Herri Pras Didatangi 20 Orang, Mengaku Dikeroyok hingga Lapor ke Polres Bogor
Video Herri Pras didatangi sejumlah pria viral di media sosial. Ia mengaku menjadi korban pengeroyokan hingga melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bogor.
Kreator konten sekaligus praktisi bela diri Herri Pras tengah menjadi sorotan setelah video sejumlah pria mendatangi kediamannya viral di media sosial. Peristiwa yang terjadi pada Senin, 2 November 2026 tersebut berujung pada laporan dugaan pengeroyokan ke Polres Bogor.
Video mengenai kedatangan sejumlah pria itu diunggah oleh Hanny Kristianto melalui akun Instagram pribadinya. Dalam rekaman tersebut, beberapa orang terlihat mendatangi Herri untuk mempertanyakan pernyataannya di media sosial.
Kedatangan mereka diduga kuat berkaitan dengan polemik tantangan duel yang sebelumnya menyeret nama Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH). Setelah kejadian, Herri kemudian memberikan klarifikasi melalui video yang diunggah melalui akun Instagram @yusufrustamaofficial.
Iklan
Pengeroyok Gunakan Plat Dinas
Gambar ilustrasi aksi kekerasan/penganiayaan (gambar dibuat oleh AI)
Herri mengaku sekelompok orang datang ke rumahnya sekitar pukul 08.00 WIB menggunakan kendaraan berplat merah. Ia mengaku awalnya mereka berteriak memanggil dirinya dari luar rumah, dan ketika keluar untuk menemui mereka, sejumlah orang justru menantangnya berduel.
Herri mengaku tidak langsung menerima tantangan tersebut. Ia meminta pihak yang menantangnya terlebih dahulu membuktikan kesalahan pernyataannya melalui argumentasi dan pembuktian yang jelas. Namun situasi disebut semakin memanas, Herri menuding salah seorang pria menendang bagian perutnya hingga ia terjatuh.
Setelah bangkit, ia mengaku kembali mendapat pukulan dari seorang pria berinisial YC di bagian ulu hati dan perut.
Saya masuk ke rumah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Saya mengunci pintu dan menelepon pihak kepolisian,”
kata Herri dikutip dari Instagram @yusufrustamaofficial, Selasa, 3 November 2026.
Setelah itu, Ia mengatakan langsung menghubungi 110, dan polisi datang sekitar 20 menit setelah dihubungi. Herri kemudian dievakuasi ke Polsek Gunung Putri.
Mediasi Berakhir Buntu
Content Creator Herri Prass. (Sumber: YT Herri Prass)
Setelah berada di Polsek Gunung Putri, pihak Herri mengaku sempat mengupayakan penyelesaian melalui mediasi dengan orang-orang yang datang ke kediamannya.
Namun, upaya tersebut tidak mencapai kesepakatan. Kuasa hukum Herri menilai kliennya justru diberikan sejumlah persyaratan meski dalam perkara tersebut diposisikan sebagai korban dugaan kekerasan.
Kuasa hukum juga menyebut beberapa orang yang diduga terlibat, termasuk tiga orang yang dianggap sebagai pelaku utama, sudah tidak berada di lokasi ketika mediasi berlangsung. Menurut keterangan kuasa hukum, sebagian orang yang datang mengaku berasal dari Bandung BFC dan menyatakan mewakili Ustaz Adi Hidayat.
Pihak Herri mengaku memiliki saksi yang mendengar pernyataan tersebut ketika berada di Polsek Gunung Putri. Karena mediasi tidak membuahkan hasil, tim kuasa hukum akhirnya memutuskan membawa perkara tersebut ke Polres Bogor.
Mereka menyebut jumlah orang yang datang ke rumah Herri diperkirakan mencapai 20 orang dan diduga berasal dari Bandung.
Kuasa hukum mengatakan laporan tersebut berkaitan dengan dugaan kekerasan secara bersama-sama dan penganiayaan ringan. Setelah membuat laporan hingga sekitar pukul 08.00 WIB, Herri juga menjalani pemeriksaan medis untuk keperluan visum et repertum.
Tim kuasa hukum berharap pihak-pihak yang diduga terlibat dapat memberikan klarifikasi dan bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
Herri Singgung Polemik UAS dan UAH
Penceramah Ustaz Abdul Somad (UAS). (Foto: IG Ustaz Abdul Somad).
Di tengah laporan dugaan pengeroyokan tersebut, Herri kembali menyinggung polemik yang sebelumnya melibatkan UAS dan UAH. Ia membantah narasi yang menyebut dirinya sejak awal menantang orang lain untuk berduel sampai salah satu pihak meninggal dunia.
Herri justru mengklaim tantangan duel lebih dahulu datang dari pihak lain sejak awal 2026. Ia mengaku baru merespons tantangan tersebut dengan meminta pembuktian ilmiah atas pernyataan-pernyataannya.
Ia juga kembali menyinggung pernyataan Ustaz Adi Hidayat yang menurutnya pernah menyatakan kesediaan mendanai dan memediasi penelitian terhadap Habib Umar selama satu bulan.
Herri mengaku telah menyampaikan kesediaan timnya untuk melakukan penelitian tersebut. Namun, ia menyebut belum memperoleh jawaban untuk merealisasikan rencana itu.
Saya sebagai warga negara Indonesia, saya patuh kepada hukum. Saya patuh kepada undang-undang negara. Apabila saya salah, saya siap diproses hukum. Cuma buktikan kalau saya salah,”
ujar Herri.
Ia menegaskan keberatan terhadap pernyataannya seharusnya disampaikan melalui pembuktian dan argumentasi ilmiah, bukan kekerasan.