhan personal dan lokal memperlihatkan fenomena alas kaki berkembang menjadi bagian dari personalisasi.

Gerai Crocs di Grand Indonesia, Jakarta.
Gerai Crocs di Grand Indonesia, Jakarta. (Owrite.id/Syifa Fauziah)

Tren alas kaki di kalangan generasi Z semakin berkembang. Sepatu dan sandal kini tidak hanya dipilih berdasarkan kenyamanan atau model yang sedang populer, tetapi juga harus mampu merepresentasikan karakter dan gaya personal pengguna.

Keinginan untuk tampil autentik membuat gen Z cenderung lebih selektif dalam mengikuti tren fesyen. Mereka tidak sekadar menggunakan produk yang sedang ramai diperbincangkan, tetapi mempertimbangkan kesesuaian dengan identitas dan preferensi masing-masing.

Senior General Manager Brand Marketing, Media & Consumer Engagement MAP Active Martina Harianda Mutis mengatakan personalisasi masih menjadi salah satu faktor kuat yang memengaruhi pilihan alas kaki di kalangan anak muda.

Iklan

Menurutnya, gen Z ingin memiliki gaya yang terasa dekat dengan diri sendiri. Karena itu, tren tidak selalu diikuti begitu saja tanpa mempertimbangkan nilai dan kecocokan.

“Personalisasi masih sangat kuat di kalangan gen Z. Mereka ingin menunjukkan gaya yang autentik dan benar-benar mencerminkan diri sendiri. Jadi, bukan hanya karena ada tren lalu mereka ikut, tetapi mereka juga mempertimbangkan apakah tren tersebut punya makna dan sesuai dengan karakter mereka,”

ujar Martina kepada Owrite.id, Minggu, 1 November 2026.

Fleksibel

Selain personalisasi, gaya athleisure juga masih menjadi pilihan. Perpaduan antara unsur olahraga dan gaya kasual ini memungkinkan sepatu digunakan dalam berbagai aktivitas, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun kegiatan yang terinspirasi dari olahraga.

Tren tersebut turut mendorong minat terhadap alas kaki dengan desain sporty yang tetap memiliki sentuhan kasual. Model seperti ini dinilai menawarkan fleksibilitas bagi anak muda yang ingin tampil santai tanpa meninggalkan kesan aktif.

Martina berujar gaya athleisure masih memiliki tempat tersendiri dalam preferensi Gen Z. Perpaduan dua karakter tersebut membuat alas kaki tidak hanya berorientasi pada fungsi olahraga, tetapi juga penampilan.

“Tren athleisure juga masih menjadi kesukaan mereka. Gaya ini berada di antara lifestyle dan sport-inspired, sehingga bisa digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari tanpa meninggalkan unsur sporty,”

jelas dia.

Di sisi lain, tren sandal juga mulai mendapat perhatian, terutama di kalangan perempuan. Model dengan detail tertentu, seperti buckle atau gesper, menjadi salah satu pilihan untuk menghadirkan tampilan yang lebih menonjol.

Ketertarikan terhadap sandal juga berkaitan dengan karakter cuaca di Indonesia. Alas kaki jenis ini dinilai relevan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, terlebih ketika memasuki musim hujan.

“Untuk perempuan, beberapa model sandal juga sedang cukup diminati. Apalagi di negara seperti Indonesia, sandal menjadi pilihan yang relevan. Model dengan detail buckle juga bisa memberikan tampilan yang lebih statement,”

tutur dia.

Gaya Diri

Kecenderungan gen Z terhadap personalisasi juga terlihat dari cara mereka memadukan aksesori pada alas kaki. Produk fesyen tidak lagi hanya dipandang berdasarkan fungsi, tetapi juga menjadi medium untuk menunjukkan identitas dan minat pemakai.

Fenomena tersebut turut terlihat pada produk Crocs yang memungkinkan konsumen menghias sepatu, sandal, hingga tas menggunakan aksesori Jibbitz. Beragam pilihan charm, mulai dari karakter animasi, hobi, hingga benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, memberi ruang bagi konsumen untuk menciptakan tampilan sesuai selera.

Bahkan, Crocs menghadirkan Indonesia Exclusive Jibbitz Charms Collection yang mengangkat benda-benda khas keseharian masyarakat, seperti teko blirik, rantang susun, tumpeng, hingga es teh cekek. Benda-benda tersebut diterjemahkan menjadi aksesori yang dapat dipadukan dengan produk alas kaki.

Koleksi tersebut diperkenalkan bersamaan dengan pembaruan konsep gerai Crocs di Grand Indonesia. Gerai yang telah beroperasi sejak 2021 itu kini menghadirkan ruang personalisasi yang memungkinkan pengunjung memilih dan memadukan Jibbitz sesuai preferensi masing-masing.

Kehadiran aksesori dengan sentuhan personal dan lokal memperlihatkan fenomena alas kaki berkembang menjadi bagian dari ekspresi diri.

“Bagi gen Z, pilihan sepatu atau sandal bukan hanya soal mengikuti model yang sedang populer, melainkan bagaimana produk tersebut dapat mencerminkan karakter dan gaya hidup mereka,”

jelas dia.

Iklan