Merajut kini tidak lagi identik dengan kegiatan orang lanjut usia. Aktivitas mengolah benang menjadi pakaian, tas, boneka, hingga aksesori ini justru kembali menarik perhatian anak muda.
Berbagai kreasi rajutan bahkan semakin populer sebagai produk fesyen dan kerajinan tangan yang memiliki nilai jual.
Di balik tren tersebut, merajut ternyata bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan gerakan tangan berulang ini juga dikaitkan dengan pengelolaan stres, kesehatan mental, hingga peningkatan rasa percaya diri.
Iklan
Mengurangi Kecemasan
Dilansir dari laman Semel Healthy Campus Initiatives Center, merajut membutuhkan perhatian terhadap pola, hitungan, dan gerakan tangan.
Proses tersebut dapat membantu seseorang mengalihkan perhatian sementara dari pikiran yang memicu stres.
Gerakan merajut yang berulang juga dapat memberikan efek menenangkan, terutama ketika dilakukan dalam suasana nyaman.
Aktivitas ini memungkinkan seseorang menikmati proses tanpa harus terburu-buru menyelesaikan hasilnya.
Membuat rajutan membutuhkan ketelitian dalam mengikuti pola dan menghitung jumlah tusukan.
Kesalahan kecil dapat memengaruhi bentuk akhir produk sehingga seseorang perlu menjaga konsentrasi selama mengerjakannya.
Kebiasaan tersebut dapat menjadi latihan untuk mempertahankan perhatian dan melatih koordinasi antara mata dan tangan.
Merajut juga mengajak seseorang menyelesaikan pekerjaan secara bertahap, mulai dari pola sederhana hingga bentuk yang lebih rumit.
Memberikan Rasa Puas
Salah satu hal menarik dari merajut adalah hasilnya dapat dilihat secara langsung. Benang yang awalnya hanya berupa gulungan perlahan berubah menjadi barang yang bisa digunakan, seperti tas, syal, pakaian, atau boneka.
Proses menyelesaikan sebuah karya dapat memberikan rasa puas dan pencapaian pribadi. Terlebih, seseorang perlu melewati beberapa tahapan untuk menghasilkan rajutan yang sesuai dengan keinginannya.
Penelitian dari British Journal of Occupational Therapy, melibatkan 3.545 perajut dari berbagai negara.
Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas merajut berkaitan dengan perasaan lebih tenang, bahagia, serta peningkatan fungsi kognitif yang dilaporkan responden.
Peluang Interaksi Sosial
Merajut juga bisa menjadi aktivitas sosial, bukan hanya kegiatan yang dilakukan sendirian di rumah.
Saat ini, komunitas merajut dapat ditemukan melalui media sosial maupun pertemuan langsung. Anggotanya bisa saling bertukar pola, berbagi teknik, memberikan inspirasi, hingga membuat proyek bersama.
Merajut secara berkelompok berkaitan dengan peningkatan kebahagiaan, kontak sosial, dan komunikasi antarsesama.
Dengan demikian, hobi ini berpotensi menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan sosial melalui kesamaan minat.
Pendukung Kesehatan Mental
Manfaat kerajinan tangan terhadap kesehatan mental juga dibahas dalam penelitian yang lebih baru.
Sebuah studi ilmiah berjudul Healing Stitches: A Scoping Review on the Impact of Needlecraft on Mental Health and Well-Being yang diterbitkan dalam jurnal Issues in Mental Health Nursing tahun 2024, meninjau 25 penelitian mengenai aktivitas kerajinan berbasis benang, termasuk merajut, menyulam, dan menjahit.
Hasil tinjauan tersebut menemukan empat tema manfaat, yaitu kesejahteraan mental, hubungan sosial, rasa memiliki tujuan dan pencapaian, serta pembentukan identitas diri.
Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas kerajinan tangan berpotensi mendukung kesejahteraan psikologis.
Meski demikian, merajut bukan pengganti pengobatan atau terapi profesional bagi seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental.