Tidak semua rempah memiliki harga yang terjangkau. Salah satunya saffron, rempah berwarna merah yang dikenal sebagai salah satu rempah termahal di dunia.
Harganya bahkan bisa mencapai ribuan dolar Amerika Serikat per kilogram untuk kualitas premium.
Saffron berasal dari bunga Crocus sativus yang banyak dibudidayakan di Iran, India, Afghanistan, hingga Spanyol.
Iklan
Rempah ini dijuluki red gold atau emas merah karena nilai ekonominya yang tinggi serta proses produksinya yang membutuhkan ketelitian.
Selain digunakan sebagai bumbu masakan dan pewarna alami, saffron juga dikenal memiliki sejumlah senyawa bioaktif. Lantas, apa yang membuat rempah ini begitu mahal?
Bagian Kecil Bunga
Dilansir dari laman Healthline, 20 Oktober 2026, saffron diperoleh dari tiga kepala putik (stigma) berwarna merah pada setiap bunga Crocus sativus.
Bagian inilah yang dipetik, dipisahkan, kemudian dikeringkan hingga menjadi benang-benang saffron.
Setelah diolah, saffron dapat digunakan sebagai bumbu masakan, pemberi aroma, serta pewarna alami. Ketika dicampurkan ke dalam air atau makanan, benang merahnya menghasilkan warna kuning keemasan yang khas.
Puluhan Ribu Bunga
Salah satu alasan saffron memiliki harga tinggi adalah proses produksinya yang cukup rumit. Dibutuhkan sekitar 70.000–200.000 bunga untuk menghasilkan satu kilogram saffron kering.
Pemanenan juga harus dilakukan secara manual karena kepala putik berukuran sangat kecil dan mudah rusak. Proses pemisahan bagian bunga hingga pengeringan membutuhkan ketelitian agar kualitas saffron tetap terjaga.
Kondisi tersebut membuat produksi saffron membutuhkan banyak tenaga kerja. Tidak heran jika biaya pemanenan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga jualnya.
Saffron (Foto: Unsplash/Mohammad Amiri)
Produsen Saffron Terbesar
Meskipun dibudidayakan di berbagai negara, produksi saffron dunia masih didominasi Iran. Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO) (FAO) tahun 2025, Iran menyumbang lebih dari 90 persen pasokan saffron global.
Selain Iran, saffron juga diproduksi di India, Afghanistan, Yunani, Maroko, dan Spanyol. Kondisi iklim serta karakteristik tanah di wilayah tersebut mendukung pertumbuhan bunga Crocus sativus.
Mengandung Senyawa Bioaktif
Di balik penggunaannya sebagai rempah, saffron juga menarik perhatian dunia penelitian karena memiliki sejumlah senyawa bioaktif.
Di dalamnya terdapat tiga senyawa utama saffron, yaitu crocin, picrocrocin, dan safranal.
Crocin berperan menghasilkan warna khas saffron, picrocrocin memberikan cita rasa pahit, sedangkan safranal menghasilkan aroma khasnya. Sejumlah penelitian juga mengkaji potensi antioksidan dari senyawa tersebut.
Rentan Mengalami Pemalsuan
Harga saffron yang tinggi membuat rempah ini rentan mengalami pemalsuan. Beberapa bahan, seperti safflower, kunyit, hingga pewarna tambahan, dapat digunakan untuk menyerupai tampilan saffron asli.
FAO turut menjalin kerja sama dengan Mashhad University untuk mengembangkan metode pengujian keaslian saffron di Iran.
Oleh karena itu, konsumen perlu memperhatikan asal produk, kualitas, serta informasi penjual sebelum membeli saffron.