Aksi Kamisan yang selama ini identik dengan payung hitam di depan Istana Merdeka, Jakarta, kini turut digelar oleh diaspora Indonesia di Tokyo, Jepang.
Gerakan tersebut berlangsung pada 17 Oktober 2026 dan dilanjutkan dengan Aksi Kamisan Tokyo kedua pada 31 Oktober 2026 di Yoyogi Park.
Mengutip unggahan akun Instagram @aksikamisan_tokyo, aksi kedua mengangkat tema “Indonesia (Masih) Dibakar”.
Iklan
Tema tersebut menjadi sorotan karena membawa pesan tentang berbagai persoalan yang masih menjadi perhatian masyarakat Indonesia.
Kehadiran Aksi Kamisan di Tokyo memperlihatkan bahwa perjuangan menyuarakan keadilan dan kepedulian terhadap kondisi tanah air tidak terbatas oleh jarak geografis.
Berawal dari Pelanggaran HAM
Aksi Kamisan pertama kali digelar pada Kamis, 18 Januari 2007, di depan Istana Merdeka, Jakarta. Gerakan ini diprakarsai oleh keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK).
Beberapa tokoh yang menginisiasinya adalah Maria Catarina Sumarsih, ibu dari Wawan yang menjadi korban Tragedi Semanggi I; Suciwati, istri aktivis HAM Munir Said Thalib; serta Bedjo Untung, perwakilan keluarga korban peristiwa 1965.
Mereka memperjuangkan penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM, termasuk Tragedi 1965, Trisakti, Semanggi I dan II, penculikan aktivis 1997–1998, serta pembunuhan Munir.
Sebelum dikenal sebagai Aksi Kamisan, gerakan ini disebut Aksi Diam. Para keluarga korban memilih berdiri di depan Istana sebagai bentuk protes damai sekaligus pengingat kepada pemerintah agar tidak melupakan persoalan HAM yang belum terselesaikan.
Dari laman Instagram @kementrian_ham, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto Sipin, menjelaskan sejarah Aksi Kamisan juga berkaitan dengan perjuangan Mothers of Plaza de Mayo atau Madres de Plaza de Mayo di Argentina.
Gerakan tersebut dimulai pada 30 April 1977 ketika para ibu berkumpul di Plaza de Mayo, Buenos Aires, untuk menuntut kejelasan nasib anak-anak mereka yang hilang akibat praktik penghilangan paksa selama kediktatoran militer Argentina.
Mereka menggunakan aksi rutin di ruang publik untuk menjaga ingatan masyarakat terhadap para korban.
Semangat perjuangan tersebut turut menginspirasi gerakan Aksi Kamisan di Indonesia. Keduanya memiliki kesamaan dalam memperjuangkan keadilan melalui aksi damai yang dilakukan secara konsisten.
Pakaian dan Payung Hitam
Aksi Kamisan memiliki ciri khas berupa pakaian serba hitam dan payung hitam yang dibawa para peserta.
Warna hitam menjadi simbol duka atas berbagai pelanggaran HAM yang dialami korban. Sementara itu, payung hitam menjadi lambang perjuangan dan perlindungan terhadap hak-hak kemanusiaan.
Pemilihan hari Kamis juga menjadi bagian dari konsistensi gerakan. Setiap pekan, para peserta kembali berkumpul untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa persoalan HAM belum selesai.
Diaspora Ikut Menggelar
Perjalanan Aksi Kamisan menunjukkan bahwa gerakan ini tidak hanya berkembang di berbagai daerah Indonesia, tetapi juga menjadi ruang solidaritas bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Salah satunya melalui Aksi Kamisan Tokyo yang digelar pada 17 Oktober 2026. Kegiatan tersebut kemudian berlanjut melalui aksi kedua pada 31 Oktober 2026 di Yoyogi Park, Jepang.
Berdasarkan unggahan akun Instagram @aksikamisan_tokyo, aksi kedua mengusung tema “Indonesia (Masih) Dibakar”.
Pemilihan tema tersebut menjadi penanda bahwa persoalan yang disuarakan tidak hanya berkaitan dengan catatan pelanggaran HAM masa lalu, tetapi juga berbagai persoalan Indonesia yang masih berlangsung.
Bagi diaspora, berada jauh dari tanah air tidak berarti harus melepaskan perhatian terhadap kondisi sosial dan politik Indonesia.
Ruang publik di negara tempat mereka tinggal juga dapat menjadi tempat untuk menyampaikan aspirasi dan menunjukkan solidaritas.