Pasalnya, tubuh membutuhkan penurunan suhu inti untuk membantu memulai dan mempertahankan kualitas tidur.
Paparan suhu panas pada malam hari berkaitan dengan berkurangnya durasi tidur dan meningkatnya gangguan istirahat.
Proses Alami Tubuh
Sebelum tidur, suhu inti tubuh manusia secara alami mengalami penurunan. Proses ini merupakan bagian dari ritme sirkadian yang membantu mengatur waktu tidur dan bangun.
Ketika suhu kamar terlalu panas, tubuh akan lebih sulit melepaskan panas ke lingkungan. Akibatnya, proses penurunan suhu inti tubuh dapat terganggu sehingga seseorang lebih sulit tertidur atau mempertahankan tidurnya.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan rasa tidak nyaman, keringat berlebih, dan frekuensi terbangun pada malam hari.
Pengaruh suhu panas terhadap kualitas tidur juga pernah dibuktikan lewat penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment tahun 2023 berjudul “Nighttime Ambient Temperature and Sleep in Community-Dwelling Older Adults”.
Penelitian tersebut mengamati hubungan suhu kamar pada malam hari dengan kualitas tidur kelompok lansia menggunakan alat pemantau tidur dan sensor lingkungan.
Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas tidur paling baik ditemukan ketika suhu lingkungan kamar berada pada kisaran 20–25 derajat Celsius. Ketika suhu meningkat dari 25 menjadi 30 derajat Celsius, efisiensi tidur mengalami penurunan sekitar 5–10 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa suhu kamar yang terlalu panas dapat membuat tidur menjadi kurang optimal, meskipun seseorang tetap menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur.
Durasi Tidur Berkurang
Dampak suhu panas tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan, tetapi juga jumlah waktu tidur seseorang.
Sebuah penelitian dalam jurnal Sleep tahun 2025 menganalisis data dari 317.758 pengguna pelacak tidur di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan bahwa suhu malam yang tinggi berkaitan dengan peningkatan sekitar 40 persen pada kemungkinan mengalami durasi tidur pendek.
Penelitian tersebut membandingkan paparan suhu malam pada persentil ke-99, yaitu 27,3 derajat Celsius, dengan persentil ke-50 sebesar 12,2 derajat Celsius.
Dampak kehilangan waktu tidur akibat suhu panas juga ditemukan lebih besar pada kelompok lansia dan masyarakat yang tinggal di negara dengan pendapatan domestik bruto per kapita lebih rendah.
Bagaimana Jika Terus Terganggu?
Tidur yang tidak berkualitas dapat memengaruhi kondisi tubuh ketika menjalani aktivitas pada siang hari. Seseorang mungkin merasa lebih mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan energi.
Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus, kebutuhan tubuh untuk memulihkan kondisi fisik dan menjaga fungsi kognitif juga dapat terganggu.
Dampak tersebut cenderung lebih kuat pada wilayah yang lebih panas, saat musim terpanas, serta kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap paparan suhu tinggi.
Cara Mengurangi Dampaknya
Ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kenyamanan tubuh ketika tidur, terutama saat suhu udara pada malam hari terasa panas.
- Gunakan pakaian tidur yang ringan. Pilih bahan yang menyerap keringat dan tidak terlalu tebal agar panas tubuh lebih mudah dilepaskan.
- Atur sirkulasi udara kamar. Buka jendela jika kondisi lingkungan memungkinkan atau gunakan kipas angin untuk membantu pergerakan udara.
- Gunakan seprai berbahan nyaman. Pilih bahan yang tidak terlalu tebal dan tidak mudah menahan panas.
- Mandi sebelum tidur. Gunakan air dengan suhu nyaman untuk membantu tubuh merasa lebih segar sebelum beristirahat.
- Jaga suhu kamar tetap nyaman. Jika menggunakan pendingin ruangan, sesuaikan suhunya dengan kondisi tubuh dan hindari pengaturan yang membuat terlalu dingin.
Suhu kamar yang nyaman memang dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, angka 20–25 derajat Celsius tidak harus dijadikan patokan mutlak bagi semua orang.
Tidur berkualitas bukan hanya ditentukan oleh lamanya waktu beristirahat, tetapi juga kondisi lingkungan yang mendukung.