Petani Singkong Bantah Harga Komoditas Naik karena Prabowo Setop Impor, Ungkap Penyebab Sebenarnya
Petani singkong viral bantah harga naik jadi Rp3.000 karena Prabowo stop impor. Ia menyebut kelangkaan pasokan dan petani beralih tanam jadi penyebabnya.
Pemerintah klaim harga singkong naik dari Rp700 menjadi Rp3.000 per kilogram, hal ini disebabkan karena kebijakan Presiden Prabowo yang menghentikan impor.
Namun, seorang petani justru memberikan penjelasan berbeda dan menyebut ada faktor lain yang membuat harga komoditas tersebut melonjak.
Petani dengan akun Instagram @iluhpujiati itu menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kebijakan penghentian impor singkong memang berdampak pada kenaikan harga di tingkat petani.
Iklan
Ia mengaku, berterima kasih karena pemerintah akhirnya menghentikan impor singkong. Namun menurutnya, kenaikan harga yang sekarang terjadi tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan kebijakan tersebut.
Izin Bapak Presiden, impornya disetop tahun ini, padahal masalah kita udah dari 2025. Kita berterima kasih akhirnya setop impor singkong. Cuman kalau dari tujuh ratus menjadi tiga ribu itu nggak karena efek stop impornya,”
ujarnya dikutip dari Instagram @iluhpujiati, Selasa, 3 November 2026.
Petani tersebut menjelaskan, kenaikan harga justru dipengaruhi semakin sedikitnya orang yang menanam singkong, apalagi banyak petani beralih menanam komoditas lain seperti kelapa sawit, padi, dan jagung setelah harga singkong sebelumnya terus merosot.
Efeknya karena udah langka yang tanam singkong pada kabur ke sawit, ke padi, ke jagung,”
jelasnya.
Selain berkurangnya petani yang menanam singkong, musim kemarau berkepanjangan juga disebut ikut mempengaruhi ketersediaan pasokan. Akibatnya, pabrik dan para pembeli justru saling berebut mendapatkan singkong yang jumlahnya semakin terbatas.
Ia pun menilai, dampak penghentian impor terhadap keputusan petani untuk kembali menanam singkong belum bisa langsung dirasakan.
Menurutnya, petani membutuhkan waktu untuk kembali memproduksi singkong dan belum tentu semua petani tertarik untuk kembali menanam singkong karena sebelumnya sudah beralih ke komoditas lain.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa penghentian impor singkong atas arahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak positif bagi petani dalam negeri.
Dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut harga singkong yang sebelumnya sempat anjlok hingga Rp700 per kilogram kini mencapai sekitar Rp3.000 per kilogram.
Bahkan, saat berdialog dengan petani di Pringsewu, Lampung, Minggu, 25 Oktober 2026, Amran menerima laporan harga singkong di tingkat petani mencapai Rp3.050 per kilogram.
Ada informasi menarik, Pak Menko. Harga ubi singkong, setelah kita tutup impor, terima kasih Pak Mendag, harga di lapangan kemarin mencapai Rp3.000 per kilogram. Ini disambut gembira oleh petani singkong,”
ujar Amran dikutip dari laman Kempar, Selasa, 3 November 2026.
Pemerintah juga tengah menyiapkan peluang ekspor singkong dalam bentuk tepung mocaf atau modified cassava flour untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berharap petani semakin tertarik meningkatkan produksi singkong dan industri pengolahan dalam negeri bisa berkembang.
Namun, penjelasan petani yang viral itu memperlihatkan persoalan lain yang perlu diperhatikan, yakni keberlanjutan produksi dan minat petani untuk kembali menanam singkong setelah mengalami kerugian akibat harga jual yang rendah.
Netizen Singgung Harga Pangan
Video tanggapan petani singkong tersebut turut mengundang beragam komentar netizen. Sebagian netizen menyoroti faktor musim kemarau dan berkurangnya pasokan yang dinilai ikut mempengaruhi kenaikan harga komoditas pertanian.
Dikira petani mudah dikibulin kali, padahal kalau musim kemarau panjang harga pertanian emang cenderung naik,”
komentar @fiki6569
Ada pula yang membandingkan kenaikan harga singkong dengan komoditas lain yang mengalami perubahan harga akibat meningkatnya permintaan.
Singkongnya langka, kayak timun di pasar sebelum ada MBG Rp6 ribu sekilo, setelah ada MBG Rp22 ribu sekilonya,”
tulis @abaya_zahro
Sementara itu, akun @winter.ssskkkyy mengungkapkan kondisi di daerahnya yang mulai banyak ditinggalkan petani sayuran karena beralih ke perkebunan sawit.
Di sini semua jadi petani sawit. Sayuran jadi mahal,”
tulisnya.
Komentar lain juga menyinggung kemungkinan informasi yang diterima pemerintah belum sepenuhnya menggambarkan kondisi petani di lapangan.
Beliau hanya menerima laporan manis, Mbak. Makanya kita pada berisik,”
gurau @aryasutrisna.
Tak hanya harga singkong, kenaikan harga tepung tapioka juga menjadi perhatian warganet.
Efeknya tepung tapioka melambung tinggi harganya, barangnya nggak banyak,”